Aher Prihatin Kepala Daerah Terjerat Korupsi

Aher Prihatin Kepala Daerah Terjerat Korupsi

Aher Prihatin Kepala Daerah Terjerat Korupsi
Aher Prihatin Kepala Daerah Terjerat Korupsi

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengaku prihatin atas ditangkapnya kepala daerah di Jawa Barat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat kasus korupsi.

Aher menyatakan pihaknya  menyerahkan sepenuhnya persoalan tersebut kepada penegak hukum dan berharap kejadian kasus korupsi ini menjadi yang terakhir di Jawa Barat.

“Kita serahkan sepenuhnya kepada penegak hukum, saya prihatin dan berharap ini kejadian terakhir di Jawa Barat,” kata Aher kepada wartawan di Bandung, Jumat (13/04)

Aher mengaku sebelumnya dirinya  sempat bercita-cita agar di akhir masa

jabatannya sebagai gubenur tidak terjadi kasus korupsi di wilayah Jawa Barat namun hal tersebut sulit terealisasi setelah beberapa kepala daerah diperiksa KPK dan menjadi tersangka.

“Saya bercita-cita dan berharap tidak ada kasus korupsi sampai akhir masa jabatan. Ternyata ada dua kejadian kasus korupsi yaitu di Subang dan Bandung Barat,” ucapnya.

Hindari Praktek Korupsi

Menanggapi keterkaitan pada  proses pemilihan kepala daerah di 16 kota dan kabupaten di Jawa Barat termasuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat yang telah memasuki masa kampanye,  Ahmad Heryawan  meminta kepada seluruh pasangan calon kepala daerah termasuk pejabat yang saat ini masih menjabat sebagai kepala daerah tidak melakukan tindakan melanggar aturan yang masuk dalam kategori korupsi dalam proses pilkada ini.

“Saya mengimbau kepada masyarakat khususnya kepala daerah agar

meninggalkan dan tidak melakukan apapun yang termasuk kategori korupsi seperti tidak melakukan mark-up anggran, menerima gratifikasi dan praktek suap. Pokoknya semua tindakan keuangan yang menyimpang dan masuk ke dalam kategori korupsi wajib ditinggalkan,” tegas Aher.

Aher juga berpesan secara khusus kepada para calon pemimpin di Jawa Barat

agar selalu bekerja keras, karena jika awal pencalonan tidak melakukan korupsi maka sudah jadi pemimpin pun tidak akan melakukan tindakan korupsi.

“Jika awal pencalonan tidak korupsi, Insya Allah ketika jadi pemimpin di Jabar tidak akan melakukan korupsi,” kata Gubernur  kepada wartawan di Bandung

 

Sumber :

https://www.kiwibox.com/alistudio/blog/entry/147702911/sejarah-bahasa-indonesia/

2.304 Calon Mahasiswa Lolos SNMPTN UNPAD

2.304 Calon Mahasiswa Lolos SNMPTN UNPAD

2.304 Calon Mahasiswa Lolos SNMPTN UNPAD
2.304 Calon Mahasiswa Lolos SNMPTN UNPAD

BANDUNG – Pada tahun ini, sebanyak 2.304 orang diterima di Unpad melalui jalur SNMPTN. Para peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang memilih Universitas Padjadjaran dapat mengecek kelulusannya di laman http://pengumuman.unpad.ac.id/sarjana sejak Selasa sore (17/04). Peserta cukup mengisi nomor peserta dan tanggal lahir untuk mengecek kelulusannya.

“Semua yang lolos adalah yang menjadikan Unpad sebagai pilihan nomor 1 (satu),” ujar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unpad, Dr. Arry Bainus, M.A, Selasa petang (17/4).

Pada tahun ini Program Studi Teknik Informatika Unpad menjadi program studi yang memiliki keketatan tertinggi di Unpad atau yang ke-3 se-Indonesia untuk program studi kelompok saintek. Sementara itu, Program Studi Manajemen menjadi program studi yang memiliki keketatan tertinggi di Unpad untuk program studi kelompok soshum.

Selain itu, Unpad menjadi Universitas dengan peminat tertinggi (favorit) seluruh Indonesia, artinya ini sudah 7 tahun berturut turut dan semakin ketatnya persaingan.

Dr. Arry menghimbau kepada peserta SNMPTN yang lolos masuk Unpad, untuk melakukan registrasi sebagai mahasiswa baru Unpad dengan melengkapi biodata secara online di laman http://pengumuman.unpad.ac.id mulai tanggal 19 – 24 April 2018 pukul 17.00 WIB.

Selain itu, calon mahasiswa tersebut juga diharuskan melengkapi persyaratan registrasi sesuai yang tercantum pada Surat Edaran yang tercantum pada laman http://pengumuman.unpad.ac.id. Mereka juga diharuskan mengirimkan berkas fotokopi legalisir rapor pada tanggal 22-28 April 2018 cap pos ke PO BOX 45363 Cikeruh Jatinangor Sumedang.

Calon mahasiswa juga dapat mengetahui besaran uang kuliah mulai tanggal 1

Mei 2018 setelah melengkapi biodata online. Pembayarannya dapat dilakukan pada tanggal 1-8 Mei 2018 pada salah satu bank yang ditunjuk Unpad.

Selanjutnya calon mahasiswa baru akan melakukan registrasi administrasi di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung pada tanggal 8 Mei 2018, sesuai dengan jadwal yang diperoleh, setelah melengkapi biodata. Adapun kelengkapan berkas yang harus dibawa saat melakukan registrasi tersebut tercantum pada surat edaran. Untuk menghindari kemacetan saat melakukan registrasi, dihimbau kepada para calon mahasiswa untuk tidak membawa kendaraan pribadi.

Dr. Arry juga menyampaikan terkait persyaratan untuk menyerahkan Surat

Keterangan Sehat dan Bebas Buta Warna bahwa tesnya dapat dilakukan di rumah sakit pemerintah mana saja.

“Bagi yang memiliki kartu BPJS dapat diperlihatkan saat tes kesehatan ke pihak rumah sakit pemerintah,” lanjutnya.

Bagi calon mahasiswa yang telah memenuhi seluruh ketentuan sebagaimana

yang tercantum pada Surat Edaran, berhak mendapat Kartu Tanda Mahasiswa. Sementara itu, bagi calon mahasiswa yang tidak memenuhi salah satu ketentuan sampai dengan batas akhir waktu yang telah ditentukan, yang bersangkutan dinyatakan mengundurkan diri sebagai calon mahasiswa Unpad. (Jo)

 

Sumber :

https://www.kiwibox.com/alistudio/blog/entry/147702875/sejarah-bpupki/

Kemensos Dorong Bupati dan Wali Kota Jadi Pembina Taruna Siaga Bencana

Kemensos Dorong Bupati dan Wali Kota Jadi Pembina Taruna Siaga Bencana

Kemensos Dorong Bupati dan Wali Kota Jadi Pembina Taruna Siaga Bencana
Kemensos Dorong Bupati dan Wali Kota Jadi Pembina Taruna Siaga Bencana

SUMEDANG-Kementerian Sosial RI (Kemensos) mendorong Bupati dan Wali Kota menjadi Pembina Taruna Siaga Bencana (Tagana) agar dapat menjadi pelopor dan mengajak masyarakat peduli bencana.

Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat mencontohkan Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan sebagai pembina kehormatan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Wilayah dan anggota komisi VIII DPR RI Lilis Santika sebagai pembina kehormatan TAGANA.

Pembina TAGANA wilayah yang diemban Erwan sebagai kepala daerah bertugas untuk meningkatkan pengendalian TAGANA dan dukungan anggaran APBD. Sedangkan, Pembina kerhormatan yang disematkan kepada Lilis Santika Anggota Komisi VIII mempunyai wilayah tugas seluruh Indonesia.

“Pembina Kehormatan juga bertugas memberikan dukungan dan memperjuangkan anggaran penanggulangan bencana alam di DPR RI,” katanya kepada wartawan di Desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Kabupaten Sumedang, Minggu (4/11/2018).

Harry menjelaskan Tagana merupakan relawan sosial atau Tenaga Kesejahteraan Sosial berasal dari masyarakat yang memiliki kepedulian dan aktif dalam penanggulangan bencana bidang perlindungan sosial.

Sebagai Pembina Tagana, diharapkan para kepala daerah dapat menjadi yang pelopor dalam mempelopori kesiapsiagaan menghadapi bencana. “Lebih dari itu mereka diharapkan dapat menyiapkan anggaran untuk upaya mitigasi dan penanggulangan di daerahnya,” katanya.

Dirjen mengungkapkan peran Kementerian Sosial dalam penanggulangan bencana mencakup 3 hal besar.

Tiga hal itu yakni, Penguatan Kapasitas Sosial yang dilakukan pada tahap sebelum terjadi bencana, Asistensi Sosial, pada saat terjadi bencana, serta Pemulihan Sosial, pada tahap lanjut setelah bencana terjadi.

Pada Tahap Penguatan Kapasitas Sosial, Kemensos (1) membangun Sistem

Penanggulangan Bencana Bidang Perlindungan Sosial; (2) menyiapkan sarana dan prasana pendukung; (3) mengembangkan kapasitas SDM Tagana dan relawan sosial; (4) membentuk Kampung Siaga Bencana; (5) membentuk Forum Keserasian Sosial dan Kearifan Lokal; (6) sosialisasi, simulasi, dan gladi lapangan.

Adapun, Pada Tahap Asistensi Sosial, Kemensos melakukan: (1) mengerahkan

Tagana dan relawan sosial lainnya untuk melakukan evakuasi dan asesmen; (2) menyalurkan bantuan dan pemenuhan kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan) dan penanganan khusus bagi kelompok rentan; (3) melakukan advokasi sosial dan layanan dukungan psikososial.

“Selanjutnya pada Tahap Pemulihan Sosial, Kemensos melakukan: (1) pemberian

bantuan pemulihan berupa santunan sosial, jaminan hidup, dan bantuan stimulan lainnya; (2) advokasi dan layanan dukungan psikososial, dan; (3) melaksanakan rujukan,” pungkasnya. (Pun)

 

Baca Juga :

 

 

Pemerintah Jadikan Cimanintin Kampung Siaga Bencana ke 628

Pemerintah Jadikan Cimanintin Kampung Siaga Bencana ke 628

Pemerintah Jadikan Cimanintin Kampung Siaga Bencana ke 628
Pemerintah Jadikan Cimanintin Kampung Siaga Bencana ke 628

SUMEDANG-Pemerintah melalui Kementerian Sosial RI (Kemensos) telah menetapkan Desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Kabupaten Sumedang sebagai Kampung Siaga Bencana (KSB) ke 628. Tujuannya agar dusun tersebut terhindar dari jatuhnya korban di kemudian hari.

