PENGURANGAN YANG DIPERBOLEHKAN

PENGURANGAN YANG DIPERBOLEHKAN

PENGURANGAN YANG DIPERBOLEHKAN
PENGURANGAN YANG DIPERBOLEHKAN
Pengurangan-pengurangan yang diperobolehkan untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak untuk pegawai tetap:
1. Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto, maksimum Rp 6.000.000,00 per tahun, atau Rp 500.000,00 per bulan.
2. Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai ke dana pensiun atau penyelenggara Tabungan Hari Tua atau Jaminan hari Tua, yang pendiriannya disahkan Menteri Keuangan, maksimal Rp 2.400.000,00 per tahun, atau Rp 200.000,00 per bulan.
3. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP):
Besarnya penghasilan tidak kena pajak menurut Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 162/PMK.011/2012 tentang penyesuaian besarnya penghasilan tidak kena pajak menjadi sebagai berikut:
a. Rp24.300.000,00 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;
b. Rp2.025.000,00 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin;
c. Rp24.300.000,00 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008;
d. Rp2.025.000,00 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.

OBYEK PAJAK

OBYEK PAJAK

OBYEK PAJAK
OBYEK PAJAK
PPh Pasal 21
Obyek pemotongan PPh Pasal 21
1. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap, baik berupa penghasilanyang bersifat teratur maupun tidak teratur.
2. Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya.
3. Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan sehubungan dengan pensiun yang diterima secara sekaligus.
4. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan.
5. Imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee, dan imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan.
6. Imbalan kepada peserta kegiatan antara lain berupa uang saku, uang representasi, uang rapat, honorarium,hadiah atau penghargaan dengan nama apapun.
7. Penerimaan dalam bentuk natura dan atau kenikmatan lainnya dengan namadan dalam bentuk apapun.
Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 21 (KEP-545/PJ/2000)
1. Pembayaran klaim asuransi dari perusahaan asuransi, baik asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, maupun asuransi beasiswa.
2. Imbalan dalam bentuk natura, kecuali : yang diberikan oleh bukan subyek pajak, diberikan di daerah terpencil, atau diberikan oleh pemerintah.
3. Iuran pensiun yang dibayar pemberi kerja kepada dana pensiun, iuran taspen yang dibayar pemberi kerja kepada Badan Penyelenggara Taspen, iuran THT/tunjangan hari tua yang dibayar pemberi kerja kepada dana pensiun, iuran jamsostek yang dibayar pemberi kerja kepada Badan Penyelenggara Jamsostek. (pengenaan pajaknya akan dilakukan pada saat penerimaan uang pensiun atau tunjangan hari tua).
4. Kenikmatan berupa pajak yang ditanggung oleh pemberi kerja
5. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang diberikan oleh Pemerintah.
6. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah.
PPh Pasal 22
Obyek pemotongan PPh Pasal 22
1. Impor barang
2. Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Anggaran,Bendaharawan Pemerintah baik di tingkat pusat daerah maupun pusat.
3. Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah.
4. Penjualan hasil produksi di dalam negeri yang dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di bidang industri semen, industri semen, industri rokok, industri kertas, industri baja dan industri otomotif.
5. Penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis dan gas.
6. Pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian dan perikanan dari pedagang pengumpul.
7. Penjualan barang yang tergolong sangat mewah.
Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 22 (254/KMK.03/2001 Jo 392/KMK.03/2001 Jo 236/KMK.03/2003 Jo SE-13/PJ.43/2001)
1. Impor barang atau penyerahan barang di dalam negeri yang berdasarkan Peraturan Perundang-undangan tidak terutang Pajak Penghasilan.
2. Impor barang yang dibebaskan dari bea masuk, yaitu terdiri dari:
a. Barang perwakilan negara asing dan pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik.
b. Barang untuk keperluan badan internasional dan pejabatnya yang bertugas di Indonesia yang dinyatakan sebagai bukan subyek pajak.
c. Barang untuk musium, kebun binatang, dan tempat sejenis untuk kepentingan umum.
d. Barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, agama, sosial, dan kebudayaan.
e. Barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
f. Barang untuk keperluan tuna netra dan penyandang cacat lainnya.
g. Persenjataan, amunisi, perlengkapan militer, suku cadang untuk keperluan pertahanan dan keamanan Negara.
h. Barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah  untuk kepentingan umum
i. Peti mati atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah.
j. Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.
k. Barang pindahan
l. Barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkutan, pelintas batas, barang kiriman (sampai nilai pabean tertentu).
m. Barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang bagi keperluan pertahanan dan dan keamanan negara.
n. Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN).
o. Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, dan kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan penangkapan ikan nasional.
p. Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional.
q. Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia.
r. Peralatan yang digunakan untuk Penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia.
3. Impor sementara yang semata-mata untuk diekspor kembali
4. Pembayaran oleh Bendaharawan Pemerintah (beban APBN/APBD) atas pembelian barang/jasa yang nilainya paling banyak Rp 1.000.000,00 (tanpa penerbitan SKB).
5. Pembayaran oleh Bendaharawan Pemerintah (beban APBN/APBD) atas pembelian bahan bakar minyak, listrik, telepon, gas, air PAM, benda-benda pos (tanpa penerbitan SKB).
6. Emas batangan yang diproses untuk menghasilkan barang perhiasan emas untuk tujuan ekspor.
7. Pembayaran/pencairan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) oleh Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (tanpa SKB).
8. Impor kembali (re-impor) atas barang-barang yang telah diekspor atau barang yang diimpor kembali untuk perbaikan, pengerjaan dan pengujian sepanjang memenuhi syarat yang ditentukan oleh Dirjen Bea dan Cukai.
9. Pembayaran untuk pembelian gabah dan/atau beras oleh BULOG

