IMPERIALISME BARAT MENDAPAT PERLAWANAN

IMPERIALISME BARAT MENDAPAT PERLAWANAN

IMPERIALISME BARAT MENDAPAT PERLAWANAN

IMPERIALISME BARAT MENDAPAT PERLAWANAN
IMPERIALISME BARAT MENDAPAT PERLAWANAN

Bila imperialisme Islam lebih bermakna pembebasan bangsa-bangsa tertindas dari para penguasa mereka, maka imperialisme Barat lebih banyak bersifat pendudukan dan penjajahan pihak yang menang terhadap pihak yang kalah. Sehingga bangsa-bangsa yang tinggal di bawah imperium Islam di Asia, Afrika dan Eropa sampai hari ini amat sulit melepaskan dirinya dari pangkuan Islam kecuali daerah yang mendapat serangan gencar dan biadab dari tentara salib Barat.

Oleh karena itu imperialisme Barat dari masa ke masa selalu mendapat perlawanan dari bangsa-bangsa yang berada di bawah imperium Barat. Perlawanan yang paling gigih tentunya dipelopori oleh-oleh bangsa-bangsa Islam yang nota bene banyak dari padanya pernah di bawah imperium Islam. Sehingga praktis imperialis Barat tidak mampu secara penuh menancapkan kuku-kuku penjajahannya di dunia Islam, berhubung gerakan perlawanan rakyat terus menerus meletus sebagai pemberontakan terhadap hegemoni imperialis Barat sampai paska perang dunia ke II.

Terjadilah perang perlawanan terhadap hegemoni Barat di wilayah Afrika Utara (meliputi wilayah Sahara Barat, Maroko, Aljazair , Libya dan Tunisia kemudian Mesir serta Sudan ). Muncullah di wilayah-wilayah tersebut gerakan perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Umar Mukhtar, dan tokoh-tokoh perlawanan rakyat lainnya. Muncul pula gerakan perlawanan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Nejed dan kemudian Hijaz yang dipimpin oleh As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang berakibat maraknya gerakan perlawanan umat Islam sedunia terhadap imperialisme Barat.

Penyebaran semangat perlawanan ini melalui media pelaksanaan ibadah haji di Makkah (Hejaz), berhubung umat Islam sedunia menunaikan ibadah haji tiap tahunnya di sana . Berbagai upaya untuk mempersulit pemberangkatan jemaah haji ke Mekkah oleh pemerintah-pemerintah kolonial di negara-negara jajahan mereka yang berpenduduk mayoritas umat Islam amat gencar dilakukan.

Negara-negara imperialis Barat semakin resah dengan bertambah menyebarnya pengaruh gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Dunia Islam. Maka mereka pun merekayasa dan menunggangi gerakan tandingan untuk mengeliminir pengaruh gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah agar semangat anti imperialisme Barat dapat dialihkan kepada semangat lain yang kiranya dapat mengekalkan cengkraman kuku-kuku imperialis Barat terhadap Dunia Islam. Gerakan tandingan yang dimaksud ditampilkan dalam tiga wajah yang saling bertentangan; yaitu:

1). Gerakan anti Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan slogan sebagai gerakan anti Wahhabisme. Seolah-olah gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah itu adalah gerakan pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab semata dan bukan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Gerakan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh tasawwuf (Sufiyyah) semacam Muhammad Zahid Al-Kautsari Al-Hanafi As-Sufiy, Ahmad Zaini Dahlan As-Sufiy dan lain-lainnya. Oleh karena itu yang bergabung dengan gerakan ini adalah kalangan shufiyyah (yakni kalangan penganut gerakan tasawwuf). Mereka ini adalah aliran-aliran tasawwuf di kalangan umat Islam yang resah karena merasa terancam eksistensinya dengan semakin menyebarnya pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah. Itulah sebabnya amat mudah bagi imperialis Barat untuk mengeksploitir keresahan mereka guna menjadi gerakan perlawanan terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia Islam.

2). Gerakan yang menyerupai Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahkan mengaku sebagai gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menampilkan diri berbeda dengan gerakan-gerakan tasawwuf. Tetapi justru gerakan ini nantinya lebih agresif dari gerakan tasawwuf dalam melawan gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena gerakan ini dibentuk oleh kaki tangan murni imperialis Barat yang diikat dengan janji disertai sumpah setia (yang dalam istilah syariah dinamakan bai’at). Para pecundang murni imperialis Barat itu ialah Jamaluddin Al-Afghani dengan murid setianya bernama Muhammad Abduh Al-Mashri. Keduanya telah diambil bai’at sumpah setianya oleh sebuah organisasi Zionis (Yahudi) di kota Paris , bernama Frey Masonrey. Setelah keduanya masuk kembali ke negeri Mesir, dibentuklah oleh keduanya cabang Frey Masonrey pertama di dunia Arab bahkan di duna Islam. Gerakan ini menggunakan basis pemahaman Mu’tazilah ekstrim dengan merujuk kepada materialisme murni yang menjadi rujukan utama bagi segenap aliran sosial, politik, ekonomi dan budaya bangsa-bangsa Barat. Aliran Mu’tazilah sendiri diadopsi dari materialisme atheime filsafat Yunani kuno yang merupakan sumber utama dan terutama segala aliran pemahaman yang berkembang di Barat sekarang ini.

