OLAHRAGA TENIS MEJA,SEJARAH TENIS MEJA DUNIA DAN INDONESIA

OLAHRAGA TENIS MEJA,SEJARAH TENIS MEJA DUNIA DAN INDONESIA

Olahraga Tenis Meja, Sejarah Tenis Meja Dunia Dan Indonesia
Tenis meja merupakan olahraga yang kondang di dunia, semua orang di dunia nyaris pernah memainkan olahraga ini. Menurut Hutasuhud (1988:4) tenis meja adalah suatu jenis olahraga yang dimainkan di atas meja dimana bola dibolak-balikan langsung dengan kenakan pukulan. Olahraga tenis meja boleh dimainkan dengan ideu membangkitkan bola selama mungkin dan boleh dimainkan secepat mungkin mematikan permainan lawan, terkait dari obyek permainan sendiri.

Permainan tenis meja awalannya dikenal sebagai interaksi ringan bagi masyarakat. Namun darimana asal permainan ini kapan dan siapa semula menciptakannya, diperoleh keterangan dari sebagian sumber sebagai berikut:
Sejarah tenis meja bermula terhadap jaman purbakala, yang berasal dari negara Iran. Permainan ini dimainkan dengan menggunakan kayu sebagai alat untuk memukul bolanya, dan bolanya yang terbuat dari usus binatang yang diisi angin. Sejarahpun berlanjut ke bangsa Prancis kuno lebih kurang terhadap abad ke XII yang bolanya terbuat dari kertas diktat dan dipukul dengan tangan. Sejarah lain yang menyatakan dari bangsa India yang menggunakan bola bersayap bulu dan pemukul kayu yang dibungkus kulit binatang menjangan.

Tenis meja bolah dibilang merupakan anak kandung dari tenis lapangan. di jaman 1870-an dan 1880-an tenis lapangan sedang meraih popularitasnya di benua Eropa dan Amerika. Terinspirasi oleh suksesnya permainan ini, orang-orang mulai tertarik membuat inovasi dengan memainkannya didalam ruangan.

Adalah seorang pria Inggris bernama David Foster yang pertamakali berinisiatif memainkan tenis di atas meja tahun 1890. Namun prangkat yang diperkenalkan Foster pun belum menggunakan bet dan bola seperti yang kami kenal sekarang. Rupanya tak hanya Foster yang miliki inisiatif serupa. masih di Inggris, seorang lakukan inovasi serupa tetapi tak serupa dengan Foster. Namanya Emma Barker. Dia memperkenalkan olahraga tenis meja dengn menggunkan meja yang dibentuk seperti lapangan tenis, raket yang diikat ditangan sebagai pemukul, dengan aturan menyerupai tenis lapangan. Barker mematenkan inovasinya itu di Amerika terhadap tanggal 21 januari 1891 permainan itu dinamai Inndor Tennis.

Berbarengan dengan itu munculah nama ”Ping Pong” adalah perusahaan bernama Parker Brothers yang membangkitkan nama ping pong sembari memperkenalkn bola berbahan seluloida dan juga mematenkan nama ”Ping Pong” terhadap tanggal 20 September 1900. Kata ping pong berasal dari bunyi pantulan bola seluloida sementara dimainkan di atas meja dan membentur bet.

Induk organisai internasional permainan tenis meja adalah ITTF ( International Table Tennis Federation ) yang didirikan terhadap tahun 1926. Organisasi ini menaungi keseluruhan organisasi tenis meja yang tersedia di dunia dan ITTF pula yang selalu mengeluarkan aturan permainan tenis meja yang kudu dipatuhi semua negara. Setelah berumur cukup dewasa, permainan ini tambah menyebar dan turut kondang hingga wilayah Asia, terlebih Jepang, Korea, dan Cina konon tentara inggrislah yang menyebarkan permainan tersebut.

Sejarah tenis meja di Indonesia baru dikenal terhadap tahun 1930 terhadap jaman itu hanya ditunaikan di bale-bale pertemuan orang -orang Belanda sebagai suatu permainan rekreasi. Sebelum perang Dunia ke II pecah, tepatnya tahun 1939, tokoh-tokoh pertenis mejaan mendirikan PPPSI ( Persatuan Ping Pong Seluruh Indonesia ). Pada tahun 1958 didalam kongresnya di Surakarta PPPSI mengalami pergantian nama menjadi PTMSI ( Peraturan Tenis Meja Seluruh Indonesia ). Tahun 1960 PTMSI sudah menjadi bagian federasi tenis meja asia, yaitu TTFA ( Table Tenis Federation of Asia ).

Perkembangan tenis meja di indonesia sejak berdirinya PTMSI hingga sekarang sanggup dikatakan cukup pesat. Olahraga tenis meja kerap dipertandingkan baik di tingkat nasional dan internasional. Indonesia selalu diundang didalam kejuaraan-kejuaraan dunia resmi sesudah indonesia terdaftar sebagai bagian ITTF terhadap tahun 1961. Selain kegiatan-kegiatan pertandingan tersebut, perihal lain yang patut dicatat didalam pertumbuhan pertenis mejaan nasional adalah berdirinya SILATAMA ( Sirkuit Laga Tenis Meja Utama ). Yang dimulai terhadap awal tahun 983, yang diselenggarakan setiap 3 bulan sekali dan juga Silataruna yang kegiatannya dimulai sejak 1986 setiap 6 bulan sekali.

Itulah materi perihal olahraga enis meja, sejarah tenis meja dunia dan Indonesia yang sanggup saya bagikan mudah-mudahan bermanfaat.