Tujuan KSB adalah untuk memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan risiko bencana, membentuk jejaring siaga bencana berbasis masyarakat dan memperkuat interaksi sosial anggota masyarakat, mengorganisasikan masyarakat terlatih untuk siaga bencana, serta mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang ada untuk penanggulangan bencana.

“Kesiagaan warga Dusun Cimanintin sangat dibutuhkan untuk meminimalisir korban. Dusun ini sangat rawan bencana. Dusun ini merupakan KSB ke-5 di Kabupaten Sumedang,” kata Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat kepada wartawan di Desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Kabupaten Sumedang, Minggu (4/11/2018).

Harry menyebutkan Kemensos menargetkan berdirinya 100 KSB di sejumlah kabupaten dan kota pada tahun ini. Ia juga berharap KSB di Kabupaten Sumedang terus bertambah keberadaannya. Hal ini sebagai bagian dari upaya pemerintah mendorong kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Harry menegaskan tinggal di lokasi rawan bencana bukan berarti hidup dalam kekhawatiran. Bukan pula menunggu bencana datang lalu baru menggerakkan dan melatih warga kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Tapi kita harus menyadari betul bahwa Indonesia adalah daerah dengan risiko rawan bencana sehingga harus selalu siaga. Dalam hal kewaspadaan ini, tentunya masyarakat yang lebih mengetahui kondisi wilayahnya masih-masing karena merupakan tempat tinggal mereka,” tegasnya

Harry berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang lebih memerhatikan lingkungan di wilayah mereka karena saat ini banyak fenomena bencana. Apalagi dalam sidang kabinet beberapa waktu lalu Presiden RI, Joko Widodo telah mengamanatkan agar seluruh elemen masyarakat lebih memperhatikan lingkungannya.

“Dalam sidang kabinet pak Presiden berpesan agar seluruh elemen untuk mewaspadai potensi bencana di daerah masing-masing,”ujarnya

KSB merupakan wadah penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang dijadikan kawasan atau tempat untuk program penanggulangan bencana. Untuk wilayah Sumedang keberadaan KSB berbasis Desa ditingkatkan menjadi berbasis kecamatan. Di kabupaten ini ada 26 kecamatan. Diharapan semua kecamatan bisa menjadi KSB.

“Jika sudah terbentuk semua maka bisa ditingkatkan menjadi Kabupaten Siaga Bencana,”terangnya.

Dirjen menjelaskan ada lima hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya

dengan KSB. Pertama, warga Kampung Siaga Bencana, harus memiliki mental yang tangguh. Kedua, solidaritas. Kekompakan harus menjadi ciri karakter warga Kampung Siaga Bencana sebab bencana tidak akan pernah bisa dihadapi secara perorangan.

“Di sini kekompakan menjadi hal yang penting, semua komponen masyarakat mulai dari remaja, sampai manula harus siaga bahu membahu,” ujarnya.

Adapun hal ketiga, kepekaan. Warga Kampung Siaga Bencana harus punya

kepekaan terutama dalam kemampuan mendeteksi awal dalam membaca gejala gejala alam sehingga lebih bisa mengantisipasi. Pengetahuan dan keterampilan menjadi hal keempat yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan KSB.

“Warga juga harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang bisa meminimalisir dampak bencana,” tambahnya.

Sedangkan hal kelima, lanjut Harry, warga kampung siaga bencana harus rajin

melakukan latihan kesiagaannya. Kemauan dan kesungguhan dalam memogram

latihan penting menjadi agenda warga.

“Selain kesiapan warga, peran aktif pemda sangat penting,” pungkasnya. (Pun)

 

Sumber :

https://blog.dcc.ac.id/nama-latin-tumbuhan-paku/

Relokasi Warga Cimanintin, Kemensos Salurkan Bantuan Rp 1,6 Miliar

Relokasi Warga Cimanintin, Kemensos Salurkan Bantuan Rp 1,6 Miliar

Relokasi Warga Cimanintin, Kemensos Salurkan Bantuan Rp 1,6 Miliar
Relokasi Warga Cimanintin, Kemensos Salurkan Bantuan Rp 1,6 Miliar

 

SUMEDANG-Kementerian Sosial (Kemensos) menyerahkan bantuan sebesar Rp 1,6 miliar kepada korban tanah bergerak di desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Kabupaten Sumedang.

Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat mengatakan bantuan ini terdiri dari bantuan stimulan pembangunan rumah sebesar 1,575 miliar rupiah dan bantuan lumbung sosial Kampung Siaga Bencana (KSB) sebesar 69,57 juta rupiah dan motor dapur umum lapangan.

“Bantuan stimulan itu diberikan kepada 63 kepala keluarga masing masing 25

juta rupiah. Disamping itu kita juga siapkan bantuan untuk KSB,” kata Harry Hikmat kepada wartawan di Desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Kabupaten Sumedang, Minggu (4/11/2018).

Harry mengungkapkan tingginya intensitas hujan di Jawa Barat beberapa waktu

lalu mengakibatkan bencana alam di di beberapa titik. Salah satunya pergerakan tanah di Dusun Cimanintin Blok Babakan Sawah, Desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Sumedang.

“Ini akibat curah hujan yang tinggi secara terus-menerus, pergerakan tanah ini telah merusak rumah warga sekitar 63 KK,” ungkapnya

Dia menambahkan area terdampak pergerakan tanah di dusun ini mencapai 4

hektar. Untuk itu, warga yang berada di area tersebut dipindahkan ke tempat yang lebih aman atau direlokasi.

“Mereka yang terkena dampak telah direlokasi ke tempat yang lebih aman dengan bantuan pemerintah setempat dan Kemensos RI,” pungkasnya (Pun)

 

 

Sumber :

https://blog.dcc.ac.id/struktur-kulit-sebagai-organ-ekskresi/

Teori Pembentukan Tata Surya

Teori Pembentukan Tata Surya

Teori Pembentukan Tata Surya
Teori Pembentukan Tata Surya

Sejarah Awal Teori Pembentukan Tata Surya

Keingin-tahuan manusia tentang bagaimana Tata Surya terbentuk, bagaimana objek-objek didalamnya bergerak dan berinteraksi serta bagaimana gaya yang bekerja mengatur semua gerakan tersebut, telah mencuat, jauh sebelum Masehi. Berbagai penelitian, pengamatan dan perhitungan telah dilakukan untuk mengetahui semua rahasia dibalik Tata Surya.

Pengamatan terhadap tata surya, pertama kali dilakukan oleh bangsa China dan Asia Tengah, terutama berkaitan dengan pengaruhnya terhadap navigasi dan pertanian. Para pengamat Yunani menemukan bahwa selain objek-objek yang terlihat tetap di langit, tampak juga objek-objek yang mengembara dan disebut sebagai planet.

Orang-orang Yunani saat itu menyadari bahwa Matahari, Bumi, dan Planet merupakan bagian dari sistem yang berbeda. Awalnya mereka menduga bahwa Bumi dan Matahari berbentuk pipih, tapi Phytagoras (572-492 BC) menyangkal dan menyatakan bahwa semua benda langit berbentuk bola (bundar).

Sampai dengan tahun 1960, perkembangan teori pembentukan Tata Surya bisa dibagi dalam dua kelompok besar yakni masa sebelum Newton dan masa sesudah Newton.

Permulaan Perhitungan Ilmiah

Upaya untukmemenuhi keingin-tahuan manusia tentang alam semesta ini, untuk pertama kalinya diwujudkan oleh Aristachrus dari Samos (310-230 BC) dengan adanya upaya untuk menghitung sudut antara bumi, bulan dan matahari secara ilmiah. Selain itu, ia juga mencoba mencari perbandingan jarak dari Bumi-Matahari, dan Bumi-Bulan.

Aristachrus dikenal sebagai orang pertama yang menyimpulkan bahwa Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan berbentuk lingkaran dan ini menjadi titik awal teori Heliosentrik. Jadi sebenarnya teori heliosentrik bukan teori yang baru muncul di masa Copernicus. Namun jauh sebelum itu, Aristrachrus sudah meletakkan dasar bagi teori heliosentris tersebut.

Pada era AlexandriaEratoshenes (276-195 BC) dari Yunani berhasil menemukan cara mengukur besar Bumi, dengan cara mengukur panjang bayangan dari kolom Alexandria dan Syene. Ia menyimpulkan, perbedaan lintang keduanya merupakan 2% dari keseluruhan revolusi dan hasil perhitungannya ternyata memiliki perbedaan sebesar 13% dari hasil yang ada saat ini.

Ptolemy dan Teori Geosentrik

Meskipun sebelumnya Aristachrus telah menyimpulkan bahwa Bumi bergerak mengelilingi Matahari, tetapi  Ptolemy (c 150AD) justru memberikan penyataan yang bertentangan, dengan menyatakan bahwa semua objek bergerak relatif terhadap bumi. Teori ini dikenal sebagai teori geosentrik (geo = bumi, centrum = pusat).

Dan teori ini dipercaya selama hampir 1400 tahun. Tapi teori geosentrik ini mempunyai kelemahan, yaitu Matahari dan Bulan bergerak dalam jejak lingkaran mengitari Bumi. Jadi bumi adalah pusat semesta alam, sementara planet bergerak tidak teratur dalam serangkaian simpul ke arah timur, dan semua kekuatan alam berpusat di bumi.

Untuk mengatasi masalah ini, Ptolemy mengajukan dua komponen gerak. Yang pertama, gerak dalam orbit lingkaran yang seragam dengan periode satu tahun, pada titik yang disebut deferent. Gerak yang kedua disebut epycycle, yaitu gerak seragam dalam lintasan lingkaran yang berpusat pada deferent.

Teori Geosentris ini dimulai lebih kurang abad ke-6 sebelum masehi saat para ilmuwan tertarik kepada alam sekitarnya. Beberapa ahli pendukung anggapan geosentris antara lain : Socrates, Plato, Aristoteles, Tales, Anaximander, dan Pytagoras.

Teori heliosentrik dan gereja

Nicolaus Copernicus (1473-1543) merupakan orang pertama yang secara terang-terangan menyatakan bahwa Matahari merupakan pusat sistem Tata Surya, dan Bumi bergerak mengelilinginya dalam orbit berbentuk lingkaran.

