Sosialisasi Pemilu Kurang

Sosialisasi Pemilu Kurang

Sosialisasi Pemilu Kurang
Sosialisasi Pemilu Kurang

Pemilihan umum semakin dekat. Tinggal menghitung hari, kita akan menggelar pesta demokrasi tersebut. Hanya saja kini banyak masyarakat yang masih bingung terkait aturan baru dalam pemilu kali ini.
Digantinya aturan mencoblos menjadi mencontreng dinilai beberapa kalangan akan menyebabkan banyak surat suara yang tidak sah. Pasalnya masyarakat masih terbiasa dengan nyoblos yang merupakan warisan di era-era terdahulu.
Beredar kabar bahwa surat suara yang dicoblos dengan spidol juga dinyatakan sah. Hal ini mengakibatkan kebingungan pada calon pemilih karena selama ini sosialisasi menyatakan hanya surat suara yang dicontreng yang dinyatakan sah.
Masalah ini menjadikan tanda tanya besar pada masyarakat tentang kesiapan KPU dalam menyelenggarakan Pemilu tahun ini. KPU harus lebih gencar dalam melakukan sosialisasi (terutama di pelosok) mengenai aturan-aturan dalam memilih secara detail karena Pemilu semakin dekat dan selama ini sosialisasi masih sangat kurang.

Baca Juga ; 

Puisi Pengantin Iblis

Puisi Pengantin Iblis

Puisi Pengantin Iblis
Puisi Pengantin Iblis

malam begitu mistis
bunyi dentang lonceng berbunyi tujuh kali
begitu pula saat kita berpelukkan di malam ini
tubuhku terasa hangat

udara malam beranjak pagi
meniupkan serpihan partikel embun
melapisi atap-atap yang kedinginan

kau masih dipelukku
mendengarkan dongeng keabadian
hingga kau tertidur lelap tepat di tengah malam

tiba-tiba kau bangun mendengar gemuruh suara
adalah kereta kuda
datang dari penjuru selatan
membawa sepasang iblis
meminjam tubuh kita untuk sebuah prosesi perkawinan
menjadi sepasang pengantin

Aku tak tahu setelah itu
setahuku tubuh kita menjadi dingin
seusai bercinta tadi

Solo, 14’02’09

Hujan Sehabis Malam

Hujan sehabis malam telah membuat kekasihku pergi
entah apa yang ia cari dalam gelap
mungkin hujan telah membuatnya lupa tentang aku

ia lari begitu saja meninggalkan aku yang terkurung dalam lumpur mati
sesungguhnya malam menyimpan misteri
tentang dirinya yang kuanggap bidadari

Hujan sehabis malam menyisakan gerimis sepi
pada aku yang kini menanti

Sumber : https://obatsipilisampuh.id/zooba-apk/

Tips Ajarkan Optimisme Pada Anak

Tips Ajarkan Optimisme Pada Anak

Ada tidak sedikit dalil kenapa seorang anak perlu mempunyai sifat optimis dari kecil. Salah satunya ialah akibat positif yang diterima bersangkutan dengan mental anak yang siap menghadapi tantangan di kehidupan masa mendatang. Studi pun menuliskan bahwa anak yang dapat membina sikap optimisme dalam kehidupan sehari-hari dapat terhindar dari rasa frustrasi, selalu bersemangat dalam menerima tantangan, tidak mudah menyerah, serta lebih panjang umur karena selalu berpikir positif.

Berdasarkan penjelasan dari para kawakan parenting, sikap optimisme pada anak dapat diajarkan pada usia 8 tahun kesatu. Sebab, di masa inilah anak-anak mudah dalam menyerap pembelajaran yang diberikan, terlebih bila kiat mengajarkannya disertai contoh dari anda sebagai orang tua. Untuk dapat memberikan pengajaran yang baik terhadap sikap optimisme pada anak, berikut 6 tips yang dapat disimak.

Jangan Mengeluh di Hadapan Anak

Tanpa sadar, Anda mungkin sering mengeluhkan sesuatu di hadapan anak. Baik mengenai pekerjaan, kejadian yang baru saja dialami, atau hal yang dilakukan oleh si kecil yang membuat Anda merasa khawatir dan cemas.

Memfokuskan diri pada hal-hal negatif malah melulu akan menunjukkan sikap pesimis pada anak-anak. Mereka akan beranggapan jika ada suatu masalah, mengeluh dan komplainlah yang akan dilakukan. Untuk itu, daripada mengeluh dan menyalahkan, usahakan Anda mengeluarkan uneg-uneg melewati ucapan-ucapan yang berarti positif untuk menunjukkan semangat berjuang pada si kecil.