Baca Juga :

Kamera Ponsel Samsung dan Google Ditemukan Rentan Peretasan

Kamera Ponsel Samsung dan Google Ditemukan Rentan Peretasan

Kamera Ponsel Samsung dan Google Ditemukan Rentan Peretasan
Kamera Ponsel Samsung dan Google Ditemukan Rentan Peretasan

Keamanan pengguna ponsel Android kembali terancam. Sebuah laporan baru-baru ini menemukan kerentanan pada kamera ponsel Samsung dan Google serta ponsel Android lain dapat diretas dengan mudah.

Dilansir dari Forbes, laporan dari peneliti keamanan Checkmarx menemukan

kemungkinan para peretas untuk secara diam-diam mengambil foto dan video hingga mendengarkan percakapan pengguna ponsel.

Bug tersebut akan tak terdeteksi berbahaya bahkan oleh sistem anti-malware milik Google. Ponsel Google dan Samsung merupakan dua merek yang disebut rentan, meski merek lain juga memiliki potensi diretas.

Selain menggunakan kamera, peretas juga bisa mengambil data lokasi dari

seluruh foto maupun video yang pernah diambil.
Lihat juga:Pemkot Surabaya Pasang 280 CCTV Pengenal Wajah
Menurut XDA Developers, Checkmarx menciptakan aplikasi cuaca dummy sebagai proof-of-concept (PoC) yang tak memiliki izin untuk mengakses kamera. Aplikasi tersebut hanya meminta satu perizinan, yakni akses penyimpanan.

Meski tanpa mengakses kamera, ternyata aplikasi tersebut dapat mengontrol kamera pada ponsel Google maupun Samsung untuk mengambil gambar. Bahkan, kerentanan dengan label CVE-2019-2234 tersebut tak dapat diatasi walau aplikasi telah ditutup.

Checkmarx telah melaporkan kerentanan izin pada Google untuk ditindaklanjuti

pada 4 Juli 2019. Kemudian pada 1 Agustus 2019 google telah mengkonfirmasi bahwa kerentanan ini berdampak luas pada merek ponsel Android lainnya.

 

Sumber :

https://dunebuggyforsale.org/shinobi-apk/

Trump Dicemooh Tak Paham Soal 5G

Trump Dicemooh Tak Paham Soal 5G

Trump Dicemooh Tak Paham Soal 5G
Trump Dicemooh Tak Paham Soal 5G

— Presiden Amerika Serikat Donald Trump dicemooh lantaran dianggap tak mengerti soal pengembangan 5G. Cemoohan ini muncul setelah Trump mencuit agar Apple mengembangkan layanan 5G.

Cuitan itu dilontarkan Trump selepas ia berkunjung ke pabrik komputer Apple di Texas, Rabu (20/11). Setelah kunjungan itu Trump mencuit Apple bisa saja mengembangkan 5G.

“Saya meminta Tim Cook untuk melihat apakah dia dapat melibatkan Apple

dalam membangun 5G di AS. (Sebab) mereka memiliki semuanya – Uang, Teknologi, Visi & Cook!” tulis Trump.
Lihat juga:Pemerintah AS Kembali Perpanjang Lisensi Google ke Huawei

Cuitan tersebut kemudian menjadi ramai diperbincangkan sebab Apple dianggap bukan sebagai pihak yang berwewenang untuk mengembangkan jaringan 5G.

Pasalnya Apple adalah perusahaan perangkat mobile, bukan perusahaan yang memproduksi perangkat jaringan telekomunikasi. Saat ini produksi perangkat telekomunikasi hanya dilakukan oleh segelintir perusahaan seperti Huawei, Nokia, dan Ericsson.

Saat ini memang tidak ada perusahaan AS yang membuat jaringan

telekomunikasi. Perusahaan AS terakhir yang memproduksi jaringan adalah Lucent. Tapi, perusahaan ini dibeli oleh Alcatel, seperti ditulis Cnet.

Saran Trump menjadi relevan jika ia mendorong Apple memproduksi smartphone dengan teknologi 5G. Sebab, hingga saat ini Apple belum memiliki ponsel yang bisa digunakan dijaringan tersebut.

Saat ini, seluruh perusahaan yang memproduksi ponsel 5G berasal dari luar AS

seperti Samsung, OnePlus, dan Huawei. iPhone 11 yang baru saja dirilis September lalu pun belum mendukung jaringan 5G.

Walau masih kalah dibanding merek ponsel lainnya, para analis memprediksi Apple bakal meluncurkan ponsel 5G di 2020.

 

Sumber :