PENERIMA PENGHASILAN YANG DIPOTONG

PENERIMA PENGHASILAN YANG DIPOTONG

PENERIMA PENGHASILAN YANG DIPOTONG
PENERIMA PENGHASILAN YANG DIPOTONG
PPh Pasal 21
Orang pribadi dengan status sebagai Subjek Pajak dalam negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang tidak dikecualikan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak, baik itu sebagai pegawai maupun bukan pegawai, termasuk penerima pensiun. Penerima Penghasilan Bukan Pegawai antara lain meliputi:
a. Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
b. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya;
c. Olahragawan
d. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
e. Pengarang, peneliti, dan penerjemah;
f. Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan
g. Agen iklan;
h. Pengawas atau pengelola proyek;
i. Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara;
j. Petugas penjaja barang dagangan;
k. Petugas dinas luar asuransi;
l. Distributor perusahaan multilevel marketing atau kegiatan sejenis lainnya
PPh Pasal 22
Pihak yang dipungut PPh Pasal 22:
1. Mereka yang melakukan kegiatan impor barang
2. Rekanan yang menerima pembayaran dari Direktorat Jenderal Anggaran, Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah, BUMN/BUMD BPPN, dan Bank Indonesia atas penyerahan/ penjualan barang yang pembayarannya berasal dari dana APBN/ APBD;
3. Penyalur atau agen Pertamina;
4. Penyalur atau agen badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas.
5. Penyalur dan agen gula pasir dan tepung terigu dari Bulog, serta pembeli lainnya yang langsung dari Bulog;
6. Penyalur, dealer, agen, dan grosir semen, rokok putih dan rokok kretek, kertas, baja, dan otomotif, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri.
 
PPh Pasal 23
Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap yang berasal dari modal,pemberian jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong pajak
 
PPh Pasal 26
Wajib Pajak luar negeri dari Indonesia.

PROSES AKUNTANSI BANK

PROSES AKUNTANSI BANK

PROSES AKUNTANSI BANK
PROSES AKUNTANSI BANK

akuntansi : proses kegiatan dari pencatatan, pngklasifikasian, pengikhtisaran, dan penganalisaan dengan cara yang lazim dan dalam satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidaknya mempunyai sifat keuangan, serta pengintrapretasian hasil pnctatan tsb

akuntansi : suatu seni dalam mencatat, mnggolongkan, mngikhtisarkan, mlaporkan, serta menganalisis transaksi finansial yang dilakuakn prusahaan
dasar pengaturan akuntansi
A.umum
-pasal 6 KUHD
-AD perusahaan
-peraturan dari institusi lain
B.khusus
-PSAK 31 revisi 2001
-PAPI revisi 2001
-PSAK no 50, 55 revisi 2006
-PAPI revisi 2008
PAPI revisi 2001
-merupakan pnjelasan dari PSAK no 31 tntang ‘akun perbankan’
-mnjlaskan pdoman akuntansi stiap akun/pos dngn urutan berikut : definisi, dasar pngaturan, prlakuan akuntnsii, ilustrasi jurnal, pengungkapan