Ajak Anak Untuk Tetap Percaya Pada Kemampuannya dan Berekspektasi Tinggi pada Sesuatu

Pada ketika si kecil mulai terlihat memiliki kemampuan yang lebih daripada teman-temannya, latih kemampuan tersebut. Tanamkan percaya diri pada diri si kecil guna menunjukkan kemampuan tersebut dan mengembangkannya. Ajarkan pula guna mempunyai ekspektasi tinggi terhadap kemampuan tersebut.

Dorong Si Kecil Bagi Berani Mengambil Risiko Dari Tindakan Yang Dilakukan

Anda sebagai orang tua, mungkin hendak merasa khawatir, cemas, dan takut ketika anak-anak menggarap sesuatu yang dirasa berbahaya. Alhasil, laranganlah yang akan diberikan. Akibatnya, anak akan mempunyai sifat manja dan pesimis lantaran takut menghadapi sesuatu yang dirasa baru dan membahayakan.

Tunggu Sejenak Sebelum Bereaksi Berlebihan

Tahan emosi sejenak ketika mendengar kabar tidak baik mengenai si kecil, baik dari laporan guru, wali murid lain, maupun tetangga. Tetapi, lihat dulu kondisinya, dan biarkan si kecil menyelesaikannya sendiri.

Misalnya, anda mendengar si kecil mendapat ejekan gemuk dan jelek dari teman-temannya di sekolah. Pada saat itu, jangan langsung bertindak dengan memarahi anak yang sudah mengejek putra/putri anda atau memanggil orang tuanya untuk menasihati. Tetapi, diamkan dulu. Tunggu dan lihat apa yang akan dilaksanakan si kecil guna mengatasinya. Jangan biasakan mereka menerima perlindungan secara terus menerus. Akan tetapi, biarkan mereka bertindak tanpa bantuan orang lain terlebih dahulu.

Baca Juga :

Tips Belajar yang Menyenangkan untuk Anak Usia Dini

Tips Belajar yang Menyenangkan untuk Anak Usia Dini

Belajar adalah sebuah pekerjaan yang terus dilaksanakan manusia, mungkin nyaris di sepanjang hidupnya. Bentuk dan caranya saja yang berbeda pada masing-masing tahapan usia. Berikut tips bagaimana menciptakan suasana belajar yang mengasyikkan untuk anak usia 2-6 tahun atau disebut usia dini. Berikut selengkapnya:

Ciptakan Suasana yang Kondusif
Suasana yang tidak kaku dan riang bakal menumbuhkan semangat belajar anak. Rasa nyaman pun keceriaan mengakibatkan emosi positif dan perasaan gembira, membuat otak lebih mudah menyerap semua informasi yang diberikan. Anak jadi lebih siap menerima pelajaran.

Sesuaikan Kegiatan Belajar dengan Kondisi Perkembangan Anak
Pada usia dini, anak memiliki karakteristik yang unik. Memiliki rasa berkeinginan tahu yang kuat namun daya perhatiannya pendek. Senang bereksplorasi, berjiwa petualang, tapi juga masih gampang putus harapan dan tidak lumayan pertimbangan dalam bertindak.

Ajak anak belajar hal-hal sederhana yang tidak membutuhkan perhatian terlalu lama. Buat anak terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar yang menyenangkan. Manfaatkan rasa berkeinginan tahunya untuk mengeksplorasi sesuatu, misalnya belajar mengenal benda-benda di sekitarnya. Biarkan daya imajinasinya membantu mencerna pelajaran yang diberikan, karena pada usia ini umumnya anak-anak kaya akan fantasi.

Menggunakan Otak Kanan dan Otak Kiri Secara Seimbang
Teori pendidikan terbaru menyatakan bahwa pikiran akan bekerja secara lebih optimal saat benak kanan dan pikiran kiri dipergunakan secara bersamaan. Otak kanan biasa digunakan untuk berpikir, mengelola data bersangkutan perasaan, emosi, dan seni. Sedangkan pikiran kiri fungsinya lebih pada mengolah data seputar sains, hitungan, dan segala yang berkaitan dengan logika.