https://multi-part.co.id/microsoft-outlook-apk/

KELEMAHAN DAN PENGAWASAN SERTA PENINDAKAN

KELEMAHAN DAN PENGAWASAN SERTA PENINDAKAN

KELEMAHAN DAN PENGAWASAN SERTA PENINDAKAN
KELEMAHAN DAN PENGAWASAN SERTA PENINDAKAN

Mencuatnya kasus gagal bayar nasabah Bakrie Life, menurut Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, disebabkan oleh gabungan berbagai faktor seperti ketidakcermatan manajemen, kemungkinan terjadinya praktek pelanggaran usaha, kondisi ekonomi, dan penanganan saat krisis yang tidak tepat. Jika Bapepam-LK memang mengetahui penyebab kasus Bakrie Life, maka timbul pertanyaan mengapa Bapepam-LK selaku regulator dan pengawas tidak berhasil mencegah munculnya kasus Bakrie Life. Bahkan, ketika kasus Bakrie Life benar-benar muncul ke permukaan, Bapepam-LK terkesan hanya mau menyerahkan penyelesaian kasus tersebut kepada Bakrie Life dan para nasabahnya. Para nasabah diminta menyelesaikan permasalahan sesuai polis, dan bila menemukan indikasi tindak pidana para nasabah disarankan melapor ke Kepolisian.
Kasus Bakrie Life, dan juga kasus Antaboga Sekuritas, adalah contoh betapa lemahnya aspek pengawasan dan penindakan yang seharusnya dilakukan Bapepam-LK. Sebagai otoritas pasar modal dan lembaga keuangan non-bank, Bapepam-LK berfungsi sebagai regulator dan pengawas yang diberi wewenang khusus untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. Pemeriksaan atau penyelidikan oleh Bapepam diatur dalam Pasal 100, sedangkan wewenang penyidikan diatur dalam Pasal 101 UU 8/ 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 101 Ayat (2) UU 8/ 1995 menyatakan Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Bapepam diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Pasar Modal berdasarkan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Namun demikian, aturan UU 8/ 1995 ini mengandung kelemahan karena tidak mencantumkan wewenang Bapepam melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap lembaga keuangan non-bank selain pasar modal.
Keberadaan Penyidik PNS disamping Penyidik Kepolisian telah diatur dalam UU 8/ 1981 tentang Hukum Acara Pidana, Pasal 1 angka 1, dan Pasal 6 Ayat (1) yang menyatakan bahwa Penyidik dapat berasal dari pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. Sedangkan yang dimaksud dengan kegiatan “Penyidikan”, sesuai Pasal 1 angka 2 UU 8/ 1981, adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang terjadi dan menemukan tersangkanya.
Pasal 7 Ayat (2) UU 8/ 1981 menyatakan bahwa Penyidik PNS mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing, dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan Penyidik Kepolisian. Berdasarkan ketentuan ini, maka Penyidik PNS yang telah menemukan bukti awal adanya tindak pidana tertentu, harus segera melimpahkan kasus tersebut kepada Penyidik Kepolisian. Penyidik Kepolisian selanjutnya memproses lebih lanjut kasus tersebut dan kemudian melimpahkannya kepada Kejaksaan selaku Penuntut Umum.
Berdasarkan fakta yuridis tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penanganan kasus Bakrie Life, Bapepam-LK terbukti belum bekerja secara maksimal karena tidak melaksanakan penyidikan dengan benar. Jika tugas penyidikan tersebut dilakukan dengan benar dan berhasil menemukan indikasi pelanggaran pidana, maka Bapepam-LK seharusnya wajib meneruskan kasus tersebut ke Kepolisian dan bukannya malah menyerahkan tugas tersebut kepada para nasabah Bakrie Life. Hal serupa juga terjadi dalam kasus Bank Century dimana Bank Indonesia tidak berani melakukan penindakan terhadap pemilik Bank Century yang terbukti melakukan pelanggaran pidana berupa penerbitan L/C fiktif senilai Rp 1,8 triliun. Ketidaktegasan Bank Indonesia membuat kasus Bank Century bertambah besar sehingga biaya penyelamatan yang harus ditanggung LPS mencapai Rp 6,7 triliun. Prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan bank sering digunakan sebagai dalil untuk menutupi ketakutan dan kelemahan tersebut.
Kelemahan penindakan hukum sudah lama menjadi budaya hukum di Indonesia, sehingga bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang hanya pandai membuat undang-undang atau peraturan tetapi lemah dalam implimentasi dan penegakan hukumnya. Penegakan hukum di masa Reformasi hingga saat ini masih banyak diwarnai oleh budaya hukum warisan Orde Baru yang bernuansa korupsi-kolusi-nepotisme serta lebih cenderung membela kepentingan elit penguasa dan pemilik modal besar. Prof. Satjipto Rahardjo SH dalam Bernard L. Tanya et.al. (2006) bahkan menyatakan penegakan hukum di masa transisi pasca Orde Baru tidak hanya dijalankan seperti rutinitas belaka (business as usual) tetapi juga dipermainkan seperti barang dagangan (business-like). Di masa kini, menurut Prof. Satjipto Rahardjo SH (2007) penegakan hukum memerlukan kualitas progresif. Kita membutuhkan penegak hukum yang berkualitas di atas rata-rata. Undang-undang hanya berbicara abstrak dan datar, baru di tangan penegak hukum itulah kekuatan hukum bisa diuji kemampuannya. Penggunaan diskresi yang bertanggung jawab juga diperlukan guna mengatasi kebuntuan dalam penegakan hukum. Guna mengatasi hambatan penegakan hukum di sektor keuangan, Pemerintah dan DPR perlu membentuk lembaga pengawas independen yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) paling lambat 31 Desember 2010 sebagaimana amanat Pasal 34 UU Bank Indonesia (UU 23/ 1999 juncto UU 3/ 2004). Pembentukan OJK akan mengambil alih fungsi pengawasan yang selama ini dijalankan BI dan Bapepam-LK.