3). Dibinanya dan dikembangsuburkannya berbagai aliran sesat dalam pandangan Islam, seperti Syi’ah dengan berbagai aliran ekstrimnya (antara lain ialah aliran Itsna ‘Asyariah Imamiyah Ja’fariyah, Isma’iliyah, Nushairiyah dan lain-lainnya), kemudian berbagai aliran Wihdatul Wujud (Pantheisme dan Monisme) yang meyakini bahwa Dzat Allah menyatu dengan jasadnya para Wali Allah berbagai aliran sesat lainnya.

Ketiga model gerakan ini sama-sama mengkounter dan berkonfrontasi dengan gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia Islam. Pemerintah-pemerintah kolonial yang ada di dunia Islam sangat membantu ketiga model gerakan tersebut secara langsung atupun tidak langsung. Maka dilansirlah segenap upaya konfrontasi terhadap apa yang diistilahkan dengan aliran Wahhabiyah (Wahabisme). Yang dalam opini mereka dikatakan sebagai pemahaman sesat yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Demikian pula diopinikan kepada dunia Islam tentang gerakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Bahkan dibikinlah rumor di seputar As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, bahwa beliau adalah kaki tangan kolonialis Inggris yang dimunculkan di dunia Islam untuk memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam di dunia. Maka fitnah perlawanan ketiga model gerakan tersebut terhadap gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah semakin membara di seluruh dunia Islam sehingga meletuslah berbagai peristiwa perang saudara sesama kaum Muslimin dan tentunya semakin menguntungkan kepentingan pihak pemerintah-pemerintah kolonial.

Maka gerakan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Nejed dan Hijaz semakin memurnikan dirinya sebagai gerakan Islam yang amat menentang segala pemahaman dan kekuatan imperialisme Barat yang salibis dan zionis itu. Sehingga gerakan pemurnian Islam ini, menjadi ancaman terus-menerus terhadap segenap gerakan imperialisme Barat. Para Ulama Islam di Yaman seperti As-Syaikh Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, As-Syaikh Muhammad bin Ismail As-Shan’ani rahimahumallah menyambut dengan baik dan mengelu-elukan dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah ini dan menampilkan diri sebagai ujung tombak gerakan dakwah ini di Yaman dan sekitarnya. Mereka melahirkan kader-kader Ulama dan sekaligus para pemimpin umat Islam yang sangat menggusarkan segenap kaum Imperialis Barat serta kaki tangannya. Para kader itu antara lain seperti As-Syaikh Al-`Allamah Abdurrahman bin Yahya Al-Ma’lami rahimahullah, kemudian As-Syaikh Al-`Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i hafidlahullah wa syafahullah yang sampai hari ini terus mencetak para kader ulama dan pemimpin umat Islam di Yaman maupun di Dunia Islam secara keseluruhan. Juga ulama’ Islam di Mesir, seperti Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib dan As-Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi, As-Syaikh Ahmad Syakir dan lain-lainnya rahimahumullah menyediakan diri sebagai corong penyebaran dakwah ini di wilayah Mesir, Sudan dan sekitarnya. Demikian pula para ulama’ India dan sekitarnya seperti As-Syeikh Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan. Kemudian setelah itu As-Syaikh Al-‘Allamah Badi’uddin As-Sindi dan lain-lainnya rahimahumullah tampil sebagai agen gerakan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di sekitar wilayah tersebut. Juga para Ulama’ di Aljazair dan sekitarnya seperti As-Syaikh Abdul Hamid Badis, As-Syaikh Muhammad Basyir Al-Ibrahim, As-Syaikh Thayyib Al-Aqabi, As-Syaikh Mubarak Al-Mili, As-Syaikh Rabi’ At-Tabasi dan lain-lainnya dari para ulama’ Aljazair yang menampilkan diri sebagai garda terdepan bagi gerakan dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah di Aljazair, Maroko, Sahara Barat dan sekitarnya. Sedangkan di wilayah Asia Tenggara tampillah para tokoh penggerak dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah di wilayah Sumatra Barat seperti Tuanku Nan Renceh, Imam Bonjol, Haji Miskin, Haji Gobang dan lain-lainnya yang mereka ini terkenal dalam sejarah SumBar dengan gelar Harimau Nan Salapan. Rantai perjuangan Ahlus Sunnah wal Jamaah melawan imperialisme Barat semakin panjang melingkar di segenap wilayah Dunia Islam yang waktu itu mayoritasnya di bawah kekuasaan kolonialis Barat.