Kegiatan belajar yang hanya melibatkan pikiran kiri, akan membosankan sampai menciptakan anak jenuh dan mengantuk. Sementara bila melulu pikiran kanan, mungkin anak akan senang sebab tidak sedikit berdendang namun ilmu yang masuk hanya sedikit. Baiknya memang mengombinasikan keduanya, pikiran kanan dan kiri, untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Suasana Alfa
Gelombang alfa adalah satu dari tiga gelombang yang dipancarkan pikiran manusia. Pancaran ketiga gelombang tadi dipengaruhi oleh situasi jasmani dan psikis. Gelombang alfa menyemprot saat insan dalam keadaan tenang. Anak akan lebih mudah mengetahui pelajaran dalam suasana alfa. Ini bisa didapat misalnya lewat ayunan lembut musik klasik.

Sumberhttps://medium.com/@kamfang.gamming/mendikbud-nadiem-makarim-meluncurkan-kebijakan-kampus-merdeka-e5539838055c

Tips Ampuh untuk Membangkitkan Semangat Anak Malas Mengerjakan PR

Tips Ampuh untuk Membangkitkan Semangat Anak Malas Mengerjakan PR

Salah satu peran orangtua dalam mengawasi pekerjaan akademik buah hati merupakan mendampingi saat mengerjakan tugas dari sekolah. Meski dilakukan di waktu yang senggang, kegiatan tersebut tidaklah mudah. Hal ini diakibatkan anak malas mengerjakan PR dan lebih memilih bermain. Lantas, bagaimana teknik supaya membangunkan motivasi kembali? Simak tips di bawah ini.

Berikan Kalimat-Kalimat Motivasi

Anak-anak memang belum mengerti akibat perbuatannya. Oleh karena itu, orangtua diharapkan mampu memberikan pengertian agar tidak menggarap hal yang berpengaruh buruk.

Jika anak malas mengerjakan PR, jelaskan akibat yang akan diterima. Misalnya, adik nanti akan dihukum guru dan pasti malu bila berdiri di depan kelas, diperhatikan oleh teman-teman. Di samping itu, beberkan deviden | laba berprestasi dengan mengerjakan tugas dari sekolah. Katakan pun kehormatan hati atas pencapaian tersebut.

Kalimat-kalimat motivasi tersebut pun harus diimbangi dengan menumbuhkan sikap disiplin pada anak. Buatlah pekerjaan dalam mengerjakan PR, sehingga tidak akan mengganggu waktu istirahat atau bermain. Sementara itu, sisipkan cerita orang-orang berhasil supaya semakin bersemangat dalam menjalankan kewajiban ini.

Sediakan Lingkungan Belajar yang Ideal

Salah satu alasan anak malas mengerjakan PR merupakan ada gangguan yang merebut perhatian seperti berkeinginan melakukan hobi atau bermain sendiri di rumah. Dalam hal ini, orangtua harus mengidentifikasi penyebab utama, sehingga dapat mengerjakan teknik supaya konsentrasi belajar buah hati kembali.

Setelah mendapatkan fokus anak, dampingi proses belajar dengan berperan sebagai teman cerita, mengajari sambil memberikan obrolan-obrolan sederhana. Ketika mengerjakan tugas, tahanlah diri guna terlampau tidak jarang bertanya apakah sudah selesai. Hal ini akan membuat si kecil terburu-buru dan tertekan.

Di samping dari sikap orangtua, usaha yang dilaksanakan supaya mendapatkan semangat anak merupakan dengan menciptakan suasana belajar menyenangkan serta kondusif. Hindarkan dari keramaian atau jangkauan televisi, menilik urusan tersebut dapat mengganggu konsentrasi. Untuk mewujudkan poin ini, usahakan berselancar di internet tentang bagaimana tips belajar menyenangkan.

