Persebaran perkebunan di Indonesia

Persebaran perkebunan di Indonesia

Persebaran perkebunan di Indonesia
Persebaran perkebunan di Indonesia

Persebaran perkebunan di Indonesia
1) Tebu; perkebunan tebu terdapat di Jawa Timur (Besuki, Kediri, dan Surabaya), Jawa Tengah (Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan), Cirebon (Jawa Barat), Aceh, Lampung, dan Sulawesi Utara. Sampai saat ini, Jawa Timur merupakan daerah utama penghasil gula.

2) Kina; pohon kina berasal dari Peru. Pada 1855 seorang ilmuwan Belanda, Junghuhn menanam kina di Indonesia, tepatnya di wilayah Priangan (di lereng Gunung Bukittunggul dan Gunung Malabar). Bagian yang dimanfaatkan dari pohon kina adalah kulit batang.

3) Karet; pohon karet yang ditanam di Indonesia adalah jenis Hevea Braziliensis (berasal dari Brasil). Daerah perkebunan karet meliputi Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Barat. Getah karet yang baru disadap disebut lateks. Lateks dicampur dengan asam cuka supaya pekat dan bergumpal, kemudian digiling di antara dua silinder. Sesudah itu, lateks dikeringkan di dalam ruang pemanas hingga menjadi sheet atau crepe. Sheet adalah lembaran karet dengan permukaan berpetak-petak, sedangkan crepe adalah lembaran yang lebih tipis dari sheet dan permukaannya kasar. Luas perkebunan karet di Indonesia sekitar 500.000 hektare dengan produksi 330.000 ton karet pada 1998. Pabrik-pabrik besar yang mengolah karet menjadi ban, antara lain Good Year(Bogor), Intirub (Palembang) serta Dunlop dan Bridgestone di Jakarta.

4) Kelapa; pohon kelapa dapat dijumpai di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah berpasir dekat pantai. Di Sulawesi Utara, di Kepulauan Sangir Talaud, kelapa ditanam di pegunungan. Hasil kelapa berupa kopra diolah menjadi minyak kelapa, margarin, dan sabun. Kendala budidaya kelapa ialah sempitnya areal perkebunan kelapa di Indonesia (sekitar 3 juta ha), hama dan pengalihan fungsi lahan. Komoditas kelapa yang diekspor berupa minyak kelapa, kelapa parut, dan arang batok kelapa.

5) Kelapa sawit; tanaman kelapa sawit berasal dari Guinea Afrika. Pada permulaan abad ke -20, perkebunan kelapa sawit dikembangkan di Sumatra Utara. Buah kelapa sawit menghasilkan minyak sawit dan minyak inti sawit yang dibuat menjadi margarin. Produksi kelapa sawit terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia ke luar negeri. Saingan kelapa sawit Indonesia terutama berasal dari Malaysia. Daerah penghasil kelapa sawit di Indonesia berada di Sumatra Utara, Aceh, Riau, Jambi, Lampung, Bengkulu, Sumatra Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Irian.

6) Tembakau berasal dari Amerika. Tembakau ditanam di Indonesia sejak abad XVII. Tanaman ini tumbuh baik di daerah yang memiliki hujan merata sepanjang tahun dan tanah vulkanis yang subur. Deli dan sekitarnya (Sumatra Utara), menghasilkan tembakau berkualitas tinggi. Daerah penghasil tembakau lainnya ialah Besuki (jawa Timur), Yogyakarta, Solo, Kediri, Klaten, Bojonegoro, Jawa Barat, Kedu, Payakumbuh, Lombok, Bali, dan Sulawesi.

Pemasaran tembakau menghadapi kesulitan karena kelebihan pasokan, terbatasnya pasar, adanya permainan antara pedagang perantara di daerah dan pabrik-pabrik rokok. Pusat pemasaran tembakau Indonesia berada di Bremen (Jerrnan).

7) Kopi; berkaitan dengan sistem tanam paksa oleh VOC, terdapat jenis kopi Arabica atau sering disebut kopi Jawa. Akibat serangan hama, jenis ini banyak yang rusak diganti dengan kopi Liberia. Namun, jenis kopi ini tidak tahan hama. Kemudian, diganti lagi dengan jenis kopi Robusta yang tumbuh di daerah dengan ketinggian 0-1.000 m. Perkebunan kopi terdapat di Jawa Timur, Lampung, Bengkulu, dan Sumatra Barat. Saat ini, luas perkebunan kopi di Indonesia mencapai kurang lebih 1.042.141 hektare . Setiap tahun Indonesia mengekspor 370.000 ton kopi. Pada 1990, volume ekspor naik menjadi 6,6 juta karung dengan nilai US$ 329 juta.

8) Teh; tumbuh dengan baik di ketinggian 300-1.200 m dari permukaan laut dan membutuhkan banyak curah hujan. Perkebunan teh terdapat di Garut, Sukabumi (Jawa Barat), Wonosobo (Jawa Tengah), Malang (Jawa Timur). Indonesia merencanakan 80% hasil teh dipasarkan ke luar negeri dan sisanya untuk keperluan dalam negeri. Daerah pemasaran teh ialah Singapura, Pakistan, Australia, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Jerman. Saat ini negara pengimpor teh Indonesia adalah Pakistan, yaitu sebesar 26,7 ribu metrik ton senilai US$ 29,9 juta.

9) Cengkih; tanaman cengkih dikenal sejak lama sebelum bangsa Barat datang ke Indonesia. Tanaman cengkih digunakan sebagai rempah-rempah. Cengkih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh subur di Kepulauan Maluku. Pada mulanya, bangsa Baraf (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) datang ke Indonesia untuk memperoleh rempah-rempah. Salah satunya adalah cengkih. Daerah penghasil cengkih di Indonesia, antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, Bali, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Lokasi persebaran tanaman perkebunan di. Indonesia relatif bervariasi.