Baca juga :

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DANA NASABAH ASURANSI

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DANA NASABAH ASURANSI

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DANA NASABAH ASURANSI
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP DANA NASABAH ASURANSI

Kasus Bakrie Life lebih sulit diselesaikan karena hingga kini belum ada perlindungan hukum terhadap dana nasabah asuransi. Nasabah asuransi sebagai pihak konsumen selama ini hanya dilindungi oleh UU Perlindungan Konsumen (UU 8/ 1999). Namun demikian, UU Perlindungan Konsumen tidak mengatur mekanisme penjaminan dan pengembalian dana nasabah jika terjadi kasus perusahaan asuransi bermasalah. Di samping itu, UU Perlindungan Konsumen lebih banyak berfokus pada pengaturan dan perlindungan hak-hak konsumen dan terlaksananya kewajiban produsen secara umum. Padahal, yang lebih dibutuhkan oleh nasabah asuransi adalah kepastian pengembalian dana mereka jika terjadi kasus kegagalan usaha yang menimpa perusahaan asuransi.
Pengamat ekonomi Yanuar Rizky, sebagaimana dikutip Harian Sinar Harapan (17 September 2009) mengatakan bahwa permasalahan konflik antara nasabah dengan Bakrie Life tidak bisa dilepaskan dari pengawasan Bapepam-LK yang lemah dan tidak serius. Bapepam-LK terkesan hanya cuci tangan sehingga melihat masalah ini hanya sebatas permasalahan kontrak pengelolaan dana antara nasabah yang dirugikan dengan Bakrie Life. Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, Isa Rachmatarwata, sebagaimana dikutip Harian Bisnis Indonesia (17 September 2009) juga meminta para nasabah yang dirugikan Bakrie Life untuk menyelesaikan persoalan tersebut berdasarkan kontrak yang berlaku, sebab dalam setiap kontrak asuransi biasanya disebutkan tentang bagaimana cara penyelesaian masalah jika terjadi sengketa. Isa Rachmatarwata juga menegaskan agar para nasabah harus siap menempuh cara penyelesaian sengketa sesuai dengan polis, sebab jika pihak regulator ikut mengintervensi malah tidak sesuai dengan kontrak.
Direktur eksekutif AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia), Stephen Juwono, sebagaimana dikutip Harian Bisnis Indonesia (17 September 2009) mengatakan bahwa kasus Bakrie Life merupakan masalah internal antara Bakrie Life dengan para nasabahnya. Jika nasabah mengetahui adanya penyimpangan investasi, maka mereka dapat membawa masalah tersebut ke jalur hukum. AAJI hanya berwenang memberi sanksi kepada para agen pemasaran produk asuransi yang dianggap menyimpang yaitu agen yang tidak terdaftar dan tidak punya lisensi.
Pernyataan pejabat Bapepam-LK dan pengurus AAJI tersebut di atas, walaupun secara normatif terasa logis, tetapi secara faktual cenderung merugikan pihak nasabah asuransi. Proses penyelesaian sengketa melalui jalur Arbitrase lebih sesuai diterapkan bagi pihak tertanggung yang bermodal besar, sedangkan penyelesaian melalui jalur Mediasi, misalnya melalui Badan Mediasi Asuransi Indonesia, juga tidak dapat menjamin pengembalian dana nasabah secara utuh. Di samping itu cara Arbitrase dan Mediasi lebih cocok diterapkan untuk kasus-kasus sengketa keperdataan yang hanya melibatkan dua pihak atau sedikit pihak. Kasus Bakrie Life yang melibatkan ratusan nasabah lebih sulit diselesaikan melalui jalur Mediasi atau Abitrase karena kedudukan para nasabah cenderung lemah sehingga perlu perlindungan hukum dari Negara.
Proses penyelesaian sengketa melalui jalur hukum via Pengadilan Negeri juga sangat memberatkan nasabah karena proses peradilan di Indonesia umumnya masih cenderung lebih berpihak kepada pemilik modal besar, prosesnya berbelit-belit, lama, tidak ada jaminan menang, dan kalau toh menang seringkali eksekusi putusannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penyelesaian kasus Bakrie Life seharusnya lebih difokuskan pada upaya pengembalian dana milik nasabah, sedangkan proses hukumnya menjadi domain tugas Bapepam-LK. Jika dalam proses penyelidikan dan penyidikan Bapepam-LK menemukan indikasi tindak pidana, maka Bapepam-LK harus segera meneruskan kasus tersebut ke Kepolisian. Jika yang ditemukan hanyalah pelanggaran administratif, maka Bapepam-LK tidak perlu lapor ke Kepolisian tetapi cukup memberi sanksi administratif sesuai ketentuan yang berlaku. Sanksi administratif terberat tentu saja adalah penutupan perusahaan melalui pencabutan ijin perusahaan.
Nasib nasabah bank jauh lebih baik dibandingkan nasib nasabah asuransi karena di perbankan sudah ada program penjaminan dana nasabah penyimpan melalui LPS (Lembaga Penjaminan Simpanan) berdasarkan UU 24/ 2004. Bapepam-LK, menurut berita Koran Jakarta (21 September 2009) saat ini juga sedang merancang pembentukan lembaga penjaminan dana investor di pasar modal atau IPF (Investor Protection Fund) yang ditargetkan sudah terbentuk pada kuartal ke-2 tahun 2010. Dalam kajian pembentukan IPF disebutkan bahwa sumber pendanaan IPF berasal dari kontribusi investor melalui biaya transaksi investor (levy), perusahaan efek, self regulatory organization (SRO), dan Pemerintah. Pemerintah diharapkan ikut memberikan kontribusi karena selama ini investor di pasar modal juga memberikan kontribusi bagi pemasukan negara lewat pajak. Setiap transaksi saham di pasar modal akan dikenakan pajak 0,1 persen dari total nilai transaksi.
Program penjaminan harus diarahkan guna melindungi dana nasabah asuransi agar tingkat kepercayaan masyarakat tetap tinggi. Lembaga penjaminan dana nasabah asuransi, sebagaimana LPS, juga harus diberi peran sebagai lembaga penyelamat dan/atau likuidator perusahaan asuransi bermasalah. Dengan tambahan peran sebagai penyelamat dan likuidator tersebut, maka lembaga penjaminan ini dapat lebih mudah memberi kepastian pengembalian dana nasabah asuransi. Pendanaan lembaga penjaminan ini dapat berasal dari sumbangan Pemerintah, serta premi yang dikutip dari perusahaan asuransi dan nasabah asuransi. Mekanisme kerja lembaga ini mirip dengan perusahaan re-asuransi. Bedanya, kalau perusahaan re-asuransi berfungsi melindungi perusahaan asuransi, maka lembaga penjaminan berfungsi melindungi nasabah asuransi.