Sumberhttps://www.surveymonkey.com/r/QCLYFPV

KARAKTERISTIK KELUARGA, PENYULUHAN KESEHATAN LANGSUNG, DAN MEDIA MASSA

KARAKTERISTIK KELUARGA, PENYULUHAN KESEHATAN LANGSUNG, DAN MEDIA MASSA

KARAKTERISTIK KELUARGA, PENYULUHAN KESEHATAN LANGSUNG, DAN MEDIA MASSA
KARAKTERISTIK KELUARGA, PENYULUHAN KESEHATAN LANGSUNG, DAN MEDIA MASSA
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang banyak terjadi di negara-negara tropis. Penyakit ini pun masih menjadi masalah kesehatan di dunia (Kemenkes RI, 2010) dan dikategorikan “re-emerging disease”. WHO (World Health Organization) dalam Malaria Report 2011 menyatakan bahwa malaria cenderung selalu meningkat dari tahun ke tahun. Data lima tahun terakhir menunjukkan bahwa pada tahun 2005 terdapat 83.551.210 kasus, tahun 2006 terdapat 85.573.379 kasus, tahun 2007 terdapat 86.746.527 kasus, tahun 2008 terdapat 74.585.630 kasus dan tahun 2009 terdapat 82.485.969 kasus. WHO (2011), melaporkan dari 106 negara yang dinyatakan endemis malaria terdapat 94.299.637 kasus malaria, 345.960 meninggal karenanya dan 2.426 kasus terjadi di Asia Tenggara selama tahun 2010.
Kondisi ini juga terpapar di Indonesia, populasi penduduk Indonesia hampir setengahnya tinggal di daerah endemik malaria (kecuali Pulau Jawa-Bali). WHO (2011) melaporkan bahwa terdapat 1.849.062 kasus dan 432 kasus meninggal selama tahun 2010. Terdapat 424 kabupaten/ kota endemis dari 576 kabupaten/ kota yang ada di Indonesia (Kemenkes, 2010).
Malaria juga merupakan penyakit yang mempengaruhi tingginya kematian terutama kelompok risiko tinggi, yaitu bayi, anak balita, dan ibu hamil. Malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia (Kemenkes, 2010). Secara tidak langsung, malaria menyebabkan melemahnya perekonomian masyarakat. GF (Global Fund AIDS, Tuberculosis, and Malaria) (2009), menyatakan bahwa penyakit ini dianggap sebagai keadaan berbahaya yang mempengaruhi setengah dari populasi dunia dan menjadi lingkaran kemiskinan di beberapa negara berkembang. Menurut perhitungan para ahli ekonomi kesehatan, kasus malaria saat ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi mencapai sekitar 3,3 triliun rupiah sebagai akibat dari tidak dapat bekerja selama satu minggu, biaya pengobatan dan lain-lain, belum termasuk biaya sosial seperti menurunnya tingkat kecerdasan anak dan menurunnya kualitas sumber daya manusia yang berdampak pada penurunan produktifitas (Kemenkes, 2010).
Penanggulangan penyakit malaria telah menjadi kerangka kerja pembangunan nasional, kerangka kerja ini sebagai implikasi dari kesepakatan MDGs (Millennium Development Goals) tahun 2015. Penanggulangan malaria dideklarasikan pula sebagai agenda kesepuluh Sidang WHA (World Health Assembly) di Swiss tahun 2011 (Kemenkes RI, 2011). Penurunan angka kejadian malaria menjadi 1 per 1000 penduduk merupakan indikator yang harus dicapai setiap negara yang menyepakati MDGs tersebut.
Pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan penyakit menular dilakukan melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif bagi individu atau masyarakat, dan ditegaskan pula bahwa pencegahan penyakit menular wajib dilakukan oleh masyarakat melalui perilaku hidup sehat (Kemendagri, 2009). Artinya penanggulangan penyakit ini perlu dilakukan secara komprehensif sesuai dengan paradigma sehat pembangunan kesehatan saat ini, yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian serta mencegah KLB (Kejadian Luar Biasa). Pencapaian hasil yang optimal dilakukan dengan upaya preventif dan kuratif yang berkualitas dan terintegrasi dengan lintas sektor, lintas program, dan lintas daerah (Kemenkes RI, 2010). Hal ini disebabkan karena malaria tidak mengenal batas-batas wilayah administratif (Bappenas, 2006).
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular menjadi upaya wajib (Kemenkes, 2004). Upaya wajib berarti upaya yang ditetapkan sebagai komitmen nasional dan global yang dianggap mampu menjadi daya ungkit tinggi dalam peningkatan derajat kesehatan manusia. Artinya penyakit malaria menjadi prioritas utama program di puskesmas.
Berdasarkan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014 telah ditetapkan target penurunan angka kejadian kasus malaria (Annual Parasite Index-API) dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk (Kemenkes, 2010). Angka kejadian malaria berdasarkan API sejak tahun 2005–2006 cenderung meningkat dari 2,93-3,14, namun tahun 2007-2011 dengan berbagai upaya pemerintah terjadi penurunan yang sangat tajam dari 2,87-1,75 (Kemenkes, 2012).
Setiap individu dapat terinfeksi plasmodium malaria, akan tetapi dalam keadaan vulnerable, risiko terinfeksi akan lebih tinggi. Keadaan ini akan bertambah lagi bila dipicu dengan faktor-faktor lain seperti usia, jenis, kelamin, ras, riwayat malaria sebelumnya, gaya hidup, sosial ekonomi, status gizi dan imunitas (Kemenkes, 2004). Sehingga, kondisi vulnerable yang dipicu dengan beberapa faktor di atas akan menyebabkan individu mudah terinfeksi malaria.
Penduduk yang tinggal di daerah endemik pun lebih rentan terkena penyakit malaria. Keadaan semacam ini akan meningkatkan risiko memburuknya status kesehatan masyarakat (Stanhope & Lancaster, 2004). Populasi yang rentan merupakan kelompok yang paling membutuhkan dilakukannya tindakan pencegahan dan proteksi terhadap penyakit (Jaspers dan Shoham, 1999; Webb dan Harinarayan, 1999). Salah satu upaya pencegahan yang dilakukan adalah menghindari/ memproteksi dari agent penyebab malaria.