Meskipun Copernicus mengetahui adanya indikasi penyimpangan kecepatan sudut orbit planet-planet, namun ia tetap mempertahankan pendapatnya bahwa orbit planet berbentuk lingkaran, dengan menyatakan bahwa orbitnya tidak kosentrik. Teori heliosentrik ini disampaikan Copernicus dalam publikasinya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium kepada Paus Pope III dan diterima oleh gereja.

Tapi setelah kematian Copernicus, pandangan gereja berubah, ketika pada akhir abad ke-16 filsuf Italy, Giordano Bruno, menyatakan bahwa semua bintang mirip dengan Matahari dan masing-masing memiliki sistem planetnya yang dihuni oleh jenis manusia yang berbeda.

Pandangan inilah yang menyebabkan ia dibakar dan teori Heliosentrik dianggap berbahaya karena bertentangan dengan pandangan gereja yang menganggap manusialah yang menjadi sentral di alam semesta.

Lahirnya Hukum Kepler

Walaupun Copernicus telah menerbitkan tulisannya tentang Teori Heliosentrik, tidak semua orang setuju dengannya. Salah satunya, Tycho Brahe (1546-1601) dari Denmark yang mendukung teori matahari dan bulan mengelilingi bumi, sementara planet lainnya mengelilingi matahari. Tahun 1576, Brahe membangun sebuah observatorium di pulau Hven, di laut Baltic dan melakukan penelitian di sana sampai kemudian ia pindah ke Prague, pada tahun 1596.

Di Prague, Brahe menghabiskan sisa hidupnya, menyelesaikan tabel gerak planet dengan bantuan asistennya Johannes Kepler (1571-1630). Setelah kematian Brahe, Kepler menelaah data yang ditinggalkan Brahe dan menemukan bahwa orbit planet tidak sirkular melainkan elips.

Kepler kemudian mengeluarkan tiga hukum gerak orbit yang dikenal sampai saat ini yaitu ;

  • Planet bergerak dalam orbit ellips mengelilingi matahari sebagai pusat sistem.
  • Radius vektor menyapu luas yang sama dalam interval waktu yang sama.
  • Kuadrat kala edar planet mengelilingi matahari sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-rata dari matahari.

Kepler menuliskan karyanya dalam sejumlah buku, diantaranya adalah Epitome of The Copernican AstronomyIndexLibrorum Prohibitorum, yang merupakan buku terlarang bagi umat Katolik. Dalam daftar ini juga terdapat publikasi CopernicusDe Revolutionibus Orbium Coelestium.

Awal mula dipakainya teleskop

Pada tahun 1608, teleskop dibuat oleh Galileo (1562-1642). Galileo merupakan seorang professor matematika di Pisa yang tertarik dengan mekanika, khususnya tentang gerak planet. Ia salah seorang yang tertarik dengan publikasi Kepler dan yakin tentang teori heliosentrik. Dengan teleskopnya, Galileo berhasil menemukan satelit-satelit Galilean di Jupiter dan menjadi orang pertama yang melihat keberadaan cincin di Saturnus.

Salah satu pengamatan penting yang meyakinkannya mengenai teori heliosentrik adalah masalah fasa Venus. Berdasarkan teori geosentrik, Ptolemy menyatakan, venus berada dekat dengan titik diantara matahari dan bumi sehingga pengamat dari bumi hanya bisa melihat venus saat mengalami fasa sabit.

Tapi berdasarkan teori heliosentrik dan didukung pengamatan Galileo, semua fasa Venus bisa terlihat bahkan ditemukan juga sudut piringan venus, lebih besar saat fasa sabit dibanding saat purnama. Publikasi Galileo yang memuat pemikirannya tentang teori geosentrik vs heliosentrik, dalam Dialogue of The Two Chief World System, menyebabkan dirinya dijadikan tahanan rumah dan dianggap sebagai penentang oleh gereja.

Dasar yang diletakkan Newton

Di tahun kematian Galileo, Izaac Newton (1642-1727) dilahirkan. Bisa dikatakan Newton memberi dasar bagi pekerjaannya dan orang-orang sebelum dirinya terutama mengenai asal mula Tata Surya. Ia menyusun Hukum Gerak Newton dan kontribusi terbesarnya bagi Astronomi adalah Hukum Gravitasi, yang membuktikan bahwa gaya antara dua benda sebanding dengan massa masing-masing objek dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda.

Hukum Gravitasi Newton memberi penjelasan fisis bagi Hukum Kepler yang ditemukan sebelumnya berdasarkan hasil pengamatan. Hasil pekerjaannya dipublikasikan dalam Principia yang ia tulis selama 15 tahun.

Teori Pembentukan Tata Surya Sesudah Newton

Kemunculan Newton dengan teori gravitasinya menjadi dasar yang kuat dalam menciptakan teori terbentuknya Tata Surya yang lahir kemudian sampai tahun 1960. Perkembangan teori pembentukan Tata Surya, pada era setelah Newton sampai dengan tahun 1960, terbagi dalam dua kelompok pemikiran yakni teori monoistik, yang menyatakan bahwa matahari dan planet berasal dari materi yang sama. Sedangkan teori dualistik, menyatakan matahari dan bumi berasal dari sumber materi yang berbeda dan terbetuk pada waktu yang berbeda.

Teori Komet Buffon

Tahun 1745, George comte de Buffon (1701-1788) dari Perancis mempostulatkan teori dualistik dan katastrofi yang menyatakan bahwa tabrakan komet dengan permukaan matahari menyebabkan materi matahari terlontar dan membentuk planet pada jarak yang berbeda.

Kelemahan dari postulat Buffon adalah bahwa ia tidak bisa menjelaskan asal komet. Ia hanya mengasumsikan bahwa komet jauh lebih masif dari kenyataannya.

Teori Nebula Laplace (Teori Kabut)

Ada beberapa teori yang menginspirasi terbentuknya teori Laplace, dimulai dari filsuf Perancis, Renè Descartes (1596-1650) yang percaya bahwa angkasa terisi oleh “fluida alam semesta ” dan planet terbentuk dalam pusaran air. Sayangnya teori ini tidak didukung dasar ilmiah.

Seratus tahun kemudian, tepatnya tahun 1775, Immanuel Kant (1724-1804) menunjukkan adanya awan gas yang berkontraksi dibawah pengaruh gravitasi sehingga awan tersebut menjadi pipih. Ide ini didasarkan dari teori pusaran Descartes, tapi fluidanya berubah menjadi gas. Setelah adanya teleskop, William Herschel (1738-1822) mengamati adanya nebula yang ia asumsikan sebagai kumpulan bintang yang gagal.

Tahun 1791, ia melihat bintang tunggal yang dikelilingi halo yang terang. Hal inilah yang memberinya kesimpulan bahwa bintang terbentuk dari nebula dan halo merupakan sisa nebula.

Dari teori-teori ini, Pierre Marquis de Laplace (1749-1827) pada tahun 1796, menyempurnakan hipotesa Immanuel Kant dan hipotesa mereka berdua lebih dikenal dengan Hipotesa Nebula Kant-Laplace.

Pada tahap awal, tata surya masih berupa kabut atau awan raksasa. Awan ini terdiri gas, es dan debu yang disebut Nebula. Unsur gas, sebagian besar terdiri dari Hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar pelan dengan arah tertentu. Pada saat terjadi keruntuhan, momentum sudut dipertahankan melalui putaran yang dipercepat sehingga terjadi pemipihan membentuk cakram datar di bagian tengahnya.

Selama menyusut (kontraksi), ada materi yang tertinggal ke dalam suatu bentuk piringan, dan bersamaan dengan itu, pusat massa terus berkontraksi. Akibatnya, suhu kabut memanas dan materi di dalam awan, yang memiliki massa dominan akan runtuh, menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan perputarannya semakin cepat.

Materi yang terlepas kedalam piringan, akan membentuk sejumlah cincin gas dan es yang terlontar di sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, maka materi gas di dalam cincin akan mengelompok dan memadat (kondensasi). Seiring dengan terjadinya penurunan suhu, maka terbentuklah membentuk planet dalam yang mengitari matahari. Dengan cara yang sama, planet luar juga terbentuk.

Namun menurut Clerk Maxwell (1831-1879) letak permasalahan teori ini, cincin hanya bisa stabil jika terdiri dari partikel-partikel padat, bukannya gas. Menurut Maxwell cincin tidak bisa berkondensasi menjadi planet karena gaya inersianya akan memisahkan bagian dalam dan luar cincin. Seandainya proses pemisahan bisa terlewati, massa cincin masih jauh lebih masif dibanding massa planet yang terbentuk.

Permasalahan lain muncul dari distribusi momentum sudut dimana tidak ada mekanisme tertentu yang bisa menjelaskan bahwa keberadaan materi dalam jumlah kecil, yang membentuk planet, bisa memiliki semua momentum sudutnya. Seharusnya sebagian besar momentum sudut berada di pusat objek. Jika momentum sudut intrinsik dari materi luar bisa membentuk planet, maka kondensasi pusat tidak mungkin runtuh untuk membentuk bintang,

Penyempurnaan Teori Laplace

Tahun 1854, Edouard Roche (1820-1883) mengatakan bahwa awan yang diajukan Laplace dalam teorinya, bisa memiliki kondensasi pusat yang tinggi sehingga sebagian besar massa berada dekat spin axis dan memiliki kaitan yang kecil dengan momentum angular.

Tahun 1873, Roche menyempurnakan teori Laplace dengan analisis “Matahari ditambah atmosfer & rdquo;, yang memiliki kondensasi pusat yang tinggi. Model ini berada diluar rentang planet dan mengalami keruntuhan saat mendingin.

Dalam model ini atmosfer berkorotasi terhadap matahari. Saat sistem mengalami keruntuhan, kecepatan sudut bertambah untuk mempertahankan momentum sudut, sementara jarak mengecil. Jika jarak mengecil lebih cepat dari radius efektif atmosfer, maka semua atmosfer di luar jarak akan membentuk cincin.

Keberatan dari James Jeans (1877-1946). Ia menunjukkan dengan distribusi nebula yang diberikan oleh Roche, materi luar akan menjadi renggang sehingga tidak dapat melawan gaya pasang surut terhadap pusat massanya dan kondensasi tidak akan terjadi.