Sumber : https://busbagus.co.id/

KASUS BAKRIE LIFE DAN INOVASI PRODUK ASURANSI HIBRIDA

KASUS BAKRIE LIFE DAN INOVASI PRODUK ASURANSI HIBRIDA

KASUS BAKRIE LIFE DAN INOVASI PRODUK ASURANSI HIBRIDA
KASUS BAKRIE LIFE DAN INOVASI PRODUK ASURANSI HIBRIDA

Perusahaan industri jasa keuangan di Indonesia, termasuk perusahaan asuransi, saat ini mulai banyak yang melakukan terobosan pemasaran dengan menciptakan produk hibrida atau produk campuran, misalnya produk perbankan (deposito) digabung dengan produk asuransi jiwa. Produk hibrida ini diharapkan dapat mendatangkan manfaat ganda bagi nasabah yaitu mendapatkan bunga deposito sekaligus proteksi asuransi jiwa.
Perbankan di Indonesia memang belum ada yang menjadi universal banking di mana produk-produknya merupakan produk hibrida antara produk bank dan lembaga keuangan lain. Bank di Indonesia mayoritas masih berupa bank komersial (commercial banking) dan jika pun terdapat produk hibrida, jumlahnya masih sedikit dibandingkan dana di sektor perbankan. Sementara universal banking, yang banyak terdapat di Eropa dan juga di Jepang, membolehkan bank melakukan kegiatan usaha keuangan non-bank seperti investment banking dan asuransi. (Wulan Tunjung Palupi, 2009).
Di samping munculnya fenomena produk hibrida di sektor jasa keuangan, saat ini juga banyak dijumpai pola keterkaitan antar lembaga keuangan dalam bentuk kerjasama pemasaran produk keuangan. Produk investasi reksadana dan obligasi, selain ditawarkan di pasar modal, juga ditawarkan melalui perbankan. Dalam kasus semacam ini, perbankan hanya berperan sebagai agen penjual yang tidak ikut menanggung risiko kerugian. Pola kerjasama semacam ini tetap membutuhkan pengawasan agar tidak terjadi penyelewengan seperti pada kasus Bank Century dan Antaboga Sekuritas. Koordinasi pengawasan yang baik antara Bank Indonesia dengan Bapepam-LK sangat dibutuhkan untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat terhadap produk jasa keuangan. Kecenderungan munculnya produk hibrida dan semangat kerjasama di antara perusahaan jasa keuangan tampaknya akan semakin meningkat di masa mendatang, sehingga hal tersebut memunculkan wacana tentang perlunya membentuk lembaga pengawas sektor

Sumber : https://vhost.id/

Danger Gang

Danger Gang

Danger Gang
Danger Gang

band ini terdiri dari :
Vokal = Waka
Guitar = Hiko
Bass = Thera
Drum = Rei

Danger Gang dibentuk pada bulan September 2002 oleh sang vokalis Waka (わか) dan HIKO (gitar) dengan dukungan Ka-e (bass) dan Rei (drum). Pada bulan Januari 2003, Ka-e resmi menjadi anggota band ini, dan Rei mengikuti jejak ka-e pd bulan juni. Konser pertama mereka berlangsung di Kawasan Akadanobaba, pada 15 Januari 2003. Pada bulan Maret, mereka merekam singel pertama yg berjudul “Danger Gang no theme”, yang dijual di kawasan ekspres Takadanobu tgl 26 bln itu. Juga pada bulan Maret, ‘Danger Gang no Theme’ dijual di toko CD Indie di Tokyo. Pada bulan Juni, Edisi kedua dari “Danger Gang no theme” dirilis terbatas hanya sebanyak 100 kopi. Pada bulan Juli, Danger Gang merilis mini-album pertama mereka, CRASH. Untuk mempromosikan mini-album tersebut, mereka memulai CRASH to Dive TOUR pada bulan September dan selesai 30 Oktober 2003. Pada bulan Desember tahun tersebut, Ka-e keluar dari band diduga krn masalah internal band. pertunjukan terakhir Ka-e bersama danger gang adalah pada 28 Desember 2003 di Urawa NARUSHISU.

Pada bulan Januari 2005, Thera bergabung menjadi bassist danger gang, dan pada bulan Juni mereka merekam single kedua mrk, yg berjudul ‘Samurai’. single SAMURAI mulai d jual di Urawa NARUSHISU mulai 30 Juli. Kemudian dgn segera, Samurai Tour pun dimulai, dan selesai pada bulan September di Urawa NARUSHISU.

Pada tanggal 1 Januari 2006, mini album kedua danger gang, DOKUROCK, drilis. Kemudian pada bulan November, singel ketiga mereka, Retsu dirilis. pada 10 Oktober 2007, maxi-single mrk, “DUTY” dirilis. Promosi untuk sigle trsbt lebih diperluas lagi daripada sebelumnya.