Sumber : https://galleta.co.id/

Persebaran Pertanian Tanaman Pangan di Indonesia

Persebaran Pertanian Tanaman Pangan di Indonesia

Persebaran Pertanian Tanaman Pangan di Indonesia
Persebaran Pertanian Tanaman Pangan di Indonesia

Faktor yang berpengaruh terhadap persebaran tanaman pangan ialah iklim (kelembapan, suhu, dan curah hujan), tanah, serta kemampuan manusia yang berbeda dalam mengolah tanah. Dalam mengorganisasikan faktor-faktor tersebut, dibutuhkan sumber daya manusia yang meliputi kecakapan, keterampilan, dan penerapan teknologi baru di bidang pertanian.

Persebaran tanaman pangan di Indonesia adalah sebagai berikut.
1) Padi dihasilkan hampir di seluruh pelosok Nusantara (Jawa, Madura, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian (Papua)). Ada beberapa jenis padi yang tumbuh di Indonesia, antara lain padi sawah (banyak dijumpai di daerah yang irigasinya baik), padi gogo (padi yang ditanam di ladang/huma/tegalan), padi gogo rancah (ditanam sebelum musim hujan (sawah tadah hujan)).

2) Jagung dahulu merupakan salah satu bahan makanan pokok penduduk Madura dan sebagian Nusa Tenggara Timur. Sekarang sudah banyak penduduk di daerah tersebut makanan pokoknya beras. Daerah penghasil jagung terbanyak adalah Pulau Jawa.

3) Ubi kayu seluruhnya merupakan pertanian rakyat. Tanaman ini tumbuh dengan baik di daerah banyak hujan maupun di daerah yang kurang hujan, mulai dataran rendah sampai ketinggian 800 meter. Daerah penanaman ubi kayu (singkong) utama ialah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Nusa Tenggara Timur. Luas seluruhnya kurang lebih 1,9 juta hektare dengan produksi sekitar 15— 20 juta ton setiap tahun.

4) Kacang tanah mengandung protein yang tinggi. Daerah penghasil kacang tanah utama adalah Pulau Jawa dan Sulawesi. Produksi kacang tanah pada 1998 mencapai sekitar 691.300 juta ton.

5) Sayur-sayuran mempunyai arti penting dalam usaha memperbaiki gizi masyarakat. Sayur-sayuran di Dataran Tinggi Karo selain untuk memenuhi kebutuhan kota Medan dan sekitarnya, juga diekspor ke Singapura. Dataran tinggi subur di Indonesia yang merupakan kawasan potensial untuk budidaya sayuran adalah Pangalengan, Lembang, Ciwidey, Cianjur, Wonosobo, dan Malang.

6) Ubi rambat dan kedelai merupakan tanaman pangan yang diusahakan di ladang. Tanaman ini tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, dan Lampung. Di Irian (Papua), ubi rambat dijadikan makanan pokok penduduk setempat.

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

Unsur-unsur daftar pustaka

Unsur-unsur daftar pustaka

Unsur-unsur daftar pustaka
Unsur-unsur daftar pustaka

Daftar Pustaka
Daftar pustaka adalah informasi mengenai sumber referensi yang digunakan dalam penulisan sebuah karya ilmiah. Daftar pustaka perlu dilampirkan sebagai bentuk penghargaan atas pikiran atau pendapat orang lain yang dikutip dalam karya ilmiah tersebut.

Unsur-unsur daftar pustaka :

1. Nama penulis.

Apabila nama penulis terdiri lebih dari satu kata, maka nama yang paling belakang diletakkan di depan. Misal : Bryan Trevor Kim, ditulis -> Kim, Bryan Trevor.
Apabila penulisnya ada 2, maka yang dibalik cukup nama penulis yang pertama saja. Misal : Nathan Kim dan Spencer Lee, ditulis -> Kim, Nathan dan Spencer Lee.
Apabila penulisnya lebih dari 2, maka yang ditulis cukup nama penulis yang pertama saja dan diberi singkatan dkk. (dan kawan-kawan) atau et.al.Misal : Bryan, Nathan, Andra, dan Spencer , ditulis -> Bryan,dkk.
Apabila dalam sebuah daftar pustaka terdapat dua atau lebih buku yang ditulis oleh penulis yang sama, maka pengurutannya berdasarkan tahun terbitnya, dan nama penulis cukup ditulis sekali dan selanjutnya digantikan dengan garis.
Pemisahan antara nama belakang dan nama depan menggunakan tanda koma (,).
Setelah unsur nama penulis diakhiri tanda titik (.).
2. Tahun terbit.

Apabila ada 2 buku atau lebih yang ditulis oleh penulis yang sama, maka yang dituliskan lebih dulu adalah yang tahun terbitnya paling dulu.
Apabila buku tersebut tidak diketahui tahun terbitnya, maka cukup ditulis dengan t.t. (tanpa tahun).
3. Judul buku.

Semua huruf pertama dari tiap kata ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata tugas.
Jika daftar pustak diketik dengan komputer, maka judul ditulis dengan huruf miring. Jika ditulis tangan, maka diberi garis bawah.
Pemisahan antara judul buku dengan tahun terbit menggunakan tanda titik.
4. Tempat terbit.

Cukup menyebutkan kota lokasi penerbit buku.
Pemisahan antara unsur tempat terbit dengan nama penerbit menggunaka titik dua (:).
5. Nama penerbit.

Cukup menuliskan nama perusahaan penerbitnya.
Setelah unsur nama penerbit diakhiri tanda titik.
Aturan umum penulisan daftar pustaka :

Penyusunan daftar pustaka disusun secara alfabetis berdasarkan nama belakang penulis.
Penulisan daftar pustaka tidak perlu diberi nomor urut.
Daftar pustaka diletakkan di bagian akhir karya ilmiah.
Gelar akademik, pangkat, kebangsawanan tidak perlu dicantumkan.
Contoh penulisan daftar pustaka :

1. Dari internet -> Hasibuan, Rusli. “Menanam Jengkol di Bukit Kapur.” http://www.duniatani.or.id/riset/rusli/palawija_jengkol.html (diakses tanggal 12 Juni 2003)

2. Dari buku -> Hidayat, Komarudin.1996.Memahami Bahasa Agama : Sebuah Kajian Hermeneutik.Jakarta : Paramadina.

3. Dari surat kabar -> Shahab, Alwi. Ibadah Haji Tempo Doeloe. Republika, 01 Agustus 2004. Hlm. 24.

4. Dari majalah -> Soeara Moehammadijah, No. 4 Rabi’oel Awal 1354 H – Djoeni 1935, Tahoen XVII.

5. Dari makalah seminar -> Kartodirdjo, A. Sartono. 1993. Historiografi Tradisional dan Modern: Fungsi dan Strukturnya. Makalah disajikan dalam Simposium Internasional Ilmu-Ilmu Humaniora II Bidang Sejarah dan Linguistik, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyarakta, 26-27 April 1993.