Jeans juga mennunjukkan bahwa untuk materi di dalam cincin yang mengalir dari nebula yang runtuh menuju kondensasi, membutuhkan kerapatan yang lebih besar dari kerapatan sistem. Hal ini akan menghasilkan massa atmosfer dengan magnitudo mendekati magnitudo di pusat massa, sehingga bisa menyelesaikan permasalahan momentum sudut.

Teori Pembentukan Tata Surya Awal Abad ke-20

Perkembangan teori pementukan Tata Surya pada dekade terakhir abad ke-19 dan dekade pertama abad ke-20, didominasi oleh 2 orang Amerika yakni Thomas Chamberlin (1843-1928) dan Forest Moulton (1872-1952). Dalam membangun teorinya, mereka melakukan komunikasi secara konstan, bertukar pemikiran dan menguji ide-ide yang muncul, namun publikasi atas karya besar mereka dilakukan secara terpisah.

Teori Planetisimal

Pada tahun 1890-an, Chamberlin menawarkan solusi untuk teori nebula Laplace. Ia menawarkan adanya satu akumulasi yang membentuk planet atau inti planet (objek kecil terkondensasi diluar materi nebula) yang kemudian dikenal sebagai planetisimal.

Menurut Chamberlin, planetisimal akan bergabung membentuk protoplanet. Namun karena adanya perbedaan kecepatan antara partikel dalam dan partikel luar, dimana partikel dalam bergerak lebih cepat dari partikel luar, maka objek yang terbentuk akan memiliki spin retrograde.

Walaupun ide planetesimal ini cukup baik, tetapi sejak tahun 1900, Chamberlin dan Moulton mengembangkan teori baru tentang pembentukan planet. Pada teori ini keduanya menyatakan bahwa ada materi yang terlontar dari bintang dan membentuk nebula spiral.

Nebula spiral ini tidak diketahui asalnya dan berhasil dipotret oleh para pengamat. Menurut mereka, materi yang terlontar ini dapat menjadi planet yang mengitari bintang induknya. Tapi ide ini kemudian mereka tolak sendiri, karena orbit yang mereka dapatkan terlalu eksentrik/lonjong.

Chamberlin kemudian membangun teori baru yang melibatkan erupsi matahari. Ia memberikan kemungkinan bahwa spiral nebula merupakan hasil interaksi pemisahan dari bintang yang berada dalam proses erupsi dengan bintang lainnya. Teori ini membutuhkan matahari yang aktif dengan prominensa yang masif.

Namun sayangnya, gaya pasang surut bintang yang berinteraksi dengan matahari hanya mampu menahan materi prominensa di luar matahari tapi tidak mampu memindahkan materi dari matahari. Untuk itu dibutuhkan jarak matahari-bintang lebih besar dari limit Roche untuk matahari dan massa masif yang lebih besar dari massa matahari untuk bintang lainnya.

Jadi ringkasnya, hipotesa Planetisimal menyatakan bahwa tata surya terbentuk akibat adanya bintang yang hampir menabrak matahari.

Teori Pasang Surut

Teori Pasang Surut pertama kali disampaikan oleh Buffon. Ia menyatakan bahwa tata surya berasal dari materi Matahari yang terlempar akibat bertumbukan dengan sebuah komet. Teori pasang surut yang disampaikan Buffon kemudian diperbaiki oleh Sir James Jeans dan Harold Jeffreys.

Astronomi Inggris, James Jeans (1877-1946) mengemukakan teorinya (1917) bahwa Tata Surya merupakan hasil interaksi antara bintang lain dan matahari. Perbedaan ide yang ia munculkan dengan ide Chamberlin & Moulton terletak pada absennya prominensa dan jumlah awal dari matahari.

Menurut Jeans dalam interaksi antara matahari dengan bintang lain yang melewatinya, pasang surut yang ditimbulkan pada matahari sangat besar, sehingga ada materi yang terlepas dalam bentuk filamen. Filamen ini tidak stabil dan pecah menjadi gumpalan-gimpalan yang kemudian membentuk protoplanet. Akibat pengaruh gravitasi dari bintang proto planet memiliki momentum sudut yang cukup untuk masuk kedalam orbit di sekitar matahari.

Pada akhirnya efek pasang surut matahari pada proto planet saat pertama kali melewati perihelion memberikan kemungkinan bagi proses pembentukan planet untuk membentuk satelit.

Pada model ini tampaknya spin matahari yang lambat dikesampingkan, karena dianggap matahari telah terlebih dahulu terbentuk sebelum proses pembentukan planet. Selain itu tanpa adanya prominensa maka kemiringan axis solar spin dan bidang orbit matahari-bintang tidak akan bisa dijelaskan.

Tahun 1919, Jeans memperbaharui teorinya. Ia menyatakan bahwa saat pertemuan kedua bintang terjadi, radius matahari sama dengan orbit Neptunus. Pengubahan ini memperlihatkan kemudahan untuk melontarkan materi pada jarak yang dikehendaki. Materinya juga cukup dingin, dengan temperatur 20 K dan massa sekitar Ᾰ½ massa jupiter.

Harold Jeffreys (1891-1989) yang sebelumnya mengkritik teori Chamberlin-Moulton, juga memberikan beberapa keberatan atas teori Jeans. Keberatan pertamanya mengenai keberadaan bintang masif yang jarang sehingga kemungkinan adanya bintang yang berpapasan dengan matahari pada jarak yang diharapkan sangatlah kecil.

Tahun 1939, keberatan lain datang dari Lyman Spitzer (1914-1997). Menurutnya jika matahari sudah berada dalam kondisi sekarang saat materinya membentuk Jupiter maka diperlukan materi pembentuk yang berasal dari kedalaman dimana kerapatannya sama dengan kerapatan rata-rata matahari dan temperatur sekitar 106 K. Tapi jika harga temperatur ini dipakai dalam persamaan untuk massa kritis jeans, maka massa minimum Jupiter menjadi 100 kali massa Jupiter saat ini.

Teori Kondensasi (Teori Awan Debu atau Protoplanet)

Teori ini dikemukakan oleh Carl von Weizsaecker kemudian disempurnakan oleh astronom Belanda, Gerard P.Kuiper (1905-1973), pada tahun 1950. Teori proto planet menyatakan bahwa tata surya terbentuk oleh gumpalan awan gas raksasa yang mengalami pemampatan dan menarik partikel-partikel debu membentuk gumpalan bola awan. Pada saat itulah terjadi bola kabut raksasa ini berputar membentuk pilinan sehingga gumpalan bola kabut raksasa ini menjadi pipih menyerupai cakram raksasa (tebal bagian tengah dan pipih di bagian tepi).Karena bagian tengah berpilin lambat mengakibatkan terjadi tekanan yang menimbulkan panas dan cahaya(Matahari).Bagian tepi cakram berpilin lebih cepat sehingga terpecah menjadi gumpalan yang lebih kecil.Gumpalan itu kemudian membeku menjadi planet dan satelit.

Teori Bintang Kembar

Teori bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (19152001) pada tahun 1956. Teori ini mengemukakan bahwa dahulunya tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan saling berdekatan, yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil. Serpihan-serpihan yang disebut planet-planet itu, kemudian terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak (matahari) dan mulai mengelilinginya

Teori Capture

Teori pasang surut Jeans-Jeffreys mengajukan kalau materi yang disapu oleh bintang saat berpapasan dengan Matahari akan membentuk planet. Tahun 1964Woolffson memperkenalkan model baru dari teori pasang surut, yang dikenal dengan nama Teori Capture. Teori yang diajukan Woolfson menyatakan kalau bintang yang berpapasan dengan Matahari yang menyediakan materi pembentuk planet yang kemudian ditangkap oleh Matahari.

Pembentukan bintang dalam gugus galaksi dalam hal ini dari pengamatan terhadap gugus muda, bintang pertama yang terbentuk memiliki massa lebih dari satu massa Matahari dan sesudah itu bintang dengan massa yang lebih kecil mulai terbentuk. Dalam lingkungan yang memiliki kerapatan cukup besar seperti pada gugus muda, interaksi antar bintang akan sering tering terjadi – ini merupakan interaksi yang memberikan cukup energi bagi bintang tunggal untuk melepaskan diri dari gugus tersebut, yang kemudian dihamburkan dan membentuk bidang bagi bintang. Bentuk interaksi yang diajukan Woolfson, melibatkan Matahari dalam kaitannya untuk pembentukan Tata Surya dan protobintang dengan massa yang lebih kecil yang baru terbentuk dan masih berada dalam kondisi mengembang dan terhambur.

Dalam interaksinya, proto bintang akan bergerak dalam orbit hiperbola relative terhadap Matahari dan melewatinya dalam batas jarak Roche sehingga terjadi penghamburan atau pemisahan materi dari protobintang tersebut. Pada saat berpapasan, filament dari protobintang akan disapu keluar pada kondisi tidal bulge (betuk ellipsoid pada bintang yang terjadi akibat besarnya gaya pasang surut di ekuator) yang ekstrim dan ketidakstabilan gravitasi menyebabkan filamen pecah dalam beberapa rangkaian kondensasi. Garis kerapatan filamen cukup tinggi sehingga setiap blob (gumpalan) akan memiliki massa melampaui massa kritis Jeans dan blob akan saling berkontraksi membentuk protoplanet.

Protoplanet terbentuk pada orbit bereksentrisitas (kelonjongan) tinggi antara 0,7 – 0,9 dan jarak terjauh (aphelion) memiliki rentang lebih dari 100 AU. Protoplanet membutuhkan waktu dari puluhan sampai ratusan tahun untuk berkondensasi sebelum mereka harus memulai fasa menyelamatkan diri dari gaya pasang surut pada saat memasuki perihelion (jarak terdekat dengan Matahari). Proses kondensasi protoplanet memberi kesempatan pada protoplanet untuk membentuk planet mayor sementara gaya pasang surut justru membuatnya mengembang, tertarik dan materi terluar terutama di daerah tidal bulge, akan memperoleh spin momentum sudut. Keruntuhan protoplanet terjadi dan meninggalkan materi di bagian tidal bulge. Materi di bulge akan membentuk filamen dengan kumpulan blob tunggal yang kemudian akan membentuk satelit.

Beberapa keberatan tehadap teori capture adalah ia merupakan bagian dari teori dualistic yang membutuhkan mekanisme lain untuk bisa menjelaskan spin Matahari yang lambat. Pembentukan satelit dalam teori capture melalui keruntuhan protoplanet masih harus dibuktikan lagi.