Sementara itu rantai gerakan kaki tangan imperialis Barat juga mengembangkan sayap pergerakannya dengan menampilkan diri juga di hadapan umat Islam sebagai pelopor gerakan anti imperialisme Barat. Tetapi pola pikir yang sangat mengagungkan superioritas Barat ditanamkan di kalangan umat Islam sembari menumbuhkan pula mentalitas minderwardegh (rendah diri) ketika berhadapan dengan kecongkakan dan kepongahan hegemoni imperialis Barat. Maka dalam rangka misi ini, dimunculkanlah para tokoh intelektual dengan pola fikir imperialis yang sangat menjunjung tinggi supremasi Barat. Para intelektual yang demikian inilah yang dihasilkan oleh gerakan Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh sehingga lahirlah gerakan neo mu’tazilah ekstrim lengkap dengan para tokohnya sebagai produk pendidikan kedua tokoh tersebut, seperti Muhammad Rasyid Ridla, Sa’ad Zaghlul dan lain-lainnya. Kemudian dari Muhammad Rasyid Ridla lahir pula tokoh-tokoh pergerakan yang dalam orbit pemahaman mereka ini, seperti Hasan Al-Banna dengan Ikhwanul Musliminnya (gerakan politik yang didominasi nuansa Liberalisme plus Sufisme), Dr.Taufiq Abdullah dengan gerakan Qur’aniyahnya (yaitu gerakan yang mengingkari Al-Hadits), Dr. Taqiyuddin An-Nabhani dengan Hizbut Tahrirnya (sebagai gerakan politik murni yang dibangun di atas pemahaman Mu’tazilah ekstrim) dan masih banyak lagi tokoh-tokoh pergerakan yang banyak menimbulkan fitnah perpecahan di kalangan kaum Muslimin dan semua pergerakan tersebut sepakat untuk memusuhi dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Tampil pula dari gerakan Rasyid Ridla tokoh intelektual yang amat getol menyerukan persatuan antara Syi’ah Rafidlah Imamiyah dengan Islam atau dengan kata lain “Persatuan Sunnah – Syi’ah”. Tokoh tersebut ialah Prof. Dr. Mahmud Syaltut (Rektor Al-Azhar – Mesir, waktu itu). Kemudian dari gerakan Dr. Taufiq Abdullah muncullah Mahmud Abu Rayah seorang intelektual Mesir yang amat sinis terhadap Islam dan menafsirkan Islam sesuai dengan selera budaya Barat. Dia menulis buku berjudul Sorotan Terhadap As-Sunnah dan Abu Hurairah Pendusta Pertama Dalam Islam yang membangkitkan para ulama’ Ahlus Sunnah wal Jamaah untuk menulis beberapa buku bantahan terhadap berbagai tuduhan keji Abu Rayah terhadap Abu Hurairah dan segenap periwayat hadits dari kalangan Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, juga dari kalangan para ulama’ Hadits generasi-generasi sesudahnya. Di antara para ulama’ Ahlus Sunnah yang paling tajam dan ilmiah tulisannya untuk membantah tesis Abu Rayah tersebut ialah As-Syaikh Al-‘Allamah Abdurrahman bin Yahya Al-Ma’lami Al-Yamani rahimahullah. Abu Rayah dengan tulisannya ini menyebabkan gelar Doktornya dari Universitas Al-Azhar dicabut oleh Universitas tersebut dan kemudian segera Universitas Sorbone Prancis memberinya gelar Doktor setelah pencabutan gelar tersebut dari Al-Azhar.

Kemudian di India dan Pakistan muncul pula tokoh-tokoh intelektual sejenis dari kaki tangan imperialis Barat, yaitu Sayyid Amer Ali dan kemudian Prof. Dr. Fazlur Rahman. Dari Fazlur Rahman inilah lahir para kader-kader intelektual yang menjadi duta penyebaran pola pikir produk imperialisme Barat. Para kader guru besar tersebut ialah antara lain di Indonesia seperti Prof. Dr. Nur Khalis Majid, Dr. Imaduddin Abdur Rahim. Dan muncul pula ilmuwan sejenis di Indonesia , seperti Prof. Dr. Munawir Syadzali, Dr. Jalaluddin Rahmat dan masih banyak lagi. Mereka ini bertugas melancarkan gerakan Westernisasi pemahaman umat Islam terhadap agamanya. Yaitu menggiring umat Islam untuk menafsirkan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan pola fikir Barat yang sekuler dan materialis. Inilah sesungguhnya penjajahan pola fikir umat Islam untuk menumbuhkan mental terjajah pula. Atau dengan kata lain diistilahkan dengan Neo-Imperialisme Barat dalam bentuk mental spiritual.

Sumber : https://andyouandi.net/