6. Dari artikel yang diedit dalam satu buku -> Sulaiman, Eman. 2007. “Batik Klasik: Pesan Masa Lalu untuk Masa Depan”, dalam Pesona Batik: Warisan Budaya yang Mampu Menembus Ruang dan Waktu. Jakarta: Yayasan Kadin Indonesia.

7. Dari artikel -> Khansari, DN, Murgo AJ, Faith RE. 1990. “Effects of Stress on the Immune System”. Immunology Today, 11: 170–175.

8. Dari kumpulan tulisan -> Kartodirdjo, A. Sartono, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto (ed.) 1993. Sejarah Nasional Indonensia. Jilid 1. Jakarta: Balai Pustaka.

9. Dari arsip -> Algemeene Secretarie 22 Augustus 1914, No. 81, ANRI.

10. Dari undang-undang -> Republik Indonesia. 2002. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia.

Baca Juga : 

Jenis-jenis kutipan

Jenis-jenis kutipan

Jenis-jenis kutipan
Jenis-jenis kutipan

1. Kutipan Langsung.

Kutipan yang ditulis sama persis dengan sumber aslinya, baik bahasa maupun ejaannya. Cara penulisannya sebagai berikut :

a. Kutipan yang panjangnya <4 baris

Diketik seperti ketikan teks.
Diawalai dan diakhiri dengan tanda petik (“).
Sumber rujukan ditulis langsung sebelum atau sesudah teks kutipan.
Rujukan ditulis diantara tanda kurung, dimulai dengan nama akhir sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka, tanda koma, tahun terbitan, titik dua, spasi, dan diakhiri dengan nomor halaman (Penulis, Tahun:Halaman).
b. Kutipan yang terdiri dari 4 baris atau lebih

Diketik satu spasi.
Dimulai tujuh ketukan dari batas tepi kiri.
Sumber rujukan ditulis langsung sbelum teks kutipan.
Apabila pengutip memandang perlu menghilangkan beberapa bagian kalimat, pada bagian itu diberi titik sebanyak tiga buah.
Bila pengutip ingin menghilangkan satu kalimat atau lebih, maka pada bagian yang dihilangkan tersebut diganti dengan titik-titik sepanjang satu baris.
Apabila pengutip ingin memberi penjelasan atau menggarisbawahi bagian yang dianggap penting, pengutip harus memberikan keterangan. Keterangan tersebut berada diantara tanda kurung, misalnya : (garis bawah oleh pengutip).
Apabila penulis menganggap ada satu kesalahan dalam kutipan, dapat dinyatakan denga menuliskan simbol (sic!) langsung setelah kesalahan tersebut.
2. Kutipan Tidak Langsung.

Kutipan yang tidak sama persis dengan aslinya. Pengutip hanya mengambil pokok pikiran dari sumber yang dikutip untuk dinyatakan kembali dengan kalimat yang disusun oleh pengutip. Tujuan menggunakan kutipan tidak langsung ini untuk menghindari suatu kutipan langsung yang jika digunakan menjadi terlalu panjang.

Cara penulisannya :

Kalimat-kalimat yang mengandung kutipan ide tersebut ditulis dengan spasi rangkap sebagaimana teks biasa.
Semua kutipan harus dirujuk.
Sumber-sumber rujukan dapat ditulis sebelum atau sesudah kalimat-kalimat yang mengandung kutipan.
Apabila ditulis sebelum teks kutipan, nama akhir sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka masuk ke dalam teks, diikuti dengan tahun terbitan diantara tanda kurung.
Apabila ditulis seudah teks kutipan, rujukan ditulis diantara tanda kurung, dimulai dengan nama akhir sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka, titik dua, dan diakhiri dengan tahun terbitan.

Sumber : https://forbeslux.co.id/

Sistem kekerabatan dan organisasi sosial

Sistem kekerabatan dan organisasi sosial

Sistem kekerabatan dan organisasi sosial
Sistem kekerabatan dan organisasi sosial

Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.

Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
Bahasa

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.

Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sumber : https://bingo.co.id/

Wujud dan komponen

Wujud dan komponen

Wujud dan komponen
Wujud dan komponen

Wujud

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Komponen

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:

Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

Hubungan Antara Unsur-Unsur Kebudayaan

Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:
Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan.

Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.

Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:

alat-alat produktif
senjata
wadah
alat-alat menyalakan api
makanan
pakaian
tempat berlindung dan perumahan
alat-alat transportasi

Sistem mata pencaharian

Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:

Berburu dan meramu
Beternak
Bercocok tanam di ladang
Menangkap ikan’

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Makar Imperialis Barat Terhadap Indonesia

Makar Imperialis Barat Terhadap Indonesia

Makar Imperialis Barat Terhadap Indonesia
Makar Imperialis Barat Terhadap Indonesia

Indonesia sebagai negara Muslimin yang terbesar jumlah penduduk Islamnya dan paling besar potensi ekonominya dan paling strategis wilayah perairannya serta paling besar pula kansnya untuk memperoleh kemajuan ipteknya berhubung upaya peningkatan mutu sumber daya manusianya yang cepat. Dengan demikian Indonesia mampu bangkit menjadi negara besar setingkat negara super power. Perkembangan Indonesia yang dinilai oleh para kaki tangan imperialis Barat mulai mengarah kepada “Islamisasi” di segala bidang, cukup meresahkan mereka. Bahkan gerakan mencaplok Indonesia melalui program-program: Kristenisasi, deIslamisasi, sekularisasi, demoralisasi dan marjinalisasi (peminggiran peran) Ummat Islam; semua program-program tersebut dirasa akan terancam gagal bila stabilitas politik Indonesia terus berlangsung.