Perbedaan esensial antara model capture dan model Jeans :

  • Materi yang datang dari proto bintang, ditangkap oleh bintang yang terkondensasi.
  • Materi yang membentuk planet, merupakan materi yang dingin, sehingga meniadakan keberatan yang diajukan terhadap teori pasang surut Jeans.
  • Pada saat interaksi proto bintang memiliki radius sekitar 20 AU dan jarak aphelion orbitnya, sekitar 40 AU. Jarak ini yang kemudian diadaptasi sebagai skala Tata Surya.

Teori Big Bang

Teori Big Bang menyatakan bahwa jagat raya dimulai dari satu ledakan besar dari materi yang densitasnya luar biasa besar. Impilikasinya jagat raya punya awal dan akhir. Teori ini terus-menerus dibuktikan kebenarannya melalui sejumlah penemuan, dan diterima oleh sebagian besar astrofisikawan masa kini.

 

Baca Artikel Lainnya:

Mengenal Tentang Candi Tikus

Mengenal Tentang Candi Tikus

Mengenal Tentang Candi Tikus
Mengenal Tentang Candi Tikus

Salah satu peninggalan purbakala di Jawa Timur dari masa pemerintahan kerajaan Majapahit adalah Candi Tikus. Meskipun tidak ada satu sumber pun yang menyebutkan, kapan bangunan candi ini didirikan, tetapi menilik batu merah dan batu andhesit yang dipergunakan untuk membuat saluran air pada candi ini, yang nampak lebih dinamis sebagaimana ada pada masa jaman keemasan kerajaan Mojopahit, maka diperkirakan bangunan ini didirikan sekitar abad ke XIV, dan merupakan peninggalan termuda yang terdapat di Trowulan.

Lokasi

Candi Tikus terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Jaraknya tiga kilometer arah tenggara dari Balai Penyelamatan (Site Museum) atau delapan kilometer arah barat daya dari pusat kota Mojokerto. Sejak ditemukan pertama kali, candi ini telah mengalami pemugaran sekitar tahun 1983 – 1989 dan dibuka kembali tanggal 21 September 1989. 

Candi ini juga dikenal sebagai candi pemandian atau petirthaan, karena adanya struktur kolam pemandian (pertirthaan) dan pancuran yang dibangun menjadi satu dengan candinya. Candi ini memiliki keistimewaan antara lain dibangun di bawah permukaan tanah, pada kedalaman kurang lebih 3,5 meter dan tidak terdapat arca dewa maupun arca perwujudan, bahkan tidak ada petunjuk atau tanda adanya arca. Bila hendak masuk atau mencapai lantai candi harus menuruni tangga terlebih dulu.

Asal Mula Nama Candi Tikus

Konon, nama Candi Tikus diberikan lantaran ketika dilakukan penggalian pada tahun 1914, oleh Bupati Mojokerto R.A.A Kromojoyo Adinegoro, lokasi disekitar candi itu pernah menjadi sarang tikus, dan hama tikus ini telah menggelisahkan masyarakat setempat karena menyerang hasil pertanian di desa sekitarnya. Ketika dilakukan upaya pengejaran dan pembasmian, kawanan tikus itu selalu masuk ke suatu gundukan tanah,. Ketika dilakukan penggalian pada gundukan tanah tersebut, ditemukanlah bagian dari suatu bangunan yang terbuat dari batu merah.

Kromojoyo Adinegoro, kemudian memerintahkan penggalian lebih lanjut dan  mendapatkan adanya miniatur candi. Penemuan ini kemudian dilaporkan pada ahli sejarah dan sejak itulah banyak ahli sejarah kuno dan arkeolog mulai mengadakan penelitian mengenai candi ini untuk menentukan makna dan fungsi bangunan ini, baik dari segi arsitektur maupun ditinjau dari segi religious. 

Penggalian selanjutnya menemukan sebuah bangunan terbuat dari bahan bata merah dan denah persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m dan tinggi keseluruhan dari lantai sampai menara candi induk adalah 5,2 meter.

Batu bata yang dipergunakan pada bangunan candi ini memiliki dua ukuran, yang besar berukuran 8 x 21 x 36 cm, dan satu lagi berukuran lebih kecil. Candi ini memiliki jaladwara (pancuran air) yang terbuat dari batu andesit. Jaladwara yang terdapat di Candi Tikus ini berjumlah 46 dengan bentuk makara dan padma, selain itu juga terdapat saluran-saluran air baik saluran air masuk maupun saluran untuk pembuangan air.

Masa Pendirian Candi Tikus

Meskipun tidak ada sumber sejarah yang memberitakan tentang kapan candi ini didirikan, tetapi menilik batu merah dan batu andhesit yang dipergunakan untuk membuat saluran air pada candi ini, yang nampak lebih dinamis sebagaimana ada pada masa jaman keemasan kerajaan Mojopahit,dibawah pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1380), maka diperkirakan bangunan ini didirikan sekitar abad ke XIV.

Dalam kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 M (yang telah diakui oleh para pakar sebagai suatu sumber sejarah yang cukup lengkap memuat tentang kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk), juga tidak disebutkan tentang eksistensi candi ini.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa serangkaian penelitian yang ditujukan guna mencari dan menentukan saat dibangunnya candi Tikus ini lantas manjadi tidak bisa dilaksanakan. Setidaknya, berdasarkan kajian arsitektur, diperoleh gambaran perbedaan dalam hal penggunaan bahan baku candi, yaitu bata merah.

Adanya perbedaan penggunaan bata merah (baik perbedaan kualitas maupun kuantitasnya), memberikan indikasi tentang tahapan pembangunan candi Tikus. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog, terbukti bahwa bata merah yang berukuran lebih besar berusia lebih tua dibandingkan dengan bata merah yang berukuran lebih kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selama masa berdiri dan berfungsinya, candi Tikus pernah mengalami dua tahap pembangunan. 

N.J. Krom dalam bukunya yang berjudul Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst II (Pengantar Kesenian Hindu Jawa), memberikan pandangan yang sama. Dengan memperhatikan bahan dan gaya seni dari saluran air yang ada, pakar sejarah kesenian Jawa kuno berkebangsaan Belanda itu berasumsi bahwa ada dua tahap pembangunan candi Tikus.

Pembangunan tahap pertama dilakukan dengan mempergunakan batu bata merah yang berukuran lebih besar sebagai bahan bakunya, sedangkan pembangunan tahap kedua dilakukan dengan menggunakan bata merah yang berukuran lebih kecil.

Tahap pertama, saluran airnya terbuat dari bata merah dan memperlihatkan bentuknya yang kaku. Sedangkan tahap kedua saluran airnya terbuat dari batu andesit dan memperlihatkan bentuknya yang lebih dinamis serta dibuat pada masa keemasan Majapahit. Atas dasar itulah, Krom sekali lagi menegaskan asumsinya bahwa candi Tikus telah berdiri, sebelum kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya, yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1380).

Ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1984/1985, sisi tenggara bangunan candi Tikus berhasil disingkap. Kaki bangunan yang terdapat di sisi tersebut, menunjukan perbedaan ukuran bata merah yang dipergunakan sebagai bahan bakunya. Hal ini semakin memperkuat dugaan mengenai dua tahap pembangunan candi tersebut. Kaki bangunan tahap pertama yang tersusun dari bata merah yang berukuran besar, tampak ditutup oleh kaki bangunan tahap kedua yang tersusun dari bata merah yang berukuran lebih kecil. Kapan secara pasti pembangunan tahap pertama dan kedua ini dilakukan, juga belum jelas benar.

Deskripsi

Dari sudut arsitektur, bangunan candi terbagi menjadi enam bagian, yaitu bangunan induk, kolam (dua buah), dinding teras (tiga tingkat), tangga utama, lantai dasar dan pagar.

Bangunan Induk

Bangunan candi dibuat dari bahan bata dengan ukuran 8 x 21 x 36 cm, sedangkan untuk jaladwara (pancuran air) dibuat dari batu andesit. Jaladwara yang terdapat di Candi Tikus ini berjumlah 46 dengan bentuk makara dan padma, selain itu juga terdapat saluran-saluran air baik saluran air masuk maupun saluran untuk pembuangan air.

Pada sisi selatan teras terbawah, terdapat sebuah bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m, dengan ketinggian 5,2 m. Bangunan ini dianggap sebagai bangunan utama dari candi Tikus. Pada dindingnya dilengkapi dengan 17 buah pancuran air yang berbentuk bunga padma dan makara. Pada bangunan induk tersebut, terdapat sebuah menara dan dikelilingi oleh 8 buah menara yang berukuran lebih kecil.

Bentuk bangunan ini makin ke atas makin kecil dan dikelilingi oleh delapan candi yang lebih kecil bagaikan puncak gunung yang dikelilingi delapan puncak yang lebih kecil.

Secara horizontal bangunan induk dibagi menjadi tiga bagian mencakup kaki, tubuh dan atap.

Kaki bangunan berbentuk segi empat, dengan profil kaki berpelipit. Pada lantai atas kaki bangunan terdapat saluran air dengan ukuran 17 cm dan tinggi 54 cm serta mengelilingi tubuh, sedangkan pada sisi luar terdapat jaladwara. Selain jaladwara terdapat pula menara-menara yang disebut menara kaki bangunan karena terdapat pada bagian kaki bangunan.

Ukuran menara 80 x 80 cm. Pada lantai atas kaki bangunan ini berdiri tubuh bangunan dengan denah segi empat, sedangkan di bawah susunan batanya terdapat pula kaki tubuh tempat berdiri menara yang disebut menara tubuh pada keempat sudut dan ukurannya sama dengan menara kaki.

Selain itu di bagian tengah setiap dinding tubuh terdapat bangunan menara yang lebih besar dan berukuran 100 x 140 cm, tinggi 2,78 meter. Salah satu dari menara itu ada yang menempel pada dinding tubuh.


Susunan menara yang demikian itu telah menarik perhatian arekeolog Belanda yang bernama A.J. Bernet Kempers yang mengaitkannya dengan konsepsi religi. Dalam bukunya yang berjudul Ancient Indonesia Art, ia yang telah banyak berjasa dalam menyingkap masa pengaruh agama Hindu – Budha di Indonesia lewat kajian candi-candi, mengatakan bahwa candi Tikus merupakan replika dari gunung Mahameru

Hal ini dikarenakan adanya empat buah minatur candi yang dianggap melambangkan gunung Mahameru, tempat para dewa bersemayam. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru juga merupakan tempat sumber air suci (Tirta Amerta) bagi segala makhluk hidup, yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran- pancuran / jaladwara, yang terdapat di sepanjang kaki candi. Air ini dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat dipergunakan untuk memberi kesejahteraan bagi umat manusia..