INTERFERENSI DAN SIKAP BAHASA ASING

 INTERFERENSI DAN SIKAP BAHASA ASING

 INTERFERENSI DAN SIKAP BAHASA ASING
INTERFERENSI DAN SIKAP BAHASA ASING
Perkembangan masyarakat dapat mempengaruhi perubahan bahasa. Era globalisasi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan bahasa. Mudahnya informasi yang diperoleh, baik melalui media cetak, elektronik, maupun interaksi sosial dapat menyebabkan terjadinya perubahan bahasa. Adanya kontak antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain dapat memungkinkan terjadinya interferensi bahasa. Dengan demikian, salah satu perubahan bahasa adalah adanya interferensi bahasa.
Sejalan dengan itu, Alwasilah (1985:132) mengatakan bahwa setiap bahasa akan mengalami perubahan selama bahasa itu masih dipakai. Seringkali perubahan ini tidak kita sadari. Salah satu faktor yang mengakibatkan terjadinya perubahan bahasa karena pengaruh pemakaian bahasa lain. Hal ini sesuai dengan makna interferensi yang berarti adanya saling mempengaruhi antar bahasa. Pengaruh ini biasanya terlihat dalam peminjaman kosa kata dari bahasa lain.
Zabadi (2009:2) dalam makalahnya yang disampaikan pada Seminar Nasional di Hotel Grand Antares X, menyatakan masyarakat Indonesia yang berada dalam situasi kedwibahasaan sehingga memungkinkan terjadinya alih kode (code-switching), campur code (code-mixing), atau interferensi (interference). Di dalam keadaan seperti inilah bahasa Indonesia yang mereka pakai sering tidak lagi baik dan benar berdasarkan ukuran pemakaian kaidah bahasa Indonesia. Gejala ini menyebabkan perubahan situasi tindak tutur dari penggunaan bahasa daerah ke nasional, nasional ke daerah, nasional ke asing, atau asing ke nasional.

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku dan bangsa sehingga mengakibatkan adanya multibahasa. Di samping itu bangsa Indonesia tergolong bangsa yang terbuka terhadap pengaruh budaya bangsa asing. Adanya multibahasa bahasa dan pengaruh budaya bangsa asing dapat mengakibatkan kontak bahasa antara bahasa yang satu dengan bahasa lain sehingga tidak terelakkan terjadi interferensi bahasa.