laporan keuangan bank

laporan keuangan bank

laporan keuangan bank
laporan keuangan bank

fungsi bank

1. menghimpun dana dari masyarakat
2. memberikan kredit
3. menerbitkan dan menjual surat berharga
4. memindahkan uang
6. menyediakan tempat untuk penyimpanan surat berharga
kerekteristik perbankan
-mengandalkan kepercayaan masyarakat
-sebagian besar merupakan monetary asset
-obyek yang diperdagangkan adalah uang
-jenis mata uang bnyak
-nilai mata uang berbeda dan cepat berubah
-bergerak di bidang jasa dngn frekuensi tinggi
-perlu menjaga likuiditas
-memiliki jaringan cabang yang banyak
kegiatan transakasi bank
a.rupiah
b.valas
dampak kegiatan bank
-biaya bunga
-pendapatan bunga
-biaya dan pendapatan non bunga
-resiko dan potensi resiko (resiko kresit, pasar, operasional)
perlunya akuntansi perbankan
a.mengingat karakteristik dan guna menjaga kepercayaan masyarakat shg mngikuti prkmbngn usha bank dngn wajar, maka diprlukan info keuangan bank
b.informsi keuangn bank disusun brdasarkan PSAK yng brlaku bgi semua prbankan di Indonesia
c.kseragaman dlm pnyjian lap keuangan bank
d.daya bangun laporan keuangan suatu bank dengan bank yang lain
e.PAPI ditrbitkan olh BI
jenis laporan bank
-neraca
-lap laba rugi
-lap perubahan ekuitas
-lap arus kas
-lap komitmen dan kontijensi
perbedaan antara manual dan computerisasi
a.manual
-semua pkrjaan dlakukan scra manual
-unsur mnusia mmgang pranan pnting
-kcrmatan dan ktepatan wktu pncttan sangat kritis
-pemisahan pekrjaan
b.komputerisasi
-key in transaksi
-kcrmatan dan ktetapan wktu pncatatan trjamin kmputer
-unsur yng pling kritis : program yng dgunakan, GIGO, hardware
ISTILAH
Aktiva produktif : penanaman dana bank baik dalam rupiah maupun mata uang asing yang diharapkan mampu menghasilkan pndaptan pda bank
kredit performing : AP yang kualitasnya tergolong Lancar dan Dalam Perhatian Khusus
Kredit non performing : AP yang kualitasnya tergolong Kurang Lancar, Diragukan, dan Macet
Komitmen : ikatan atau kontrak berupa janji yang tidak dapat dibatalkan secara sepihak dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi
kontijensi : kondisi atau situasi dengan hasil akhir berupa keuntungan/kerugian yang baru dapat dikonfirmasikan setelah terjadinya satu peristiwa atau lebih pda msa yng akn dtng
AKUN DALAM LAPORAN KEUANGAN
aktiva tidak menghasilkan:
-kas
-giro pada BI
-giro pda bank lain
aktiva produktif:
-pnempatan pda bank
-kredit
-surat berharga
-penyertaan
-tagihan debt
aktiva tetap:
-peralatan
-gedung
-tanah
aktiva lain lain:
-pos debet dalam penyelesaian
-saldo debet rek antar kantor (netto)
pasiva-kewajiban segera:
-kiriman uang
-setoran jaminan
-simpanan sementara
-pasiva lain2
dana pihak ketiga
-giro
-tabungan
-deposito
-sertifikat deposito
-pinjaman yang diterima
-kewajiban derivatif
modal cadangan dan rugi laba
biaya :
-biaya operasional (bunga, provisi, tenaga kerja, pnyusutan)
-biaya non operasional
pendapatan
-pendapatan operasional (bunga, provisi)
-pndptan non operasional