Gunung Mahameru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan adanya suatu keserasian antara dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). 

Menurut konsepsi Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa, dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan yang kesemuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahit, bukan sebagai tempat pemujaan seperti candi-candi pada umumnya..

Selain berfungsi sebagai pengatur debit air di kota, letaknya yang diluar kota itu memberi kesan bahwa sebelum masuk kota, air harus disucikan terlebih dahulu di candi Tikus. Dalam hal ini, jika bentuk bangunan candi Tikus dianggap sebagai manifestasi dari gunung Mahameru, maka setiap air yang keluar dari bangunan induk ini dipercaya sebagai air suci (amerta). Tak heran, bila kemudian air yang keluar dari candi Tikus juga dipercaya memiliki kekuatan magis untuk memenuhi harapan rakyat agar hasil pertanian mereka berlipat ganda dan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang merugikan.

Kolam


Di sebelah timur laut dan barat laut bangunan induk, terdapat dua buah kolam yang disebut kolam barat dan kolam timur. Kolam ini terletak di kanan dan kiri, mengapit tangga masuk. Masing-masing kolam berukuran panjang 3,50 meter, lebar 2 meter, kedalaman 1,50 meter dan tebal dinding 0,80 meter. Masing-masing kolam juga dilengkapi dengan tiga buah pancuran air yang berbentuk bunga padma (teratai) dan terbuat dari bahan batu andesit.

Pada sisi utara dinding kolam bagian dalam terdapat tiga jaladwara dengan ketinggian kurang lebih 80 cm dari lantai kolam. Bagian luar kolam sisi selatan terdapat tangga masuk ke bilik kolam, lebar 1,20 meter, sedangkan bagian dalamnya terdapat semacam pelipit setebal 3,50 cm. Di atas dan bawah tangga masuk sisi timur ada dua saluran air.

Dinding Teras

Bangunan dinding ini terdiri atas tiga teras yang mengelilingi bangunan induk dan kolam. Fungsi teras sebagai penahan desakan air dari sekitarnya karena bangunan ada di bawah permukaan tanah, juga sebagai penahan longsor.

Dinding teras pertama berukuran 13,50 x 15,50 meter, sedangkan lebar lantai teras 1,89 meter. Kaki teras ini berpelipit dan di bagian atas susunan batanya, terdapat pancuran air berbentuk padma dan makara, sedangkan di bawah lantai teras terdapat saluran air berukuran 0,20 meter dan tinggi 0,46 meter. Saluran ini berhubungan dengan saluran yang ada pada bangunan induk dan diperkirakan bahwa saluran tersebut dipergunakan untuk mengalirkan air yang berasal dari bangunan induk tersebut, keluar melalui pancuran yang terdapat di bagian dalam dinding kolam sisi utara.

Dinding teras tingkat dua berukuran 17,75 x 19,50 meter. Lebar lantai 1,50 meter dan tingginya 1,42 meter serta tebal dinding teras tersebut sebanyak 17 lapis bata.

Dinding teras tingkat tiga mempunyai ukuran 21,25 x 22,75 meter dengan lebar lantai 1,30 meter, tinggi dinding 1,24 meter, sedangkan tebal tinding 10 lapis bata.

Tangga utama

Adanya tangga yang menurun di sebelah utara, memberi kesan bahwa bangunan candi Tikus ini memang sengaja dibangun dibawah permukaan tanah. Tangga menurun disebelah utara itu, sekaligus merupakan petunjuk bahwa bangunan candi ini menghadap ke utara, dengan Tangga utama ini merupakan tangga menuju ke bangunan induk dan bilik kolam. Panjang tangga 9,50 meter, lebar 3,50 meter dan tinggi 3,50 meter.

Pada sisi timur dan barat tangga teras satu dan teras dua terdapat pipi tangga yang menutupi jalan masuk ke teras satu dan dua.

Lantai dasar

Lantai dasar terdiri dari susunan bata yang mempunyai permukaan atau bidang datar di bagian atasnya, tersusun dari dua lapis bata dengan luas kurang lebih 100 meter persegi. Lantai ini tempat berdiri bangunan induk, kolam, dinding teras dan tangga utama.

Pagar tembok luar

Tembok ini ditemukan di sisi utara dan berjarak kurang lebih 0,80 meter dari dinding teras tiga dan menjadi satu dengan pintu gerbang yang terdapat di tangga masuk.

Pelestarian

Untuk kelestarian warisan budaya bangsa yang berupa bangunan candi, perlu adanya penanganan secara berkesinambungan. Salah satu caranya ialah mengadakan pemugaran. Pemugaran ini sangat berguna selain untuk objek pariwisata juga bermanfaat bagi pengembangan kebudayaan. Selain itu Candi Tikus ini dapat berfungsi sebagai barometer air guna mengetahui debit air di saluran-saluran atau waduuk dan dipakai sebagai perbandingan besarnya air yang mengalir.

(Sumber: https://pengajar.co.id/)

Mengenal Tentang Tsunami

Mengenal Tentang Tsunami

Mengenal Tentang Tsunami
Mengenal Tentang Tsunami

Kata Tsunami (dibaca tsoo-Nah-mee) sebenarnya berasal dari bahasa Jepang: 津波; yang secara harafiah berarti “gelombang besar di pelabuhan”. Tsunami adalah sebuah ombak atau gelombang transien yang sangat besar, yang timbul setelah terjadinya sebuah gempa tektonik, baik di daratan atau di laut, gempa vulkanik akaibat gunung berapimeletus, atau hantaman meteor di laut. Periode gelombang Tsunami berkisar dari 10 sampai 60 menit.

Tenaga pada setiap kejadian tsunami adalah tetap, terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Sehingga, apabila gelombang Tsunami mencapai pantai, maka ketinggian gelombangnya akan meningkat sementara kelajuannya akan menurun.

Gelombang tersebut bergerak pada kelajuan tinggi, tetapi hampir tidak terasa efeknya oleh kapal laut (misalnya) saat melintasi di laut dalam, tetapi ketinggiannya akan meningkat hingga mencapai 30 meter atau lebih di daerah pantai. Saat di lautan lepas, sangat sulit membedakan antara gelombang Tsunami atau gelombang biasa, karena gelombangnya sangat panjang bisa mencapai 100 km, dengan ketinggian hanya 1 meter. Itulah sebabnya kapal yang melintas di atas gelombang Tsunami tidak mengetahuinya. Sebagai contoh Tsunami yang dihasilkan oleh letusan Krakatau, tidak terdeteksi walaupun terjadi melewati jalur perdagangan laut yang paling ramai di beberapa tempat. Hanya saat bertemu laut dangkal ataupun pulau dan tepi benua, daya rusak Tsunami yang sangat besar akan dilepaskan.

Hal ini disebabkan saat mendekati daratan atau laut dangkal, permukaan dangkal dasar laut mulai mendorong ke atas, dan panjang gelombang menjadi lebih pendek.
Karena pendek, maka gelombang balik akan bercampur dengan gelombang datang, dan akan menjadi semacam dinding gelombang raksasa yang menghantam pantai
dengan efek yang merusak.

Tsunami bisa menyebabkan erosi pantai yang parah dan kerusakan yang hebat pada bangunan dan tumbuh-tumbuhan serta korban jiwa yang besar di kawasan pesisir pantai dan kepulauan, juga genangan, pencemaran air asin pada lahan pertanian, tanah, maupun sumber air bersih.

Kebanyakan kota di sekitar Samudra Pasifik, terutama di Jepang dan Hawaii, sudah mempunyai sistem peringatan dini dan prosedur pengungsian pada saat terjadi gempa yang berpotensi meninmbulkan Tsunami. Tsunami akan diamati oleh pelbagai institusi seismologi di seluruh dunia dan perkembangannya senantiasa dipantau melalui satelit. Bukti menunjukkan tidak mustahil akan terjadi megatsunami, yang menyebabkan beberapa pulau tenggelam.

Penyebab Tsunami

Tsunami dapat terjadi jika terjadi karena adanya disturbansi di dasar laut atau gangguan di laut yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti akibat letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor besar yang jatuh ke laut.

Tsunami akibat gunung meletus sebagaimana yang terjadi akibat meletusnya gunung Krakatau, maka gangguannya terjadi di permukaan laut, sedangkan tsunami akibat gempa tektonik 8,5 skala Richter (8,9 moment magnitude) yang meluluh lantakkan Aceh dan Nias, (Sumatera Utara), Indonesia, gangguannya terjadi di dasar laut.

Gempa yang terjadi Minggu pagi 26 Desember 2004, pukul 06:58:50 AM, di propinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara ini sungguh dahsyat. Betapa tidak, negara-negara di kawasan Asia Tenggara sampai Asia Selatan , bahkan Somalia di Afrika Timur yang berjarak 6.000 km dari Epicenter gempa, ikut merasakan getaran akibat gempa yang sangat dahsyat ini. Gelombang Tsunami yang terjadi juga meluluh lantakkan Thailand dan mencapai Srilangka.

Meskipun ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya Tsunami, 90% tsunami terjadi akibat gempa bumi di bawah laut. Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami.

Bagaimana Tsunami bisa Terjadi?

Gempa yang menyebabkan terjadinya gerakan tegak lurus atau gerakan vertikal pada lapisan kerak bumi, dapat menyebabkan terjadinya patahan pada bumi atau sesar, sehingga dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut yang sangat besar, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar  dan terjadilah tsunami Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.

Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya bisa mencapai ratusan meter.

Kecepatan Gelombang Tsunami

Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi. Kecepatannya bisa mencapai 400 m perdetik sampai ratusan kilometer per jam (Tsunami yang terjadi di Samudra Pasifik tahun 2004, pernah mencapai kecepatan 700 km per jam, pada kedalaman 4000 meter).

Pada saat mencapai pantai, kecepatannya akan berkurang menjadi sekitar 50 km per jam dengan membawa energi yang sangat besar dan sangat merusak daerah pantai dan sekitarnya yang dilaluinya.

Besar Gelombang Tsunami

Energi yang terjadi akibat gempa akan mengalami perpindahan ke fluida (cairan bergerak). Di dalam fluida ini, energi diubah menjadi gerakan fluida yang berbentuk suatu gelombang. Tinggi gelombang Tsunami yang terbentuk sangat tergantung dari besarnya energi gempa. Dan melalui turunan beberapa pendekatan numeris dapat diketahui besarnya energi Tsunami yang terjadi.

