Jenis Alat Pendidikan non Material; tingkah laku dan tindakan

Jenis Alat Pendidikan non Material; tingkah laku dan tindakan

Pengertian alat pendidikan

Alat pendidikan mampu diartikan segala suatu hal yang digunakan untuk kegiatan pendidikan di dalam rangka meraih obyek pendidikan yang diharapkan. Alat pendidikan terdiri dari 2 jenis, yaitu yang berbentuk non material (perbuatan/tindakan) dan yang berbentuk material atau kebendaan.

Jika di dalam artikel sebelumnya telah dibahas lebih rinci perihal alat pendidikan material “alat pendidikan: material dan non material”, maka kali ini PKn-kita akan merinci jenis alat pendidikan non material.

Jenis alat pendidikan non Material

a. Pembiasaan
Pada terdidik yang masih kecil, hal ini benar-benar penting sebab banyak hal di dalam hidupnya itu adalah berbentuk formalitas ini. Kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku khusus yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan terutama dahulu, dan juga berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi.

b. Suruhan
Di di dalam sistem transpormasi, suruhan adalah hal yang kudu dilaksanakan (kebersihan badan, kerapihan, ketelitian dan sebagainya). Suruhan merupakan jenis alat pendidikan yang tergolong banyak dilaksanakan sebab sebenarnya di dalam keehidupan manusia itu ada hal yang kudu dihindarkan dan sebaliknya ada hal yang kudu dikerjakan.

c. Larangan
Larangan adalah bentuk alat pendidikan untuk pembiasaan di dalam hal-hal yang tidak boleh dilakukan.

d. Menganjurkan
Menganjurkan membawa cii-ciri tidak mengikat dan jadi tidak memaksa terhadap terdidik. Menganjurkan tidak benar-benar pas untuk dijadikan alat pendidikan biarpun di dalam kondisi khusus mampu termasuk digunakan, bila terhadap kondisi terdidik telah baik melakukan suatu hal akan tetapi akan lebih baik ulang jika ia meningkatkan suatu kegiatan untuk membuat kegiatan terdahulu itu lebih sempurna.

e. Mengajak
Dalam menggerakkan perannya, yang paling dilaksanakan oleh pendidik ialah mengajak. Mengajak kedengarannya lebih simpatik, dan sebab itu tidak berbentuk memaksakan tekad pendidik. Meskipun demikianlah ajakan itu tidak pula kudu demikianlah lemah sehingga sifatnya layaknya anjuran. Ajakan adalah suruhan halus, dengan jalur menunjukan terutama dahulu faktor baiknya daripada suatu hal kegiatan yang mendambakan kita lakukan. Misalnya: kita mendambakan sehingga anak-anak kita puas akan kegiatan membersihkan rumah daerah tinggal. Kita semula menunjukan enaknya rumah yang bersih dan sehat, betapa senangnya kita tinggal di rumah yang demikian.

f. Memberi contoh
Memberi contoh adalah alat pedidikan yang banyak dan telah lama sekali dipakai. Bahkan mungkin secara alamiah berikan contoh adalah alat pendidikan yang tertua, disamping suruhan dan larangan.

Yang dimaksud berikan contoh adalah:
Memberi contoh di dalam makna sengaja berbuat untuk secara jelas ditiru oleh terdidik.
Berlaku sesuai norma dan nilai yang akan kita tanamkan terhadap terdidik sehingga tanpa sengaja jadi contoh (teladan) bagi terdidik.
g. Memuji
Cara memuji banyak termasuk berikan efek yang baik terhadap terdidik. Secara manusiawi siapakah yang tak puas jika mendapat pujian. Para pribadi-pribadi yang kurang bermaksud baik cara ini dibesarkannya untuk mendapat keuntungan khusus dari orang yang ia puji. Cara ini licik dan hanya dilaksanakan oleh orang-orang yang bermaksud tidak baik.

h. Menghukum
Ada suatu cara mendidik yang paling banyak kudu kita menjauhkan dan sedapat mungkin diberikan dengan jalur edukatif. Cara ini ialah menghukum! Kita baru menghukum jika kita tau bahwa terdidik jelas bahwa ia melakukan pelanggaran atas suatu aturan. Menghukum terdidik yang tidak jelas kesalahannya adalah pekerjaan yang tidak edukatif. Kecuali tidak mendidik maka obyek menghukum termasuk tidak tercapai, sebab obyek menghukum harusnya menyadarkan orang akan kesalahannya dan juga menanamkan keinginan melakukan perbaikan diri. Hal itu tidak akan tercapai jika terdidik tidak jelas akan kesalahannya.

Yang kudu diperhatikan di dalam berikan hukuman terhadap terdidik
Hukuman itu hendaknya mendidik (mendidik), berangkat dari kesediaan kita menunjang terdidik untuk berkembang, dengan kata lain bukan membalas dendam.
Bentuk hukuman hendaknya sedapat mungkin ada hubungannya dengan bentuk kesalahan. Misalnya tidak melakukan kewajiban harusnya ditebus dengan melakukan kewajiban lain.
Jangan menyakiti harga diri terdidik. Betapapun ia bersalah tetapi ia adalah senantiasa terdidik dengan kediri-sendiriannya. Harga diri tidak boleh terluka.
Jangan berikan hukuman badan. Sedapat mungkin menjauhkan ini, sebab menyinggung harga diri, termasuk akan membuat banyak hal. Baik dari faktor hukuman maupun dari faktor kesusahan hubungan dengan pihak lain.

Baca Juga :