Kliring manual

Kliring manual

Kliring manual
Kliring manual
kliring adalah mrupakan mekanisme prhitungan hutang piutang antara satu bank dengan bank lain karena transaksi yang diakibatkan oleh nasabah
warkat kliring : sarana yang dipakai dalam lalu lintas pembyaran giral yang diperhitungkan dlm kliring dan biasanya terdiri atas cek, bilyet giro, Kiriman uang, nota debet, nota kredit, dan jenos warkat lain yang disetujui penyelenggara
Kliring otomatisasi : terjadinya pertukaran data secara elektronik melalui pemrosesan dengan mesin dalam bentuk standar yang telah diformat terlebih dahulu
pengelompokan nota/warkat kliring
a. nota debet keluar : warkat yang disetorkan oleh nasabah untuk keuntungan rekeningnya, bank penarik akan mendebit rek giro pada BI
b. nota debet masuk : warkat yang diterima oleh suatu bank atas cek sendiri yang telah ditari oleh nasabahnya, bank ini akan mengkredit rek giro pada BI
c. nota kredit masuk : warkat yang diterima oleh suatu bank untuk keuntungan rek bank tsb, bank pnerima warkat akan mendebit rek giro pada BI
d. nota kredit keluar : warkat dari nasabah sendiri untuk distorkan kpda nasabah bank lain, akan tercipta prhubungan giro bank yang menyrahkan warkat kpda bank lain akan mngkredit rek giro pada BI.
jenis kliring
-kliring umum
-kliring lokal
-kliring antar cabang
jurnal
*pada bank nasabah penerima cek bank lain
1. BI Giro
Wrkat kliring
2. warkat kliring
giro nasabah bank penerima cek bank lain
*pada bank nasabah pembayar
1. giro pembayar
BI giro

Sales Return ( d/h :Credit Memo )

Sales Return ( d/h :Credit Memo )

Sales Return
Sales Return

Sales Return ( d/h :Credit Memo )
• Perbaikan perhitungan cost retur. Saat ini, setiap retur akan mencari cost invoice yang terakhir (metoda Average dan FIFO yang tidak ambil dari SI).
Customer Receipt (d/h: Cash Receipt)
• Write off piutang bisa dilakukan ke lebih dari 1 account.
• History Overpay bisa diketahui siapa yang memanfaatkannya.
• Bisa edit rate pembayaran.
• Bisa melakukan settlement antara downpayment SO dan SI.

Item & Inventory
• Saldo awal (Opening Balance) bisa diisi per gudang.
• Setiap item mempunyai 10 custom field yang masing-masing bisa diisi sampai 80 karakter. Field ini bisa dipakai untuk menambah informasi khusus bagi user.
• Item sales discount bisa dijurnal ke account yang berbeda dengan invoice discount.
• Dari daftar item bisa diketahui dengan mudah saldo item induk (parent) yang mempunyai hubungan parent-child.
• Tabel Item by Warehouse sudah ditampilkan dalam urutan Parent-child-nya.
• Ada pilihan apakah saldo di gudang diperbolehkan / tidak untuk menjadi minus.
• Pada Item Transfer bisa memunculkan unit price begitu juga untuk report mutasinya (untuk konsinyasi).
• Job costing bisa roll-over ke lebih dari 1 barang.

Fixed Asset (Aset Tetap)
• Revaluasi aset tetap untuk penyesuaian perhitungan penyusutan bila terdapat perbedaan.
• Perbaikan pada jurnal depresiasi
• Bisa mengisi Intangible Asset.
Journal Voucher, Other Payment (d/h: Direct Payment) & Other Deposit:
• Penambahan form Other Deposit untuk penerimaan uang diluar piutang.
• Pemisahan antara form Journal Voucher dan Other Payment sehingga masing-masing bisa memiliki nomor urut yang berbeda.
• Deskripsi yang lebih panjang (80 karakter).

Baca Juga :

SOFTWARE AKUNTANSI

SOFTWARE AKUNTANSI

SOFTWARE AKUNTANSI
SOFTWARE AKUNTANSI

Software akuntansi dengan modul Account Payable, Account Receivable, Inventory, dan General Ledger yang terintegrasi.