Kota X merupakan kota besar yang tidak menutup kemungkinan terjadinya interferensi bahasa. Masyarakat Kota X termasuk masyarakat bilingual dan multilingual yang dapat mengakibatkan adanya interferensi bahasa. Di dalam pengamatan sepintas ada kecenderungan masyarakat kota besar, termasuk Kota X, menggunakan bahasa asing, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. Begitu pula halnya interferensi bahasa tidak hanya terjadi pada bahasa lisan tetapi bahasa tulisan. Tidak dapat dipungkiri bahwa interferensi bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia sangatlah tinggi, baik pada tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Contoh interferensi pada tataran fonologi antara lain singkatan ‘acc’ diucapkan [a-se-se] seharusnya dalam bahasa Indonesia diucapkan [a-c-c], singkatan ‘ac’ diucapkan [a-se] seharusnya dalam bahasa Indonesia [a-c]. Singkatan acc dan ac merupakan interferensi dari bahasa asing, yaitu bahasa Inggris. Ada pula bahasa Indonesia yang ter interferensi fonologi bahasa asing, contohnya ‘kecapnya kecap abc’ di mana pengucapan ‘a-b-c’ diucapkan dengan [a-b-se,] seharusnya [a-b-c]. Contoh pada tataran morfologi adalah nama badan usaha perhotelan antara lain ‘Garuda Hotel’ seharusnya ‘Hotel Garuda’, dan ‘Hotel Grand Angkasa’ seharusnya ‘Hotel Angkasa Agung’. Contoh lain, Rumah Makan ACC. Banyak orang mengucapkannya Rumah Makan [a-se-se]. Contoh pada tataran sintaksis banyak terlihat pada penggunaan bahasa di tempat umum, seperti ‘No Smoking’ yang memiliki padanan dalam bahasa Indonesianya adalah ‘Dilarang Merokok’
Di samping itu, dalam sejarah pemberian Anugerah Bahasa bernama Adibahasa yang diberikan oleh Pusat Bahasa, ternyata Provinsi Y tidak pernah mendapatkannya. Hal ini disebabkan Provinsi Y, khususnya Kota X, dinyatakan tidak tertib dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam surat-menyurat kedinasan maupun penulisan nama badan usaha. Khususnya, pemakaian bahasa pada nama badan usaha, masih banyak yang menggunakan bahasa asing.
Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Balai Bahasa X. Syarfina, dkk. (2009:61) menyebutkan masyarakat Kota X banyak melihat kata/istilah asing pada papan nama, papan reklame, nama gedung, spanduk dan lain-lain. Sebenarnya, mereka kurang bangga dengan banyaknya penggunaan kata asing di Kota X atau di sekitar tempat tinggalnya. Walaupun mereka suka menggunakan kata/istilah asing, mereka setuju pemerintah mengimbau para usahawan dan masyarakat menggunakan kata dari bahasa Indonesia untuk menamai papan nama atau papan reklame.
Data di atas menunjukkan bahwa interferensi bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia tidak dapat dihindari. Tingginya interferensi bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia mengakibatkan melemahnya jatidiri bahasa Indonesia. Hal itu karena interferensi bahasa akan mengakibatkan penyimpangan kaidah bahasa Indonesia, baik kaidah fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengindonesiaan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini merupakan pertaruhan harga diri bahasa Indonesia, seperti diungkapkan Badudu (1995:19) dengan adanya interferensi tersebut, kadang-kadang menguntungkan bahasa Indonesia, namun ada juga yang merugikan karena menyimpang dari struktur bahasa Indonesia.

MANAJEMEN MUTU TERPADU

MANAJEMEN MUTU TERPADU

MANAJEMEN MUTU TERPADU
MANAJEMEN MUTU TERPADU
Kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan masyarakat. Laporan terbaru United Nation Development Programme (UNDP) tahun 2013 menyatakan, “Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2012 menduduki peringkat 121 dari 187 negara dengan skor 0,629”. Laporan tersebut juga menyebutkan, di antara negara ASEAN, IPM Indonesia masih di bawah Malaysia yang menempati peringkat 64 dengan skor 0,769; Singapura 18 (0,895); Thailand 103 (0,690); atau Brunei Darussalam yang berada di posisi 30 (0,855). Begitu pula jika dibandingkan IPM negara berkembang lainnya, seperti China yang menduduki peringkat 101 dengan skor 0,699; Meksiko di 61 (0,755); Korea di 12 (0,909); Turki di 90 (0,7222); Kolumbia di 91 (0,719); dan Mesir di 112 (0,662) (Whisnu, 2013 : 1). Masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia dibanding dengan negara-negara ASEAN tersebut menunjukkan bahwa tingkat kualitas pendidikan di Indonesia belum juga menuju perbaikan yang signifikan. Berbagai masalah pendidikan berkaitan dengan masih rendahnya mutu pembelajaran yang dilaksanakan, baik mengenai kualitas pengajaran guru, kompetensi guru, output yang dihasilkan, kurikulum yang digunakan, bahkan mengenai kepemimpinan kepala sekolah masih menjadi sorotan utama. Kritik mengenai kualitas pendidikan di Indonesia banyak dikemukakan oleh para pakar pendidikan, peneliti bidang pendidikan, dan pemerhati pendidikan.
Tilaar (2006 : 5-6) mengemukakan bahwa, kemerosotan mutu pendidikan nasional tidak terletak kepada kemampuan intelegensi para siswa Indonesia, tetapi disebabkan oleh kesempatan yang tidak merata dalam memperoleh pendidikan yang baik pada anak-anak bangsa ini. Selain itu, kualitas pembinaan para guru, kesempatan belajar yang tersedia di dalam lingkungan sekolah dan masyarakat, serta biaya-biaya yang dibutuhkan di dalam pendidikan berkualitas rupa-rupanya belum secara merata dapat dinikmati oleh anak-anak bangsa. Sebagaimana telah diketahui bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum (standar isi), tetapi juga oleh faktor-faktor lain seperti : penguasaan para siswa terhadap isi yang telah digariskan di dalam kurikulum serta tersedianya sumber-sumber belajar yang memadai.
Hasairin (2008 : 10) menyatakan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara di dunia tetangga dan tidak terlepas dari tanggung jawab seluruh komponen bangsa Indonesia. Komponen yang harus bertanggung jawab adalah semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam dunia pendidikan, baik guru, orang tua siswa, Dinas Pendidikan, Departemen Agama, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), maupun DPR yang membawahi bidang pendidikan.
Umaedi (1999 : 1) juga menyebutkan bahwa mutu pendidikan selama ini kurang berhasil disebabkan strategi dan pengelolaannya tidak tepat sasaran.
Pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan (penyediaan buku-buku/materi ajar, alat-alat belajar, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya telah dipenuhi, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah) melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri.
Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Secara singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitas cakupan permasalahan pendidikan seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.