Maka mulailah bergerak segenap organ makar imperialis untuk membangkitkan gerakan penghancuran Indonesia . Amerika Serikat dan segenap negara-negara Barat bermuka dua dalam menyikapi maraknya gerakan separatis di seluruh Indonesia . Negara-negara imperialis tersebut memberikan statement resmi mendukung integritas nasional Indonesia . Tetapi mereka menggerakkan LSM – LSM mereka untuk memberikan dukungan moril maupun materiil kepada berbagai gerakan-gerakan separatis tersebut. Bersamaan dengan itu instabilitasi politik dengan kamuflase demokratisasi, serta upaya mengkondisikan ekonomi Indonesia dalam jeratan krisis moneter, terus berlangsung. Dengan dua tekanan ini (instabilitas politik dan krismon), negara kesatuan Republik Indonesia semakin tergantung kepada belas kasihan dunia Barat. Sehingga setiap kepala negara yang tampil memimpin negara ini harus menampilkan loyalitasnya kepada kepentingan imperialis Barat di Indonesia. Dalam kondisi negara dan bangsa yang demikian, berbagai kekuatan salibis (kaum salib) dan komunis serta kaum oportunis berkoalisi untuk menggalang konspirasi (persekongkolan) menghianati bangsa dan negara Indonesia yang kesekian kalinya dengan memobilisasi gerakan-gerakan separatis di seluruh Indonesia .

George Soros, pengusaha besar Yahudi Amerika Serikat menjadi komandan inti gerakan pengganyangan terhadap Indonesia . Dia menyerang nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat di pasar uang Singapura, sehingga nilai tukar Rupiah anjlok terhadap Dollar AS sampai Rp. 15 000,- per Dollar AS. Akibatnya Indonesia dihimpit krismon yang amat berat dan harga-harga sembilan bahan pokok naik dengan tajam sehingga meresahkan rakyat banyak. Mulailah dibiayai berbagai gerakan pengerahan massa turun ke jalan dengan isu sentral “menuntut reformasi” politik.

Perusahaan-perusahaan besar milik AS dan negara-negara Barat menghentikan operasinya sehingga jutaan buruh di PHK dan penyusutan pendapatan negara dengan sangat drastis. Menyusul para investor asing menarik modalnya dari Indonesia dengan alasan keamanan yang semakin runyam, sehingga banyak perusahaan besar gulung tikar diikuti dengan jutaan buruh kehilangan pekerjaannya. Semua pengganyangan dalam bidang ekonomi itu diarahkan untuk menciptakan kesengsaraan di kalangan rakyat jelata sehingga keresahan mereka dengan mudah diekploitasi untuk menjadi amuk massa serta gerakan pembangkangan rakyat terhadap pemerintah Orde Baru.
Dalam pada itu, lembaga rentenir (lintah darat) internasional IMF menjerat Indonesia dengan pemberian hutang guna “menolong” ekonomi Indonesia . Maka seluruh gerakan perekonomian Indonesia di bawah kontrol lembaga tersebut secara langsung. Dengan demikian leher perekonomian Indonesia sudah diikat dengan tali kekang imperialis Barat. Isu pelanggaran hak asasi manusia membayang-bayangi segenap jajaran pemerintahan Orba sipil maupun militer. Sehingga aparat keamananpun dibelenggu oleh isu tersebut, akibatnya tidak berani bertindak tegas terhadap massa yang semakin brutal dan tak terkendali.

Ancaman anarkhisme semakin mencekam sehingga Presiden Suharto mengundurkan diri dan digantikan oleh Wakil Presiden Habibie. Dengan berbagai himpitan tersebut, hampir segala keinginan imperialis Barat dituruti dan dilayani baik-baik oleh pemerintah. Beberapa keputusan penting telah diperoleh dari pemerintah demi kepentingan imperialis Barat dalam rangka skenario penghancuran Indonesia . Keputusan-keputusan tersebut adalah sebagai berikut:

1). Pemilu multi partai dengan sebebas-bebasnya segera dilaksanakan.
2). Kebebasan mass media diberikan seluas-luasnya.
3). Pembebasan tapol (tahanan politik) yang berarti pembebasan segenap tokoh-tokoh PKI dan yang sealiran dengannya.
4). ABRI dipecah menjadi dua yaitu TNI dan POLRI sehingga memberi peluang adanya rivalitas di antara keduanya.
5). Propinsi Timor Timur dilepaskan dari NKRI di bawah pengawasan PBB.

Setelah berhasil menelorkan dan menjalankan segenap keputusan tersebut, berakhirlah pemerintahan Presideb Habibie yang hanya berlangsung kurang lebih limaratus hari dengan cara yang sangat tragis.
Lima keputusan penting ini amat strategis bagi skenario penghancuran Indonesia , dengan rincian skenario sebagai berikut:

1). Dengan kebebasan mendirikan partai politik, memberi peluang kalangan imperialialis Barat membiayai partai-partai tertetu yang kiranya dapat dimanfaatkan sebagai kendaraan politik mereka untuk mengantarkan para kaki tangan mereka ke jenjang kekuasaan tertinggi guna mengendalikan sepenuhnya negeri ini. Mereka melalui pemilu yang sebebas-bebasnya menyusun skenario penghancuran Indonesia dengan menampilkan jajaran elit politik yang oportunis dan rela menjadi ujung tombak makar terhadap bangsa dan negaranya demi keuntungan pribadi atau kelompoknya. Model penghancuran Uni Sovyet yang dipimpin oleh presidennya sendiri dengan isu glasnost dan perestroika, tampaknya diterapkan sepenuhnya dalam skenario penghancuran Indonesia .

Maka melalui pemilu yang penuh berisi teror mental dan fisik terhadap rakyat serta gerakan money politik (politik uang), ditampilkanlah kepemimpinan nasional yang amat mendukung gerakan separatis di seluruh Indonesia serta bersemangat memecah belah berbagai komponen bangsa. Maka serentaklah gerakan adu domba antar suku dan antar berbagai penganut agama-agama meletus dalam bentuk berbagai kerusuhan SARA. Gerakan separatis di Aceh yaitu GAM mendapat pengakuan diplomatik, kongres rakyat Papua di Irian Jaya yang memperjuangkan lepasnya Irian Jaya dari NKRI diberi dukungan materi dan perlindungan hukum, gerakan pemberontakan Kristen di Maluku dengan FKMnya (Front Kedaulatan Maluku) mendapat perlindungan militer dan politik serta perlindungan hukum istimewa. Presiden Abdurrahman Wahid adalah presiden separatis dalam sejarah NKRI yang paling memprihatinkan dan paling memalukan. Dia ditampilkan untuk memuluskan jalan bagi Megawati Sukarno Putri sampai di kursi Presiden RI , sehingga para kaki tangan imperialis Barat dengan mudah akan menguasai berbagai posisi penting dalam kabinetnya. Presiden Megawati nantinya juga diskenariokan untuk tetap mendukung berbagai gerakan separatis di seluruh Indonesia . Dengan demikian proses kehancuran Indonesia akan semakin cepat.