Ada banyak fitur yang tersedia di Accurate 3. Fitur besar yang terdapat di versi ini adalah:
1. Pajak masukan di modul pembelian (Purchase order dan Purchase Invoice)
2. Harga satuan yang termasuk pajak (Inclusive Tax) di semua form yang ada hubungan dengan pajak (PPN).
3. Template untuk semua form dengan designer yang lebih mudah dan field-field yang lebih lengkap
4. Ongkos kirim (Freight) untuk modul pembelian dan penjualan
5. Sepuluh buah custom field yang tersedia di semua form yang berhubungan dengan item.
6. Perhitungan komisi Saleman yang lebih lengkap.
7. Penambahan modul Rekonsiliasi Bank.
Selain fitur-fitur besar di atas, berikut perincian penambahan / perbaikan fitur yang telah dilakukan di versi 3: Customer & Vendor
• Bisa mengisi Saldo awal lebih dari 1 invoice.

Purchase Order
• Ada penambahan field Terms, dan FOB
• History PO bisa dilacak dengan mudah.
• Uang muka PO sudah dipindahkan ke form Vendor Payment (d/h: Make Payment).

Purchase Invoice
• Terdapat field Fiscal Rate untuk pembelian mata uang asing dengan PPN.
• Field Rate dan Fiscal Rate bisa diedit.
• Ongkos kirim yang diisi bisa dibebankan ke vendor yang lain. Berguna bagi importir yang umumnya vendor forwarder-nya berbeda dengan supplier.
• Ongkos kirim dan discount bisa dialokasikan ke cost inventory.
• Item discount di masing-masing detail.
• Purchase Invoice dan Receive Item sudah terpisah. Masing-masing memiliki hak user yang terpisah.
• Penambahan nomor urut agar mempermudah pelacakan dokumen / data.
• Pembayaran (uang muka) bisa menggunakan cek yang tanggalnya berbeda dengan tanggal invoice.

Receive Item
• Tidak menjurnal ke Hutang dagang lagi, namun ke: Barang yang belum ditagih (Unbilled goods).
• Beberapa penerimaan barang bisa ditagih di dalam satu tagihan (Bill) dan hanya memunculkan 1 invoice yang harus dibayar.
• History penerimaan barang diambil dari PO nomor berapa dan ditagih di Bill nomor berapa dengan mudah dilacak.

Purchase Return (d/h: Debit Memo)
• Nilai retur bisa memasukkan nilai Tax, Freight dan Discount dari Purchase Invoice.
• Perhitungan cost retur sudah lebih baik.

Vendor Payment (d/h: Make Payment)
• Setiap form ada nomor urutnya agar mempermudah pengarsipan.
• Ada payment date.
• Bisa untuk pembayaran PPN (fiscal payment).
• Bisa melakukan Settlement antara Downpayment PO dengan PI.

Sales Order
• Ditambahkan field Salesman
• Bisa menghitung PPN di SO.
• Bisa dengan mudah mengetahui oleh SI mana telah diproses.
• Dengan mudah mengubah kena pajak/tidak sebuah order.
• Uang muka SO sudah tidak bisa dilakukan langsung lagi, melainkan harus di Customer Receipt.

Sales Invoice / Delivery Order
• Item service dari SO bisa diproses lebih dari 1 Sales Invoice
• Sales invoice telah dipisah dari DO. Masing-masing memiliki hak akses dan penomoran yang berbeda.
• Jurnal DO tidak ke akun piutang lagi.
• Dengan mudah bisa dilihat SI tertentu telah diretur ke mana saja.
• Nomor urut faktur pajak telah disimpan di dalam SI yang bersangkutan.
• Nomor PO sekarang = 20 karakter.
• Invoice dengan mudah bisa di-set kena pajak / tidak.

Sumber : https://synthesisters.com/

Kontinjensi adalah

Kontinjensi adalah

Kontinjensi adalah
Kontinjensi adalah

Kontinjensi
Kontinjensi adalah tagihan atau kewajiban yang timbulnya tergantung pada jadi atau tidaknya satu atau lebih peristiwa di masa yang akan datang. Jenis komitmen yang lazim antara lain :

1. Garansi Bank
Adalah Semua bentuk garansi yang diterima atau diberikan oleh bank yang mengakibatkan pembayaran kepada pihak yang menerima jaminan apabila pihak yang dijamin bank cidera janji. Garansi bank dapat berupa :
a. Penerimaan atau penerbitan jaminan dalam bentuk bank garansi, baik dalam rangka pemberian kredit, risk sharing dan standby L/C maupun pelaksanaan proyek seperti bid bonds, performance bonds atau advance payment bonds.
b. Akseptasi atau endosmen surat berharga yaitu pemberian jaminan atau garansi dalam bentu penandatanganan kedua dan seterusnya atas wesel atau promes atau aksep.
Garansi yang masih berlaku, baik diterima atau diterbitkan oleh bank disajikan dalam komitmen dan kontinjensi sebesar nilai nominal jaminan.