Discography
Albums

* [2008.07.21] 「St. Beast」

Mini Albums

* [2004.07.18] CRASH
* [2006.01.01] Dokurock (ドクロック)

Singles

* [2003.07.??] Danger☆Gang no Theme (デンジャー☆ギャングのテーマ)
* [2005.09.04] Samurai (サムライ)
* [2006.11.03] Retsu (烈)
* [2007.07.28] DUTY

Baca Juga :

The Blue Hearts

The Blue Hearts

The Blue Hearts
The Blue Hearts

The Blue Hearts (ザ・ブルーハーツ ?) adalah grup musik rock Jepang dari pertengahan tahun 1980-an hingga awal 1990-an. Dibentuk tahun 1985, grup ini bubar tahun 1995.

Lagu perdana yang dirilis tahun 1987, “Linda Linda” berulang kali dipakai untuk iklan televisi, drama televisi (Socrates in Love, Gachi Baka) dan film layar lebar (Linda Linda Linda). Pada tahun 2004, HMV menempatkan The Blue Hearts di urutan ke-19 artis dan grup musik yang paling sukses dan berpengaruh di Jepang.

Anggota :

* Hiroto Kōmoto (甲本ヒロト ,Kōmoto Hiroto?) (vokal, blues harp, gitar)
Lahir di Okayama, 17 Maret 1963

* Masatoshi Mashima (真島昌利 ,Mashima Masatoshi?) (gitar, vokal, vokal latar)
Lahir di Kodaira, Tokyo, 20 Februari 1962

* Junnosuke Kawaguchi (河口純之助 ,Kawaguchi Junnosuke?) (gitar bass, vokal latar)
Lahir di Setagaya, Tokyo, 26 April 1961

* Tetsuya Kajiwara (梶原徹也 ,Kajiwara Tetsuya?) (drum)
Lahir di Fukuoka, 26 September 1963

Mantan anggota :

* Masami Mochizuki (望月正水 ,Mochizuki Masami?) (gitar bass)
Mochizuki sudah keluar sebelum The Blue Hearts merilis singel perdana.

* Ryūsuke Ei (英竜介 ,Ei Ryūsuke?) (drum)
Sama halnya dengan Mochizuki, Ei sudah keluar sebelum The Blue Hearts merilis singel perdana. Ikut dalam lagu “1985” yang dimasukkan dalam album kompilasi The Blue Hearts.

* Norio Yamakawa (山川のりを ,Yamakawa Norio?) (gitar bass)
Lahir 11 November 1965, mantan anggota Great Richies, Deep & Bites, dan The Coats.

Anggota pendukung:

* Mikio Shirai (白井幹夫 ,Shirai Mikio?)
Pemain kibor sewaktu rekaman dan konser The Blue Hearts mulai dari konser On Tour 1989 (3 Mei -31 Mei 1989) hingga bubar. Walaupun hanya sebagai anggota pendukung, fotonya ikut dipasang dalam buklet lirik album High Kicks. Ia pernah menjadi pemain kibor untuk band pengiring Maki Asakawa.

Perjalanan karier

Hiroto Kōmoto dan Masatoshi Mashima masing-masing sudah memiliki band sendiri namun bubar pada tahun 1984. Atas usul Mashima, di Februari 1985, keduanya membentuk The Blue Hearts. Anggota lain yang ikut bergabung adalah Masami Mochizuki pada gitar bass dan Ryūsuke Ei pada drum. Setelah The Blue Hearts berdiri, sejumlah live house di Shinjuku dan Shibuya menjadi tempat mereka sering tampil. Pentas pertama mereka di Shinjuku Loft, 3 Juni 1985. Dengan harga tiket 1000 yen, penonton sudah bisa menyaksikan The Blue Hearts ditambah segelas minuman pertama.[2]

Pemain bass Mochizuki mengundurkan diri sejak Juni 1985. Sambil menunggu anggota baru, Norio Yamakawa menggantikan sebagai pemain bass sementara. Mulai 17 Agustus 1985, manajer mereka, Junnosuke Kawaguchi mengambil alih peran sebagai pemain bass. Pada malam Natal 24 Desember 1985, The Blue Hearts untuk pertama kalinya mengadakan konser tunggal yang diberi nama Sekai Ichi no Christmas.[2]

Setelah konser Bright Lights Beat City di live house Meguro Rokumeikan, Tokyo, 21 Maret 1986, pemain drum Ryūsuke Ei mengundurkan diri. Sewaktu konser di Meguro Rokumeikan. Sejak 2 April 1986, Tetsuya Kajiwara menggantikan posisi Ryūsuke sebagai pemain drum. Penampilan pertama mereka di televisi adalah di televisi lokal Kanagawa TV (sekarang TVK) dalam acara Music Tomato Japan, 19 Mei 1986. Pada bulan yang sama, 3 buah lagu The Blue Hearts dimasukkan ke dalam album omnibus Just a Beat Show bersama lagu-lagu milik tiga band lain. Mereka mulai sering melakukan konser, mulai dari konser tunggal di Meguro Rokumeikan, Hibiya Yagai Ongakudō, hingga pertunjukan keliling di wilayah Kansai dan Tohoku.