3). Kebebasan pers memberi peluang bagi para investor asing untuk memborong saham perusahaan pers secara langsung. Maka bergeraklah George Soros membeli saham Metro TV, SCTV, RCTI. Juga membeli saham majalah dan koran TEMPO serta berbagai mass media lainnya. Ini berarti upaya penguasaan mass media di Indonesia dilakukan langsung dan pada gilirannya nanti opini rakyat akan dikendalikan oleh kalangan imperialis Barat secara langsung.

4). Pembebasan para tapol PKI membangkitkan ancaman baru terhadap umat Islam dan dikondisikan untuk terbentuknya kekuatan komunis yang kiranya dapat berfungsi bagi imperialis sebagai ring pengaman dari ancaman “bahaya kekuatan Islam”. Artinya, dendam massa PKI terhadap umat Islam dapat dieksploitir untuk menjadi kekuatan yang dapat menghadang kekuatan Islam yang besar kemungkinan akan terus melakukan perlawanan terhadap skenario penghancuran Indonesia .

5). Pengebirian institusi hankam (pertahanan dan keamanan). Sehingga institusi yang mengawal integritas nasional dan stabilitas keamanan didesposisikan dari fungsi teretorialnya. ABRI dipecah menjadi dua dengan politik belah bambu, yaitu dianak tirikannya TNI dan dianak emaskannya POLRI. Kekuatan KOPASUS dari TNI diperkecil dan kekuatan BRIMOB dari POLRI dilipatgandakan kualitas maupun kuantitas personel dan peralatan perangnya. Sementara itu tidak ada lagi undang-undang yang menjadi payung operasi TNI maupun POLRI setelah undang-undang subersif dicabut dan terus-menerus diambangkannya rancangan undang-undang PKB.
Indonesia semakin terancam dari kemungkinan rivalitas aparat pertahanan dan keamanannya dan tentunya fungsi TNI / POLRI sebagai pengawal integritas Nasional dan stabilitas keamanan akan sangat terhalang dengan posisi yang demikian ini.

6). Pelepasan propinsi Timor Timur membangkitakan semangat separatisme propinsi-propinsi lainnya khususnya propinsi yang banyak didominasi oleh pihak salibis (kalangan salib). Modus operandi proses pelepasan Timtim diterapkan di Maluku, Irian Jaya dan propinsi lainnya. Propinsi-propinsi yang bernafsu separatis telah menyaksikan betapa besar dukungan internasional terhadap gerakan separatis tersebut, sehingga meningkatkan keberanian mereka untuk mendeklarasikan nafsu separatis mereka itu.
Demikianlah berbagai skenario penghancuran Indonesia yang masih terus dilancarkan sampai hari ini. Semua upaya makar jahat tersebut tidak lepas dari upaya kembalinya hegemoni imperialis Barat terhadap Indonesia dengan politik masih seperti dulu yaitu devide et impera (dipecah belah untuk dikuasai). Dan ini adalah juga dalam rangka perang salib terhadap kaum Muslimin.

Baca Juga :

DEMOKRATISME JERAT POLITIK IMPERIALIS

DEMOKRATISME JERAT POLITIK IMPERIALIS

DEMOKRATISME JERAT POLITIK IMPERIALIS
DEMOKRATISME JERAT POLITIK IMPERIALIS

Disamping menjajah pola pikir serta mental dan spiritual umat Islam, Barat melancarkan pula penjajahan dalam bentuk sistem politik yang menjerat negara-negara Islam dengan dalih upaya menegakkan hak asasi manusia dan demokrasi. Sehingga penguasa yang dimunculkan di negara-negara Islam selalu bermental oportunis dan memfungsikan dirinya sebagai mandor pengawas terhadap bangsanya untuk membela supremasi hegemoni imperialis Barat. Sementara itu dalam rangka menguasai pikiran rakyat jelata, para kaki tangan imperialis Barat melansir isu perjuangan membela nasib kaum buruh dan tani dengan konsep perjuangan sosialisme / komunisme. Sedangkan kalangan ekonomnya dicekoki dengan konsepsi Yahudi yang dibangun di atas prinsip-prinsip kedhaliman, yaitu:

1). Riba’ atau rente yang sering diistilahkan dengan bunga atau insentif yang sesungguhnya adalah pemerasan pihak piutang terhadap potensi ekonomi pihak yang berhutang. Sehingga yang punya modal dapat memfungsikan pihak yang tidak punya modal sebagai sapi perahannya.

2). Monopoli jalur keuntungan atau lebih tepatnya keserakahan meraih keuntungan pribadi dan membendung pihak lain memperoleh keuntungan itu.

3). Efisiensi modal dengan moto : membeli semurah-murahnya dan menjual dengan semahal mungkin. Inilah yang disinyalir oleh Allah Ta’ala sebagai golongan Al-Muthaffifin, yaitu golongan manusia dhalim yang apabila membeli minta dilebihkan timbangan / sukatannya dan apabila menjual dia pun mengurangi timbangan / sukatan (lihat Al-Muthaffifin 1 – 6).