2. L/C yang dapat dibatalkan
Adalah jaminan dalam bentuk penerbitan L/C yang dapat dibatalkan dalam rangka ekspor impor atau lalu lintas perdagangan. L/C disajikan sebesar sisa jumlah L/C yang belum terealisasi.

3. Transaksi opsi valuta asing
Transaksi opsi valus yang masih berjalan pada tanggal laporan, wajib dilaporkan dalam laporan komitmen dan kontinjensi dan dijabarkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tengah pada tanggal laporan.

4. Pendapatan bunga dalam penyelesaian
Perhitungan bunga dari aktiva produktif non performing yang belum dapat diakui sebagai pendapatan bunga dalam periode berjalan.

5. Rasio Keuangan
Rasio keuangan adalah ukuran yang digunakan dalam interprestasi dana analysis laporan finansial suatu perusahaan.

Rasio keuangan dapat dibagi kedalam tiga bentuk umum yang sering dipergunakan yaitu : Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas ( Leverage ), dan Rasio Rentabilitas.

1) Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar peruahaan relativ terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini merupakan kewajiban bank).
Suatu bank dikatakan liquid apabila bank bersangkutan dapat memenuhi kewajiban utang-utangnya, dapat membayar kembali semua depositonya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan. Oleh karena itu, bank dapat dikatakan liquid apabila:
a) Bank tersebut memiliki cash assets sebesar kebutuhan yang digunakan untuk
memenuhi likuiditasnya,
b) Bank tersebut memiliki cash assets yang lebih kecil dari kebutuhan likuiditasnya,
tetapi mempunyai aset atau aktiva lainnya (misal surat berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya,
c) Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash asset baru melalui berbagai bentuk hutang.
Rasio yang rendah menunjukkan resiko likuiditas yang tinggi, sedangkan rasio yang tinggi menunjukkan adanya kelebihan aktiva lancar, yang akan mempunyai pengaruh yang tidak baik terhadap profitabilitas perusahaan.

Dalam rasio likuiditas, rasio yang dapat diukur antara lain : quick ratio, banking ratio, dan loans to assets ratio.
1) Quick Ratio
Rasio ini untuk mengetahui kemampuan dalam membiayai kembali kewajibannya kepada para nasabah yang menyimpan dananya dengan aktiva lancar yang lebih liquid yang dimilikinya.
2) Banking Ratio/Loan to Deposit Ratio (LDR)
Rasio ini untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dana dengan kredit-kredit yang telah diberikan kepada para debiturnya. Semakin tinggi rasionya semakin tinggi tingkat likuiditasnya.
3) Loan to Assets Ratio
Rasio ini untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi permintaan para debitur dengan aset bank yang tersedia. Semakin tinggi rasionya semakin rendah tingkat likuiditasnya.
2) Rasio Solvabilitas (Capital)
Rasio permodalan sering disebut juga rasio-rasio solvabilitas atau capital adequacy ratio. Analisis solvabilitas digunakan untuk: 1) ukuran kemampuan bank tersebut untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan, 2) sumber dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan usahanya sampai batas tertentu, karena sumber-sumber dana dapat juga berasal dari hutang penjualan aset yang tidak dipakai dan lain-lain, 3) alat pengukuran besar kecilnya kekayaan Bank tersebut yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya, dan 4) dengan modal yang mencukupi, memungkinkan manajemen bank yang bersangkutan untuk bekerja dengan efisiensi yang tinggi, seperti yang dikehendaki oleh para pemilik modal pada bank tersebut. Pada rasio permodalan, dapat diukur antara lain: capital adequacy ratio.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/

TEKNIK DASAR BERMAIN TENIS MEJA

TEKNIK DASAR BERMAIN TENIS MEJA

Teknik Dasar Bermain Tenis Meja
Bermain tenis meja terhadap dasarnya tidaklah sukar namun jikalau kita mendambakan menguasai dan menekuniniya pasti kita mesti menguasai teknik-teknik di dalam permainannya. Ada banyak sumber atau latihan segera bersama dengan club atau pelatih supaya mampu menguasai teknik basic bermain tenis meja.