Wow! Di Indonesia iPhone 11 Pro Max 512 GB Dijual Rp27,5 Juta

Wow! Di Indonesia iPhone 11 Pro Max 512 GB Dijual Rp27,5 Juta

Wow! Di Indonesia iPhone 11 Pro Max 512 GB Dijual Rp27,5 Juta
Wow! Di Indonesia iPhone 11 Pro Max 512 GB Dijual Rp27,5 Juta

Smartphone baru Apple, iPhone 11 Series dipastikan akan dijual resmi di Indonesia pada tanggal 6 Desember 2019. Adalah Teletama Artha Mandiri (TAM), anak usaha Erajaya Group yang akan memboyong iPhone 11 Series kehadapan konsumen penggemar gadget premium di Indonesia.

Sebelumnya sudah diinformasikan bahwa TAM akan menjual smartphone

besutan Apple ini di jaringan ritel Erajaya, seperti iBox, Erafone dan Urban Republic. Selain itu, konsumen juga bisa membeli iPhone 11 Series di ritel partner Apple lainnya, seperti Story-i dan mEGallery di seluruh Indonesia.

Nah! Bagi kalian yang tertarik untuk meminang smartphone ini, harga detailnya sudah dibagikan. Ya! iPhone 11 64 GB ditawarkan dengan harga Rp12.999.000. Sementara, untuk varian 128 GB dan 256 GB, masing-masing dibanderol dengan harga Rp14.199.000 dan Rp16.199.000.

Tertarik untuk membeli iPhone 11 Pro? Kalian perlu merogoh kocek sedalam Rp18.499.000 untuk varian dengan internal storage berkapasitas 64 GB. Nah! Dua varian lainnya, yakni 256 GB dan 512 GB, masing-masing ditawarkan dengan harga Rp21.799.000 dan Rp25.799.000.

Sementara, iPhone 11 Pro Max yang datang dengan bodi bongsor ditawarkan

dengan harga Rp19.999.000 untuk varian paling kecil, yakni 64 GB. Bagi kalian yang tertarik membeli iPhone 11 Pro Max varian 256 GB dan 512 GB, masing-masing dijual dengan harga Rp23.699.000 dan Rp27.499.000.

Selama periode launching, yakni mulai tanggal 6 hingga 8 Desember 2019, konsumen yang tertarik untuk membeli iPhone 11 Series akan mendapatkan penawaran program promosi. Ya! Konsumen bisa mendapatkan diskon 50% untuk pembelian AirPods 2nd Generation.

Selain itu, program promosi lainnya adalah cicilan 0% hingga 24 bulan plus

gratis hingga dua bulan cicilan untuk pengguna kartu kredit BCA/BNI/BRI/CIMB Niaga/Citibank/HSBC/Mandiri dan Permata Bank. Selain itu, ada juga program keanggotaan gaya hidup TechProtec untuk perbaikan dan perlindungan iPhone selama 12 bulan.