Singel yang dirilis tanggal 25 Februari 1987, “Hito ni Yasashiku / Hammer” diproduksi sendiri oleh mereka. Debut dengan label mayor adalah singel “Linda Linda” yang dirilis 1 Mei 1987. Masih pada bulan Mei tahun yang sama, album pertama berjudul The Blue Hearts dirilis dengan diikuti konser keliling Jepang, Dobu Nezumi Tour. Konser dimulai 1 Oktober 1987 dan semuanya berjumlah 40 kali pertunjukan.[2]

Konser pertama mereka di Nippon Budōkan berlangsung 12 Februari 1988. Rekaman konser ini diberi nama Blue Hearts, Budōkan o Kengaku, dan mulai beredar 21 Juni 1988. Selanjutnya, konser keliling Pineapple no Gyakushū Tour berlangsung mulai 3 Oktober 1988 di 40 tempat di Jepang hingga awal tahun 1989.

Puncak kesuksesan The Blue Hearts adalah album ketiga Train-Train. Album tersebut dirilis 23 November 1988 bersamaan dengan singel “Train-Train / Mugon Denwa no Blues”, dan laku di atas 500 ribu keping. Lagu “Train-Train” juga dipakai sebagai lagu tema serial drama High School Rakugaki yang ditayangkan televisi TBS.

Mereka kembali memulai tur keliling, On Tour 1989 yang dimulai 3 Mei 1989. Seluruhnya terdiri dari 13 pertunjukan di 6 kota besar di Jepang (Sapporo, Sendai, Tokyo, Nagoya, Osaka, dan Fukuoka). Tur keliling On Tour 1989 dengan konser 3 hari di Gimnasium Nasional Yoyogi, Tokyo, 29 Mei-31 Mei 1989. Tur keliling, On Tour 1989-1990 kembali dimulai, 6 September 1989 di 57 tempat di Jepang.

Akhir karier mereka diwarnai keterlibatan salah seorang anggota dengan organisasi keagamaan. Singel ke-17, “Yūgure” yang dirilis 25 Oktober 1993 menjadi singel terakhir. Pada 1 Juni 1995, mereka tampil dalam acara Music Square di radio NHK-FM untuk mengumumkan bubarnya The Blue Hearts. Bulan berikutnya, The Blue Hearts merilis Pan sebagai album perpisahan, 10 Juli 1995.

Setelah The Blue Hearts bubar, Kōmoto, Mashima, dan 3 anggota baru membentuk band The High-Lows. Setelah The High-Lows membubarkan diri pada tahun 2005, mereka berdua membentuk The Cro-Magnons yang bertahan hingga sekarang.

Sumber : https://sorastudio.id/

Band Jepang yang Beraliran VISUAL KEI

Band Jepang yang Beraliran VISUAL KEI

Band Jepang yang Beraliran VISUAL KEI
Band Jepang yang Beraliran VISUAL KEI

Visual kei sendiri sebenarnya bukanlah jenis atau genre musik di Jepang, melainkan suatu gerakan dalam genre J-Rock yang mengutamakan penampilan yang berkesan visual sehingga menarik penonton. Visual Kei sendiri populer pada tahun 1990an dan penampilan visual kei sendiri dimulai oleh X Japan. Penampilan yang berkesan visual itu didukung dengan kostum yang sangatlah rumit dan juga make up yang cenderung tebal. Kebanyakan band penganut visual kei itu biasanya adalah band yang beranggotakan pria. Para anggota band visual kei sendiri biasanya memiliki kesan feminim atau kalau di Jepang, mereka disebut sebagai Bishounen atau cowok cantik.

Visual Kei sendiri tidak memiliki acuan pada jenis musik tertentu, tetapi sebagian besar dari band visual kei ini memainkan musik-musik berjenis Rock, Hard Rock, Gothic, Neoclassis, dan pop. Kadang-kadang mereka memasukkan unsur rap, murmured, growling, techno dan juga unsur digital dalam musiknya sehingga dalam band visual kei sendairi memiliki berbagai macam jenis musik sehingga jika kita mendengarkan musiknya tidak terkesan monoton.

Beberapa band visual Kei yang telah terkenal antara lain L`Arc~en~Ciel(walaupun sekarang mereka telah meninggalkan penampilan visual mereka), Dir en Grey, the GazettE, Alice Nine, Kagrra, Kra, Malize Mizer, X Japan, Due’le Quartz, Luna Sea, Vidoll, Versailles, exisTrace, SADS, Lolita23q, 12012, ScReW, SuG dan sebagainya. Saking banyaknya band yang sukses karena menggunakan penampilan visual kei, di Jepang-pun tumbuh kepercayaan di kalangan komunitas band, jika ingin sukses dalam bermusik, sebaiknya pada awal debut hendaknya menggunakan penampilan visual kei.

Di Indonesia sendiri, kebanyakan para remaja atau komunitas pecinta musik jepang khususnya pecinta visual Kei sangat menyukai band Dir en Grey, the GazettE dan juga Kagrra, dan juga 12012. Untuk Dir en Grey sendiri telah dibahas pada edisi yang lalu. Pada 2 band tadi (the GazettE dan 12012) memiliki keunikan yang berbeda.

Untuk 12012 (ichi ni zero ichi ni) yang digawangi oleh Wataru Miyawaki(vo), Hiroaki Sakai(G), Yuusuke Suga(G), Tomoyuki Enya(Ba), dan Kawauchi Toru(Dr) mereka memiliki ciri khusus dalam tiap albumnya. Dalam tiap album, semua lagu diciptakan oleh sang vokalis yaitu Wataru. Tiap lagu memiliki saling keterkaitan sehingga dapat dijadikan sebuah novel. Bukan hanya tiap lagu, tiap album juga memiliki suatu keterkaitan antara satu dengan lainnya. Kepiawaian Wataru dalam menciptakan lagu sekaligus mengarang cerita bagi lagunya sangatlah mengesankan sehingga membuat para pendengar menjadi penasaran dengan kelanjutan dari cerita dari lagu tersebuat. Dalam musiknya, nuansa pop dan rock cukup mendominasi dalam setiap lagu, contohnya saja lagu Mr. Liar yang bernuansa rock dan lagu Once Again yang bernuansa pop.