Pendekatan yang sering dipakai adalah dengan pendekatan skala Imamura (m), dimana dengan mengetahui besar m (Imamura Scale), maka tinggi gelombang akan dapat diketahui serta luasan daya hancur yang diakibatkannya.

Di tengah laut tinggi gelombang tsunami biasanya hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai, tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan massa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan yang jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.

Jarak epicenter gempa ke pantai juga menentukan tinggi gelombang Tsunami. Besarnya energi Tsunami diperkirakan 10% energi gempa. Analisa numerik mengacu pada contoh sebagai berikut; bila diketahui M = 7.0 m (magnitude), maka m (imamura) = 1.83 dan T (period) = 13,8 menit, maka dari tabel imamura diperkirakan tinggi gelombang yang terjadi adalah 3 meter di pusat gempa dan akan menjalar menuju perairan yang lebih dangkal.

Tinggi gelombang Tsunami juga akan meningkat, bila gelombang Tsunami melintasi alur yang sempit seperti selat, sungai atau teluk yang panjang. Hal ini terjadi karena adanya ransformasi akibat perubahan lebar dan kedalaman suatu perairan (bathimetri lahan) dan gelombang pecah, sehingga menyebabkan energi gelombang membesar dan amplitudo gelombang juga meningkat.

Akumulasi energi gelombang juga terjadi pada saat gelombang Tsunami melintasi dinding miring menuju pantai (Run Up). Pertambahan tinggi gelombang pada keadaan Run Up, sangat dipengaruhi oleh topografi (kemiringan lahan), tinggi gelombang sebelumnya dan panjang gelombang.

Itulah sebabnya, pada saat gelombang Tsunami mendekati pesisir pantai, amplitudonya menjadi lebih besar, sedangkan panjang gelombangnya menjadi lebih pendek.

Asumsi awal ini tentulah belum valid benar, karena masih harus memperhitungkan juga energi gempa yang dikonversikan dengan energi Tsunami yang terbentuk dan yang menuju ke pantai. Meski demikian jika terdapat gempa yang besar dan air  menyusut secara tiba-tiba dan tidak normal, maka perlu senantiasa diwaspadai akan kemungkinan terjadinya Tsunami.

Syarat terjadinya tsunami akibat gempa

–          Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 – 30 km)

–          Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter. Kalau toh terjadi tsunami, biasanya gelombang dan kerusakaan yang ditimbulkannya tidak terlalu besar.

–          Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

Sistem Peringatan Dini

Upaya untuk menghindari jatuhnya korban yang besar,  banyak kota-kota di sekitar Pasifik, terutama di Jepang dan juga Hawaii, telah mempunyai sistem peringatan dini, bila sewaktu-waktu terjadi tsunami dan prosedur evakuasi untuk menangani kejadian tsunami. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai institusi seismologi di berbagai penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat dimonitor melalui perangkat yang ada di dasar atau permukaan laut yang terknoneksi dengan satelit.

Perekam tekanan di dasar laut bersama-sama dengan perangkat yang mengapung di laut buoy, dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang tidak dapat dilihat oleh pengamatan manusia pada laut dalam. Sistem sederhana yang pertama kali digunakan untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya tsunami pernah dicoba di Hawai pada tahun 1920-an. Kemudian, sistem yang lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960.

Amerika Serikat membentuk Pasific Tsunami Warning Center pada tahun 1949, dan menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan internasional pada tahun 1965.
Salah satu sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami, CREST Project, dipasang di pantai Barat Amerika Serikat, Alaska, dan Hawai oleh USGS, NOAA, dan Pacific Northwest Seismograph Network, serta oleh tiga jaringan seismik universitas.

Pacific Marine Enviromental Laboratory (PMEL) yang berpusat di Hawaii juga telah mengembangkan teknologi pendeteksi dini terjadinya Tsunami yang disebut DART (Deep – ocean Assesment and Reporting Tsunamis). Alat ini bekerja secara terus-menerus dan melaporkan segala anomali yang terjadi pada air laut, seperti gempa dan penjalaran gelombang yang terjadi.

Hingga kini, ilmu tentang tsunami sudah cukup berkembang, meskipun proses terjadinya masih banyak yang belum diketahui dengan pasti. Episenter dari sebuah gempa bawah laut dan kemungkinan terjadinya tsunami dapat dengan cepat dihitung. Pemodelan tsunami yang baik, telah berhasil memperkirakan seberapa besar tinggi gelombang tsunami di daerah sumber, kecepatan penjalarannya dan waktu sampai di pantai, berapa ketinggian tsunami di pantai dan seberapa jauh rendaman yang mungkin terjadi di daratan.

Meski demikian, karena faktor alamiah, seperti kompleksitas topografi dan batimetri sekitar pantai dan adanya corak ragam tutupan lahan (baik tumbuhan, bangunan, dll), perkiraan waktu kedatangan tsunami, ketinggian dan jarak rendaman tsunami masih belum bisa dimodelkan secara akurat.

Bagaimana Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia?

Indonesia saat ini sedang melakukan pekerjaan pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami. Salah satu proyek yang dikerjakan, adalah merupakan kerjasama dengan negara Jerman. Proyek ini bernama GITEWS (German Indonesia Tsunami Early Warning System). Ada 3 pilot area yang dipilih untuk pelaksanaan proyek ini yaitu Kota Padang, Jawa Tengah (Cilacap, Kebumen dan Bantul) serta Bali (Kab. Badung).

Pengembangan Sistem Peringatan Dini Tsunami ini melibatkan banyak pihak dan instansi-instansi pemerintah. Sebagai koordinator dari pihak Indonesia adalah Kementrian RISTEK (Riset dan Teknologi). Sedangkan instansi yang ditunjuk dan bertanggung jawab untuk mengeluarkan INFO GEMPA dan PERINGATAN TSUNAMI adalah BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika)

Tujuan utama pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami ini adalah untuk terciptanya sebuah sistem yang dapat menginformasikan serta memperingatkan masyarakat luas apabila terjadi suatu gempa yang berpotensi menimbulkan Tsunami dalam waktu sesingkat-singkatnya, agar kerugian Nyawa dan Materi dapat dihindarkan semaksimal mungkin.

Perlu disadari, bahwa upaya untuk mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami, membutuhkan biaya yang amat sangat besar. Tentu hal ini merupakan beban berat yang harus dipikul oleh pemerintah. Meskipun demikian, Sistem Peringatan Dini Tsunami tetap perlu mendapatkan perhatian, mengingat kerugian besar yang akan terjadi akibat terjadinya Tsunami ini.

Bukan berarti dengan tersedianya alat Sistem Peringatan dini Tsunami ini, akan membebaskan kita dari kerugian yang besar, akibat Tsunami. Thailand yang telah memiliki peralatan Sistem Peringatan Dini Tsunami, masih luluh lantak akibat Tsunami tahun 2004 yang melanda Samudera Hindia. Tetapi paling tidak alat ini bisa meminimalkan terjadinya kerugian yang terjadi.

Sebenarnya ada beberapa cara lain untuk meminimalkan korban jiwa maupun harta benda akibat Tsunami, antara lain:

–          merelokasi pemukiman penduduk di daerah pesisir yang rawan Tsunami, meski hal ini juga tidak mudah

–          membuat jalan atau lintasan untuk melarikan diri dari Tsunami

–          melakukan latihan pengungsian

–          menanami daerah pantai dengan tanaman bakau (mangrove), yang efektif untuk meredam energi gelombang

–          membiarkan adanya tempat terbuka untuk mengurangi energi gelombang

–          membuat ”break water” di tempat-tempat yang memungkinkan

–          dan tentunya membuat sistem peringatan dini (early warning system)

Cara Kerja

Sebuah Sistem Peringatan Dini Tsunami adalah merupakan rangkaian sistem kerja yang rumit dan melibatkan banyak pihak secara internasional, regional, nasional, daerah dan bermuara di Masyarakat.
Apabila terjadi suatu Gempa, maka kejadian tersebut akan dicatat oleh alat Seismograf (pencatat gempa). Dilautan, peralatan-peralatan elektronis juga mencatat serta merekam data-data dasar serta permukaan laut. Data-data tersebut kemudian dikirim melalui Satelit ke kantor-kantor yang berwenang (untuk Indonesia bernama BMG). Selanjutnya BMG akan mengeluarkan informasi adanya gempa, yang disampaikan melalui peralatan teknis secara simultan.

Informasi adanya gempa kemudian disampaikan melalui SMS, Facsimile, Telepon, Email, RANET (Radio Internet), FM RDS (Radio yang mempunyai fasilitas RDS/Radio Data System) dan melalui Website BMG (www.bmg.go.id). Apabila gempa tersebut telah memenuhi syarat untuk terjadinya suatu Tsunami, maka BMG akan mengeluarkan peringatan Awas Tsunami. Artinya, gempa tersebut berpotensi untuk menimbulkan Tsunami. Dengan adanya Peringatan ini maka, pemerintah akan mengeluarkan isu evakuasi. Untuk kategori Awas Tsunami ini, Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan untuk membunyikan SIRENE yang berarti Lakukan Evakuasi ! Peringatan Awas Tsunami ini juga akan secara otomotis ditampilkan melalui Mass Media Elektronik TV dan Radio.

Pengalaman serta banyak kejadian dilapangan membuktikan bahwa meskipun banyak peralatan canggih yang digunakan, tetapi alat yang paling efektif hingga saat ini untuk Sistem Peringatan Dini Tsunami adalah Radio. Oleh sebab itu, kepada masyarakat yang tinggal didaerah rawan Tsunami, diminta untuk selalu siaga mempersiapkan RADIO FM untuk mendengarkan berita peringatan dini Tsunami. Alat lainnya yang juga dikenal ampuh adalah Radio Komunikasi Antar Penduduk (RAPI) Mengapa Radio ? jawabannya sederhana, karena ketika terjadi gempa, seringkali aliran listrik padam, sehingga media elektronik yang masih dapat berfungsi tanpa bantuan listrik adalah radio, karena menggunakan baterai dan karena ukurannya yang kecil sehingga dapat dibawa kemana-mana. Radius jangkauannya pun relatif cukup memadai.