Segenap aktifitas ekonomi di dunia, dibangun di atas tiga prinsip tersebut dan segenap Dunia Islam dikondisikan untuk tergantung dan terikat dengan sistem ekonomi ini.
Kaum imperialis Barat juga mencengkeramkan kuku penjajahannya dalam bidang sosial budaya melalui gerakan demoralisasi dan penetrasi (penyusupan) budaya asing. Praktek perang candu yang pernah dilancarkan imperialis Barat ke negeri Cina diterapkan sepenuhnya ke Dunia Islam dengan kuantitas dan kualitas yang berlipat ganda. Prostitusi (pelacuran), narkoba (narkotika dan obat-obat terlarang), perjudian, pergaulan bebas laki perempuan, film-film dan gambar porno, pembudayaan mode-mode pakaian terbuka aurat atau pakain ketat membentuk lekuk-lekuk tubuh dan berbagai bentuk demoralisasi lainnya. Dengan gerakan yang demikian ini tumbuhlah bangsa-bangsa Muslimin yang lemah mentalnya, minder, penakut dan pesimistis ketika berhadapan dengan hegemoni imperialis Barat. Dengan mentalitas yang demikian inilah para ilmuwan dari anak-anak Muslimin belajar ilmu pengetahuan dan tehnologi (iptek) Barat. Sehingga segala upaya transfer iptek dari Barat ke Dunia Islam tidak dapat melepaskan negara-negara Islam dari jerat ketergantungan kepada negara-negara imperialis Barat.

Untuk mengontrol dan mengkoordinir segenap cengkeraman imperialis Barat terhadap dunia khususnya Dunia Islam, dibentuklah lembega-lembaga internasional dalam berbagai bidang garapan, meliputi bidang poleksosbudhankam (politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan). Lembaga-lembaga tersebut mengharuskan seluruh negara-negara yang ada di dunia, khususnya negara-negara Islam menjadi anggautanya atau menyediakan dirinya dibawah kontrol lembaga-lembaga tersebut. Untuk sebagai peringatan, saya sebutkan sebagian lembaga-lembaga internasional imperialis Barat itu; yaitu:

1). United Nation (Perserikatan Bangsa-bangsa) lengkap dengan Dewan Keamanannya sebagai lembaga yang bertugas mengontrol seluruh negara-negara di dunia untuk menjunjung tinggi supremasi hegemoni imperialis Barat. Lembaga ini juga berfungsi untuk mengkoordinir segala bentuk penekanan terhadap negara mana saja yang mengganggu kepentingan global imperialis Barat.

2). Bank Dunia (World Bank) dengan segenap lembaga-lembaga keuangan yang di bawahnya, bertugas mengendalikan dan mengontrol sistem ekonomi dunia agar tidak lepas dari cengkraman mafia perampok internasional imperialis Barat.

3). Amnesti Internasional yang bergerak dalam bidang hukum untuk mengontrol seluruh dunia agar tunduk kepada hukum dengan dasar falsafah hukum Barat. Lembaga ini memberi credit point bagi negara-negara yang patuh kepada kemauan Barat, dan sebaliknya memberi penilaian negatif bagi negara yang dinilai tidak mau tunduk kepada kemauan Barat. Bagi negara yang mendapatkan credit point dari lembaga ini, segenap fasilitas ekonomi dari lembaga-lembaga keuangan internasional akan diberikan kepadanya. Sebaliknya negara yang raportnya merah, lebih sulit mendapat fasilitas ekonomi dari lembaga-lembaga keuangan tersebut.

4). Komisi Internasional Hak Asasi Manusia, sebagai lembaga yang mengawasi pelanggaran hak asasi orang-orang yang dianggap manusia oleh mereka. Yaitu orang-orang yang menjadi kaki tangan imperialis Barat. Adapun selain mereka ini tidak dianggap manusia oleh lembaga ini sehingga segala bentuk penganiayaan terhadap manusia golongan ini tidak dianggap pelanggaran hak asasi manusia. Lembaga ini bertugas memobilisasi gerakan penekanan politik dan ekonomi kepada negara yang dianggap melanggar hak asasi manusia mereka.
Dan masih banyak lagi lembaga-lembaga internasional yang merupakan lembaga-lembaga imperialis Barat untuk menjaga supremasi hegemoni mereka di seluruh dunia khususnya Dunia Islam. Melalui lembaga-lembaga tersebut, imperialis Barat mampu menekan seluruh negara-negara bekas jajahan mereka di dunia untuk tunduk kepada kepentingan mereka. Mereka juga membangun jaringan masmedia internasional, sehingga segala bentuk penggiringan opini massa di dunia ini di tangan mereka. Maka dengan demikian lengkaplah pengepungan imperialis Barat kepada dunia khususnya Dunia Islam.

Sumber : https://aziritt.net/

IMPERIALISME BARAT MENDAPAT PERLAWANAN

IMPERIALISME BARAT MENDAPAT PERLAWANAN

IMPERIALISME BARAT MENDAPAT PERLAWANAN
IMPERIALISME BARAT MENDAPAT PERLAWANAN

Bila imperialisme Islam lebih bermakna pembebasan bangsa-bangsa tertindas dari para penguasa mereka, maka imperialisme Barat lebih banyak bersifat pendudukan dan penjajahan pihak yang menang terhadap pihak yang kalah. Sehingga bangsa-bangsa yang tinggal di bawah imperium Islam di Asia, Afrika dan Eropa sampai hari ini amat sulit melepaskan dirinya dari pangkuan Islam kecuali daerah yang mendapat serangan gencar dan biadab dari tentara salib Barat.

Oleh karena itu imperialisme Barat dari masa ke masa selalu mendapat perlawanan dari bangsa-bangsa yang berada di bawah imperium Barat. Perlawanan yang paling gigih tentunya dipelopori oleh-oleh bangsa-bangsa Islam yang nota bene banyak dari padanya pernah di bawah imperium Islam. Sehingga praktis imperialis Barat tidak mampu secara penuh menancapkan kuku-kuku penjajahannya di dunia Islam, berhubung gerakan perlawanan rakyat terus menerus meletus sebagai pemberontakan terhadap hegemoni imperialis Barat sampai paska perang dunia ke II.

Terjadilah perang perlawanan terhadap hegemoni Barat di wilayah Afrika Utara (meliputi wilayah Sahara Barat, Maroko, Aljazair , Libya dan Tunisia kemudian Mesir serta Sudan ). Muncullah di wilayah-wilayah tersebut gerakan perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Umar Mukhtar, dan tokoh-tokoh perlawanan rakyat lainnya. Muncul pula gerakan perlawanan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Nejed dan kemudian Hijaz yang dipimpin oleh As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang berakibat maraknya gerakan perlawanan umat Islam sedunia terhadap imperialisme Barat.