Lain halnya dengan the GazettE, group band yang digawangi oleh Ruki (vo), Reita(Ba),Aoi(G),Uruha(G), dan Kai(Dr), mereka menyajikan musik-musik dengan berbagai macam unsur yang berbeda. Dalam musiknya the GazettE lebih mengutamakan dalam permainan bass Reita. the GazettE menyajikan berbagai macam genre musik dalam tiap albumnya,seperti pada album Stacked Rubbish tengoklah pada lagu Chizuru yang bernuansa slow, Agony yang bernuansa rapp, Filth in Beauty yang bernuansa rock dan Hyena penuh dengan screaming khas Ruki pada lagu ini. Dalam tiap albumya, the GazettE selalu saja memberikan terobosan baru dalam musiknya jadi tiap kali mereka mengeluarkan album, pasti banyak sekali perbedaan yang terasa antara album satu dengan yang lain. Dalam tiap penampilannya the GazettE memakai kostum yang berbeda dan sangat rumit untuk ditiru juga pemakaian make up yang sedemikian rupa sehingga membuat para personelnya menjadi berwajah ‘cantik’ sama halnya juga dengan penampilan 12012 yang juga memakai kostum yang hampir mirip jenisnya dengan kostum yang dikenakan oleh the GazettE. Jadi, jangan sampai anda terjebak ketika anda melihat PV mereka dan menemukan wajah-wajah cantik disana karena mereka semua adalah laki-laki.

Belakangan ini, di indonesia merebak demam visual kei. Tiap kali ada event acara Jepang, para pecinta visual kei seringkali melakukan cosplay dengan memakai kostum yang dikenakan oleh band kesukaan mereka dalam PV(promotion video) ataupun dalam photobook. Bukan hanya cosplayers saja yang makin menjamur di Indonesia, band beraliran visual Kei juga mulai bermunculan di Indonesia seperti Pink Cherry, C’est A Dire dan masih banyak lagi. Kebanyakan band visual kei tersebut menyanyikan lagu-lagu milik Dir en Grey, L`Arc~en~Ciel, the GazettE, Miyavi dsb.

Diharapkan dengan banyaknya band bisual kei di Indonesia dapat merubah setidaknya corak musik Indonesia yang terkesan monoton menjadi lebih berwarna dan lebih menggigit. Untuk para pemain band visual kei Jepang, saya hanya bisa memberikan 2 thumbs up untuk mereka karena musik mereka benar2 membuat saya tergila-gila dengan musik yang mereka ciptakan dan yang mereka mainkan.

Sumber : https://balikpapanstore.id/

Menristekdikti: Guru Harus Manfaatkan Teknologi

Menristekdikti: Guru Harus Manfaatkan Teknologi

Menristekdikti Guru Harus Manfaatkan Teknologi
Menristekdikti Guru Harus Manfaatkan Teknologi
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, mengatakan di era revolusi industri 4.0 guru perlu mengikuti segala teknologi yang dapat membantunya mengajar. Hal itu diungkapkannya saat menghadiri Wisuda Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP PGRI) Jombang, pada Sabtu (20/4).
“Di era sekarang ini guru tidak boleh ketinggalan di dalam teknologi yang mendukung literasi, karena kalau seorang guru tidak mengetahui teknologi ini pasti akan kalah oleh murid,” ungkap Nasir.

Nasir mengingatkan ilmu yang diajarkan kepada murid tidak berhenti setiap

tahun melainkan terus diperbarui. Oleh sebab itu, guru tidak boleh berpuas diri dengan buku ajaran yang sudah lama terbit.
“Jangan sampai menjadi dosen atau guru ketinggalan teknologi, dengan menggunakan buku yang dipakai cetakan tahun-tahun yang lalu, tahun 2005 atau 2010, padahal sekarang sudah tahun 2019 dan harus update,” ungkap Nasir.
Lebih lanjut, Nasir menyatakan, di era Revolusi Industri 4.0 ini akan ada banyak mata pelajaran dan mata kuliah yang dapat diajarkan tanpa guru atau dosen sama sekali. Sehingga, guru dan dosen perlu meningkatkan kemampuan mengajarnya juga dengan bantuan teknologi.

Dengan demikian, para guru tetap dapat memberikan pengajaran yang

maksimal. “ami datang ke Korea Selatan, Jepang dan Cina bahkan sampai dengan Kanada. Ada suatu proses pembelajaran dimana mahasiswa sudah tidak lagi bersentuhan dengan orang di tingkat pendidikan tinggi,” kata Nasir.
Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pusat Unifah Rosyidi mengatakan, guru di Indonesia akan tetap dibutuhkan di era Revolusi Industri 4.0. Namun tentu saja para guru harus terus meningkatkan profesionalismenya.

“Profesionalisme adalah kata kunci dan menjadi perhatian global, karena itu

dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan terus belajar dan profesionalisme itulah yang menjadi kuncinya. Dengan terus mengasah diri Insya Allah kita akan bisa memposisikan diri apapun tantangannya di era 4.0,” ujar Unifah.