 

Sumber :

https://rhydianroberts.com/

Estimasi Merupakan

Estimasi Merupakan

Estimasi Merupakan
Estimasi Merupakan

Estimasi merupakan sebuah proses pengulangan. Pemanggilan ulang estimasi yang pertama dilakukan selama fase definisi, yaitu ketika anda menulis rencana pendahuluan proyek. Hal ini perlu dilakukan, karena anda membutuhkan estimasi untuk proposal. Setelah fase analisis direncanakan ulang, anda harus memeriksa estimasi dan merubah rencana pendahuluan proyek menjadi rencana akhir proyek.

salah satu contoh estimasi adalah : Sistem Estimasi Biaya dan Usaha Proyek Pengembangan Software Sistem INformasi Bisnis

Berlatar belakang dari kesulitan tersendiri dalam estimasi biaya dan usaha proyek dalam proyek software karena karakteristik software yang membedakandengan proyek fisik maka penelitian inidilakukan. Kesulitan yang sering dihadapi dalam estimasi proyek software sangat berkaitan dengan sifat alami software khususnya kopleksitas dan invisibilitas (keabstrakan). Selain itu pengembangan software merupakan kegiatan yang lebih banyak dilakukan secara intensif oleh manusia sehingga tidak dapat diperlakukan secara mekanistik murni. Kesulitan-kesulitan lainya adalah Novel application of software, Changing technology, dan Lack of homogeneity of project experience

Dalam usaha estimasi sering menghadapi dua permasalahan yaitu over-estimates dan under-estimates. Barry Boehm, telah mengidentifikasi beberapa metode estimasi biaya dan usaha proyek pengembangan software, yaitu Model algoritmik, Analogi, Pendapat pakar, Parkinson, Top-down, dan Bottom-up.
Dalam penelitian ini metode yang dilakukan oleh peneliti adalah studi lapangan, studi kepustakaan, metodes survei, dan analisa dan pemodelan. Dan metode perancangan yang digunakan adalah perancangan tampilan layar, perancangan basis data, perancangan model sistem UML. Pendekatan model yang digunakan dalam menghitung besaran proyek adalah model function point (FP). Dibandingkan dengan pendekatan berbasis ukuran baris (LOC/Line Of Code), pendekatan FP lebih independen terhadap bahasa pemrograman sehingga bisa diterapkan pada jenis aplikasi yang berbeda baik aplikasi database yang non-procedural, sistem informasi berbasis web, maupun aplikasi penghitungan. Sedangkan Verifikasi terhadap validitas model yang dihasilkan diketahui dari sampel data yang masuk, tingkat kesalahan dalam regresi tingkat kesesuaian dengan model yang sudah ada.

Model yang dikembangkan dalam kajian ini meliputi model estimasi besaran usaha pengembangan proyek dengan pendekatan function point dan alat bantu berupa software untuk memasukkan nilai parameter function point tersebut dan menampilkan model yang dihasilkan. Untuk pembuatan model estimasi biaya dan usaha proyek pengembangan software pertama-tama dilakukan analisa parameter yang berpengaruh terhadap kedua variabel tersebut. Untuk menguji keterkaitan atau pengaruh dari variabel, digunakan perhitungan nilai korelasi dari setiap variabel yang di analisa. Diketahui bahwa nilai usaha (effort) proyek pengembangan software dipengaruhi oleh nilai besaran function point dan tingkat kompleksitas proyek software. Artinya semakin tinggi nilai function point dan tingkat kompleksitas proyek software akan membutuhkan effort yang semakin tinggi pula. Untuk menguji validitas model yang dibuat digunakan metode uji adjusted R2, standard deviasi estimasi dan prediksi pada tingkat L (Pred(L)). Dan Sistem yang dikembangkan dalam penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan system berorientasi object. Proyek software hasil observasi menggunakan dana atau biaya penyelesaian proyek yang relatif kecil atau cenderung kecil jika dibandingkan dengan besaran ukuran software yang dikembangkan, hal ini menunjukan bahwa software house hasil observasi belum mengestimasi biaya pengembangan software secara real sesuai ukuran software. Model estimasi biaya pengembangan software yang diperoleh dari hasil observasi mempunyai bentuk model eksponensial, sedangkan model estimasi usaha modelnya cenderung berbentuk linier.
Maka Sistem estimasi biaya proyek dapat digunakan bagi para pengembang software (software developer), manajer proyek, dan staf IT lainnya. Sistem ini memungkinkan untuk melakukan estimasi suatu proyek secara kolaborasi baik dengan pengguna lain dari organisasi yang sama maupun dari luar organisasi.

Baca Juga :