Penyebaran semangat perlawanan ini melalui media pelaksanaan ibadah haji di Makkah (Hejaz), berhubung umat Islam sedunia menunaikan ibadah haji tiap tahunnya di sana . Berbagai upaya untuk mempersulit pemberangkatan jemaah haji ke Mekkah oleh pemerintah-pemerintah kolonial di negara-negara jajahan mereka yang berpenduduk mayoritas umat Islam amat gencar dilakukan.

Negara-negara imperialis Barat semakin resah dengan bertambah menyebarnya pengaruh gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Dunia Islam. Maka mereka pun merekayasa dan menunggangi gerakan tandingan untuk mengeliminir pengaruh gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah agar semangat anti imperialisme Barat dapat dialihkan kepada semangat lain yang kiranya dapat mengekalkan cengkraman kuku-kuku imperialis Barat terhadap Dunia Islam. Gerakan tandingan yang dimaksud ditampilkan dalam tiga wajah yang saling bertentangan; yaitu:

1). Gerakan anti Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan slogan sebagai gerakan anti Wahhabisme. Seolah-olah gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah itu adalah gerakan pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab semata dan bukan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Gerakan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh tasawwuf (Sufiyyah) semacam Muhammad Zahid Al-Kautsari Al-Hanafi As-Sufiy, Ahmad Zaini Dahlan As-Sufiy dan lain-lainnya. Oleh karena itu yang bergabung dengan gerakan ini adalah kalangan shufiyyah (yakni kalangan penganut gerakan tasawwuf). Mereka ini adalah aliran-aliran tasawwuf di kalangan umat Islam yang resah karena merasa terancam eksistensinya dengan semakin menyebarnya pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah. Itulah sebabnya amat mudah bagi imperialis Barat untuk mengeksploitir keresahan mereka guna menjadi gerakan perlawanan terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia Islam.

2). Gerakan yang menyerupai Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahkan mengaku sebagai gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menampilkan diri berbeda dengan gerakan-gerakan tasawwuf. Tetapi justru gerakan ini nantinya lebih agresif dari gerakan tasawwuf dalam melawan gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena gerakan ini dibentuk oleh kaki tangan murni imperialis Barat yang diikat dengan janji disertai sumpah setia (yang dalam istilah syariah dinamakan bai’at). Para pecundang murni imperialis Barat itu ialah Jamaluddin Al-Afghani dengan murid setianya bernama Muhammad Abduh Al-Mashri. Keduanya telah diambil bai’at sumpah setianya oleh sebuah organisasi Zionis (Yahudi) di kota Paris , bernama Frey Masonrey. Setelah keduanya masuk kembali ke negeri Mesir, dibentuklah oleh keduanya cabang Frey Masonrey pertama di dunia Arab bahkan di duna Islam. Gerakan ini menggunakan basis pemahaman Mu’tazilah ekstrim dengan merujuk kepada materialisme murni yang menjadi rujukan utama bagi segenap aliran sosial, politik, ekonomi dan budaya bangsa-bangsa Barat. Aliran Mu’tazilah sendiri diadopsi dari materialisme atheime filsafat Yunani kuno yang merupakan sumber utama dan terutama segala aliran pemahaman yang berkembang di Barat sekarang ini.

3). Dibinanya dan dikembangsuburkannya berbagai aliran sesat dalam pandangan Islam, seperti Syi’ah dengan berbagai aliran ekstrimnya (antara lain ialah aliran Itsna ‘Asyariah Imamiyah Ja’fariyah, Isma’iliyah, Nushairiyah dan lain-lainnya), kemudian berbagai aliran Wihdatul Wujud (Pantheisme dan Monisme) yang meyakini bahwa Dzat Allah menyatu dengan jasadnya para Wali Allah berbagai aliran sesat lainnya.

Ketiga model gerakan ini sama-sama mengkounter dan berkonfrontasi dengan gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia Islam. Pemerintah-pemerintah kolonial yang ada di dunia Islam sangat membantu ketiga model gerakan tersebut secara langsung atupun tidak langsung. Maka dilansirlah segenap upaya konfrontasi terhadap apa yang diistilahkan dengan aliran Wahhabiyah (Wahabisme). Yang dalam opini mereka dikatakan sebagai pemahaman sesat yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Demikian pula diopinikan kepada dunia Islam tentang gerakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Bahkan dibikinlah rumor di seputar As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, bahwa beliau adalah kaki tangan kolonialis Inggris yang dimunculkan di dunia Islam untuk memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam di dunia. Maka fitnah perlawanan ketiga model gerakan tersebut terhadap gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah semakin membara di seluruh dunia Islam sehingga meletuslah berbagai peristiwa perang saudara sesama kaum Muslimin dan tentunya semakin menguntungkan kepentingan pihak pemerintah-pemerintah kolonial.