Kesimpulan dan saran

Jika Tsunami datang

  1. Jangan panik
  2. Jangan menjadikan gelombang tsunami sebagai tontonan. Jika gelombang tsunami dapat dilihat, berarti kita berada di kawasan yang berbahaya
  3. Jika air laut mendadak surut dari batas normal, tsunami mungkin terjadi
  4. Bergeraklah dengan cepat ke tempat yang lebih tinggi ajaklah keluarga dan orang di sekitar turut serta. Tetaplah di tempat yang aman sampai air laut benar-benar surut. Jika Anda sedang berada di pinggir laut atau dekat sungai, segera berlari sekuat-kuatnya ke tempat yang lebih tinggi. Jika memungkinkan, berlarilah menuju bukit yang terdekat
  5. Jika situasi memungkinkan, pergilah ke tempat evakuasi yang sudah ditentukan
  6. Jika situasi tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan seperti di atas, carilah bangunan bertingkat yang bertulang baja (ferroconcrete building), gunakan tangga darurat untuk sampai ke lantai yang paling atas (sedikitnya sampai ke lantai 3).
  7. Jika situasi memungkinkan, pakai jaket hujan dan pastikan tangan anda bebas dan tidak membawa apa-apa

Sesudah tsunami

  1. Ketika kembali ke rumah, jangan lupa memeriksa kerabat satu-persatu
  2. Jangan memasuki wilayah yang rusak, kecuali setelah dinyatakan aman
  3. Hindari instalasi listrik
  4. Datangi posko bencana, untuk mendapatkan informasi Jalinlah komunikasi dan kerja sama degan warga sekitar
  5. Bersiaplah untuk kembali ke kehidupan yang normal

Beberapa Kejadian Menarik Terkait Tsunami

Saat terjadi gempa bawah laut, ada beberapa saksi yang menyatakan bahwa mereka mendengar suara ledakan seperti tembakan. Suara bom sonic ini dihasilkan oleh gelombang gempa yang bertemu dengan permukaan air. Gelombang sonic ini dapat mencapai kecepatan 20,000 km / jam.

Selain suara ledakan sonic, pada beberapa kejadian tsunami di malam hari, terlihat gelombang air yang bercahaya. Hal ini disebabkan kehadiran algae yang dapat memantulkan sinar yang terangkat ke permukaan akibat gelombang gempa di dasar laut. Seperti diketahui bahwa banyak organisme bawah laut yang dapat memancarkan sinar apabila terganggu.Efek dari jutaan sinar mikroskopis ini terlihat bagai gelombang yang bersinar di malam hari.

Tsunami dalam sejarah

  • 7 Juni 1692 di Port Royal, Jamaica menelan korban lebih dari 2,000 jiwa
  • 1 November 1755 – Tsunami menghancurkan Lisabon, ibu kota Portugal, dan menelan 60.000 korban jiwa.
  • 8 Agustus 1868 di kota Arica, Peru menewaskan sekitar 15,000 jiwa
  • 26 Agustus 1883, letusan gunung Krakatau menimbulkan tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa.
  • 15 Juni 1896 di Yoshihimama (Jepang), dengan gelombang mencapai ketinggian 30 meter, menewaskan  27,122 jiwa
  • 28 Desember 1908 di Sisilia, kota Messina, dan pesisir pantai Italy menelan korban lebih dari 58,000 jiwa
  • 3 Maret 1933 di Sanriku district, Honsu (Jepang) menelan korban lebih dari 3,000 jiwa
  • 1 April 1946 di Alaska dan Hawaii menelan korban 159 jiwa
  • 22 May 1960 di Chile dan Hawaii menelan korban lebih dari 1,500 jiwa
  • 27 Maret 1964 di Selatan Alaska menelan 115 jiwa
  • 23 Agustus 1976 di South West Philipines, kota Alicia, Pagadian, Cotabato, Davao menelan korban 8,000 jiwa
  • 12 Desember 1992, Pulau Flores, Indonesia menelan korban sekitar 1,000jiwa
  • 26 Desember 2004, gempa besar dengan skala 8,5 – 9,0 Skala Richter (SR) terjadi akibat pergeseran lempeng benua Asia dan lempeng Indo-Australia, di Samudera Hindia, yang menimbulkan tsunami dan menelan korban jiwa lebih dari 250.000 di Propinsi Aceh (Indonesia), Asia Selatan, Asia Tenggara dan Afrika. Ketinggian tsunami 35 m,
  • 17 Juli 2006, Gempa yang menyebabkan tsunami terjadi di selatan pulau Jawa, Indonesia, dengan ketinggian mencapai 21 meter di Pulau Nusakambangan,  menelan korban jiwa lebih dari 500 orang.
  • 12 September 2007, di Bengkulu, M8.4, Memakan korban jiwa 3 orang. Ketinggian tsunami 3-4 m.
  • 25 Oktober 2010, gempa 7,2 SR yang disusul gempa 4, 6 SR di Samudera Hindia, Sumatera Barat, Indonesia, mengakibatkan terjadinya gelombang Tsunami setinggi 15 meter di Pulau Mentawai, menelan korban jiwa 450 orang.

(Sumber: https://thesrirachacookbook.com/)

Samsung Resmi Kenalkan 3 Galaxy

Samsung Resmi Kenalkan 3 Galaxy

Samsung Resmi Kenalkan 3 Galaxy
Samsung Resmi Kenalkan 3 Galaxy

Senior Product Marketing Manager Samsung Mobile

Samsung Electronics Indonesia, Selvia Gofar mengatakan, Galaxy Tab S5e, Galaxy Tab A with S Pen, dan Galaxy Tab A10 mempunyai keunggulan fitur yang saling melengkapi untuk berbagai gaya hidup konsumen yang berbeda aktivitas.

“Mulai dari produktivitas, entertainment, hingga pendidikan. Samsung Galaxy Tab seri terbaru ini juga memperkuat posisi Samsung sebagai pemimpin pasar tablet di Indonesia. Hal itu sekaligus membuktikan komitmen kami untuk semakin mendekatkan teknologi kepada gaya hidup konsumen, termasuk dunia pendidikan,” kata Selvia di Pratunam, Bangkok, Selasa (9/4/2019).

Galaxy Tab S5e

Untuk spesifikasi Samsung Galaxy Tab S5e menghadirkan bodi logam 5,5mm dan berat 400g, menjadikan tablet ini Samsung Tab S paling ringan yang pernah ada.

Layarnya berukuran 10,5 inci dengan mengusung teknologi Super AMOLED dan resolusi 2560 x 1600 pixel. Selain itu, tersemat kamera depan 8 MP, dan di belakang 13 MP.

Tab S5e ini menggunakan prosesor octa-core yang dipadukan dengan RAM 4 GB. Memori internalnya 64 GB, bila pengguna kurang tersedia slot microSD yang mendukung hingga 512 GB.

Dengan ditunjang baterai berkapasitas 7.040 mAh

yang dilengkapi fast charging, Samsung mengklaim tablet ini bisa menyala 14,5 jam penggunaan.

Lalu juga terdapat empat speaker AKG berteknologi Dolby Atmos. Selain itu tersedia port USB type C, POGO untuk mengoneksikan keyboard, jack audio 3,5 mm dan koneksi WiFi.

Untuk Tab ini memiliki beberapa varian warna yakni Black, Gold, dan Silver. Siapkan dana Rp7,499 juta sudah bisa membawa pulang. Akan tetapi, produk ini akan dijual pada akhir April 2019.

Galaxy Tab A with S Pen

Lalu untuk Galaxy Tab A with S Pen, mempunyai bodi yang ramping dengan Keyless All Black Front menjadikan tampilan Galaxy Tab A with S Pen lebih berkelas dan memberikan tampilan premium.

Hadir dengan layar berukuran 8 inci dengan screen-to-body ratio 76,5%. Samsung menggunakan layar IPS LCD dengan resolusi 1920 x 1200 pixel.

Ditenagai prosesor octa-core yang diracik dengan RAM 3 GB. Selain itu, ada ruang penyimpanan internal 32 GB, namun ditambahkan slot microSD hingga 512 GB.

Untuk kamera di bagian belakang berkekuatan 8 MP. Sementara di depan 5 MP. Ada port jack audio 3,5 mm, USB type C, dukungan Dolby Atmos dan tentu saja S-Pen. Baterai 4.200 mAh turut dibenamkan, lengkap dengan fitur fast charging.

Untuk masalah varian warna Galaxy Tab A with S Pen memiliki dua warna yaitu Black dan Silver, dengan dibanderol Rp3,999 juta dan akan dijual pada 15 April 2019.

Baca Juga : 

Perkembangan Teknologi Wireless

Perkembangan Teknologi Wireless

Perkembangan Teknologi Wireless Perkembangan Wireless
Perkembangan Teknologi Wireless
Perkembangan Wireless

Perkembangan Wireless

WiMAX adalah singkatan dari Worldwide Interoperability for Microwave Access, merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access atau disingkat BWA) yang memiliki kecepatan akses yang tinggi dengan jangkauan yang luas. WiMAX merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik.

Disamping kecepatan data yang tinggi mampu diberikan

WiMAX juga merupakan teknologi dengan open standar. Dalam arti komunikasi perangkat WiMAX di antara beberapa vendor yang berbeda tetap dapat dilakukan (tidak proprietary). Dengan kecepatan data yang besar (sampai 70 MBps), WiMAX dapat diaplikasikan untuk koneksi broadband ‘last mile’, ataupun backhaul.

Wi Max Standar BWA yang saat ini umum

diterima dan secara luas digunakan adalah standar yang dikeluarkan oleh Institute of Electrical and Electronics Engineering(IEEE), seperti standar 802.15 untuk Personal Area Network (PAN), 802.11 untuk jaringan Wireless Fidelity (WiFi), dan 802.16 untuk jaringan Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX).

 

Pada jaringan selular juga telah dikembangkan teknologi

yang dapat mengalirkan data yang overlay dengan jaringan suara seperti GPRS, EDGE, WCDMA, dan HSDPA. Masing-masing evolusi pada umumnya mengarah pada kemampuan menyediakan berbagai layanan baru atau mengarah pada layanan yang mampu menyalurkan voice, video dan data secara bersamaan (triple play). Sehingga strategi pengembangan layanan broadband wireless dibedakan menjadi Mobile Network Operator (MNO) danBroadband Provider (BP). Perbandingan beberapa karakteristik sistem wireless data berkecepatan tinggi digambarkan oleh First Boston seperti berikut.

Sumber : https://www.sekolahbahasainggris.co.id/