Nah terhadap kesempatan ini olahraga bagus dapat sedikit menerangkan tentang teknik basic bermain tenis meja. Namun penjelasan ini bukanlah suatu pengetahuan yang mesti sepenuhnya anda kuasai namun paling tidak anda mampu menjadikannya refrensi atau acuan di dalam pelatihan. Anda mampu mencaari seputar olahraga yang lain untuk mampu melengkapinya.

Umtuk menguasai teknik basic bermain tenis meja olahraga bagus dapat membagi 4 bagian kegunaan mempermudah di dalam proses berlatihnya. yaitu:

1. Teknik memegang bet ( grip )
Ini teknik yang benar-benar mutlak dikala kita bermain tenis meja. Teknik ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu shakehand grip atau memegang seperti jabatan tangan. Teknik ini benar-benar kondang dan menjadi basic pelatihan dikarnakan mudah dan akurat di dalam memegang terhitung menggunakannya. Yang selanjutnya adalah penhold grip atau memegang seperti memegang tangkai pena. Namun butuh keahlian khusus untuk teknik pegangan ini dikarnakan posisi bet tidak sejajar kedepan melainkan menukik kebawah. Tetapi untuk pemula olahraga bagus merekomendasikan untuk memakai teknik pegangan shakehand grip saja.

2. Teknik siap sedian ( stance )
Ini adalah awal berasal dari bermain tenis meja dimana pemain siap sedia untuk memukul ataupun menerima bola. Dalam teknik ini olahraga bagus membagi dua bagian yaitu square stance yang bermakna posisi badan menghadap penuh kemeja bersama dengan kaki sejajar dan badan sedikit agak condong, tetapi posisi tangan sedikit direbahkan kedepan. Gunanya yaitu untuk bersama dengan mudah membaca dan menerima bola berasal dari lawan atau mengirim bola kelawan. Dan yang sesudah itu adalah side stance yang bermakna posisi badan menyamping baik samping kanan ataupun kiri. Pada teknik ini posisi badan anda mesti lebih dekat bersama dengan meja untuk lebih menguasai lapangan.

3. Teknik gerakan kaki ( footwork )
Dalam teknik basic bermain tenis meja pasti anda mesti melatih pergerakan kaki. Karena terhadap kala bermain tenis meja anda mesti melangkah kedepan, kesamping kanan atau kiri, bahkan kebelakang bersama dengan benar-benar cepat dan reflek. Cara melakukannya adalah lutut kaki yang menjadi tumpuan ditekuk ke depan atau ke samping sesuai cara yang anda mendambakan dan berat badan dibagi ke arah tumpuan dan ke belakan kegunaan keseimbangan.

4. Teknik pukulan ( stroke )
Ini adalah teknik yang benar-benar mutlak di dalam bermain tenis meja. Ada dua style pukulan inti yang mesti anda kuasai di dalam teknik basic bermain tenis meja yaitu :
Pukulan Forehand: Pukulan ini digunakan dikala bola mengarah ke sebelah kanan badan. Cara melakukannya adalah bersama dengan merendahkan posisi tubuh, lalu gerakan tangan yang memegang bet ke arah bola atau lumayan bersama dengan mensejajarkan bet bersama dengan pinggang namun tidak pengaruhi posisi siku.
Pukulan Backhand: Pukulan ini digunakan jikalau bola berada di sebelah kiri badan. Cara melakukannya yaitu mengarahkan bet ke sebelah kiri badan dan posisikan bet supaya pas ke perkenaan bola lalu dorong ke depan bersama dengan tidak pengaruhi posisi siku.

Untuk pemain kidal mampu anda jalankan bersama dengan kebalikannya.

Nah itulah materi tentang teknik basic bermain tenis meja yang mampu olahraga bagus bagikan mudah-mudahan bermanfaat.

Sumber : https://penjaskes.co.id/

Baca Juga :