Maka gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Nejed dan Hijaz semakin memurnikan dirinya sebagai gerakan Islam yang amat menentang segala pemahaman dan kekuatan imperialisme Barat yang salibis dan zionis itu. Sehingga gerakan pemurnian Islam ini, menjadi ancaman terus-menerus terhadap segenap gerakan imperialisme Barat. Para Ulama Islam di Yaman seperti As-Syaikh Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, As-Syaikh Muhammad bin Ismail As-Shan’ani rahimahumallah menyambut dengan baik dan mengelu-elukan dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini dan menampilkan diri sebagai ujung tombak gerakan dakwah ini di Yaman dan sekitarnya. Mereka melahirkan kader-kader Ulama dan sekaligus para pemimpin umat Islam yang sangat menggusarkan segenap kaum Imperialis Barat serta kaki tangannya. Para kader itu antara lain seperti As-Syaikh Al-`Allamah Abdurrahman bin Yahya Al-Ma’lami rahimahullah, kemudian As-Syaikh Al-`Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i hafidlahullah wa syafahullah yang sampai hari ini terus mencetak para kader ulama dan pemimpin umat Islam di Yaman maupun di Dunia Islam secara keseluruhan. Juga ulama’ Islam di Mesir, seperti Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib dan As-Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi, As-Syaikh Ahmad Syakir dan lain-lainnya rahimahumullah menyediakan diri sebagai corong penyebaran dakwah ini di wilayah Mesir, Sudan dan sekitarnya. Demikian pula para ulama’ India dan sekitarnya seperti As-Syeikh Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan. Kemudian setelah itu As-Syaikh Al-‘Allamah Badi’uddin As-Sindi dan lain-lainnya rahimahumullah tampil sebagai agen gerakan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di sekitar wilayah tersebut. Juga para Ulama’ di Aljazair dan sekitarnya seperti As-Syaikh Abdul Hamid Badis, As-Syaikh Muhammad Basyir Al-Ibrahim, As-Syaikh Thayyib Al-Aqabi, As-Syaikh Mubarak Al-Mili, As-Syaikh Rabi’ At-Tabasi dan lain-lainnya dari para ulama’ Aljazair yang menampilkan diri sebagai garda terdepan bagi gerakan dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah di Aljazair, Maroko, Sahara Barat dan sekitarnya. Sedangkan di wilayah Asia Tenggara tampillah para tokoh penggerak dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah di wilayah Sumatra Barat seperti Tuanku Nan Renceh, Imam Bonjol, Haji Miskin, Haji Gobang dan lain-lainnya yang mereka ini terkenal dalam sejarah SumBar dengan gelar Harimau Nan Salapan. Rantai perjuangan Ahlus Sunnah wal Jamaah melawan imperialisme Barat semakin panjang melingkar di segenap wilayah Dunia Islam yang waktu itu mayoritasnya di bawah kekuasaan kolonialis Barat.

Sementara itu rantai gerakan kaki tangan imperialis Barat juga mengembangkan sayap pergerakannya dengan menampilkan diri juga di hadapan umat Islam sebagai pelopor gerakan anti imperialisme Barat. Tetapi pola pikir yang sangat mengagungkan superioritas Barat ditanamkan di kalangan umat Islam sembari menumbuhkan pula mentalitas minderwardegh (rendah diri) ketika berhadapan dengan kecongkakan dan kepongahan hegemoni imperialis Barat. Maka dalam rangka misi ini, dimunculkanlah para tokoh intelektual dengan pola fikir imperialis yang sangat menjunjung tinggi supremasi Barat. Para intelektual yang demikian inilah yang dihasilkan oleh gerakan Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh sehingga lahirlah gerakan neo mu’tazilah ekstrim lengkap dengan para tokohnya sebagai produk pendidikan kedua tokoh tersebut, seperti Muhammad Rasyid Ridla, Sa’ad Zaghlul dan lain-lainnya. Kemudian dari Muhammad Rasyid Ridla lahir pula tokoh-tokoh pergerakan yang dalam orbit pemahaman mereka ini, seperti Hasan Al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya (gerakan politik yang didominasi nuansa Liberalisme plus Sufisme), Dr.Taufiq Abdullah dengan gerakan Qur’aniyahnya (yaitu gerakan yang mengingkari Al-Hadits), Dr. Taqiyuddin An-Nabhani dengan Hizbut Tahrirnya (sebagai gerakan politik murni yang dibangun di atas pemahaman Mu’tazilah ekstrim) dan masih banyak lagi tokoh-tokoh pergerakan yang banyak menimbulkan fitnah perpecahan di kalangan kaum Muslimin dan semua pergerakan tersebut sepakat untuk memusuhi dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Tampil pula dari gerakan Rasyid Ridla tokoh intelektual yang amat getol menyerukan persatuan antara Syi’ah Rafidlah Imamiyah dengan Islam atau dengan kata lain “Persatuan Sunnah – Syi’ah”. Tokoh tersebut ialah Prof. Dr. Mahmud Syaltut (Rektor Al-Azhar – Mesir, waktu itu). Kemudian dari gerakan Dr. Taufiq Abdullah muncullah Mahmud Abu Rayah seorang intelektual Mesir yang amat sinis terhadap Islam dan menafsirkan Islam sesuai dengan selera budaya Barat. Dia menulis buku berjudul Sorotan Terhadap As-Sunnah dan Abu Hurairah Pendusta Pertama Dalam Islam yang membangkitkan para ulama’ Ahlus Sunnah wal Jamaah untuk menulis beberapa buku bantahan terhadap berbagai tuduhan keji Abu Rayah terhadap Abu Hurairah dan segenap periwayat hadits dari kalangan Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, juga dari kalangan para ulama’ Hadits generasi-generasi sesudahnya. Di antara para ulama’ Ahlus Sunnah yang paling tajam dan ilmiah tulisannya untuk membantah tesis Abu Rayah tersebut ialah As-Syaikh Al-‘Allamah Abdurrahman bin Yahya Al-Ma’lami Al-Yamani rahimahullah. Abu Rayah dengan tulisannya ini menyebabkan gelar Doktornya dari Universitas Al-Azhar dicabut oleh Universitas tersebut dan kemudian segera Universitas Sorbone Prancis memberinya gelar Doktor setelah pencabutan gelar tersebut dari Al-Azhar.

Kemudian di India dan Pakistan muncul pula tokoh-tokoh intelektual sejenis dari kaki tangan imperialis Barat, yaitu Sayyid Amer Ali dan kemudian Prof. Dr. Fazlur Rahman. Dari Fazlur Rahman inilah lahir para kader-kader intelektual yang menjadi duta penyebaran pola pikir produk imperialisme Barat. Para kader guru besar tersebut ialah antara lain di Indonesia seperti Prof. Dr. Nur Khalis Majid, Dr. Imaduddin Abdur Rahim. Dan muncul pula ilmuwan sejenis di Indonesia , seperti Prof. Dr. Munawir Syadzali, Dr. Jalaluddin Rahmat dan masih banyak lagi. Mereka ini bertugas melancarkan gerakan Westernisasi pemahaman umat Islam terhadap agamanya. Yaitu menggiring umat Islam untuk menafsirkan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan pola fikir Barat yang sekuler dan materialis. Inilah sesungguhnya penjajahan pola fikir umat Islam untuk menumbuhkan mental terjajah pula. Atau dengan kata lain diistilahkan dengan Neo-Imperialisme Barat dalam bentuk mental spiritual.

Sumber : https://andyouandi.net/