Biografi Jhon Refra Kei

Table of Contents

Biografi Jhon Refra Kei

John Refra lahir pada tanggal 10 September 1969. Tahun 1990 ia pergi merantau ke ibu kota Jakarta. Pada th. 2000 ia mendirikan sebuah organisasi bernama AMKEI (Angkatan Muda Kei). Organisasi ini terbentuk pasca kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada bulan Mei th. 2000.

Jhon Refra Kei atau yang biasa disebut Jhon Kei, tokoh pemuda asal Maluku yang lekat bersama dengan dunia kekerasan di Ibukota. Namanya semakin berkibar ketika tokoh pemuda asal Maluku Utara pula, Basri Sangaji meninggal didalam suatu pembunuhan sadis di Hotel Kebayoran Inn di Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2004 lalu.

Padahal dua nama tokoh pemuda itu layaknya saling bersaing demi memperoleh nama lebih besar. Dengan kematian Basri, nama Jhon Key layaknya tanpa saingan. Ia bersama dengan kelompoknya layaknya momok menakutkan bagi warga di Jakarta.

Untuk diketahui, Jhon Kei merupakan pimpinan dari sebuah himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Kei di Maluku Tenggara. Mereka berhimpun pasca – kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada Mei 2000 lalu. Nama resmi himpunan pemuda itu Angkatan Muda Kei ( AMKEI ) bersama dengan Jhon Kei sebagai pimpinan. Ia apalagi mengklaim jikalau bagian AMKEI raih 12 ribu orang.

Lewat organisasi itu, Jhon mulai mengelola bisnisnya sebagai debt collector dengan sebutan lain penagih utang. Usaha jasa penagihan utang semakin laris ketika grup penagih utang yang lain, yang ditenggarai pimpinannya adalah Basri Sangaji tewas terbunuh. Para ‘klien’ grup Basri Sangaji mengalihkan ordernya ke grup Jhon Kei. Aroma menyengat yang timbul di belakang pembunuhan itu adalah persaingan pada dua grup penagih utang.

Bahkan pertumpahan darah besar – besaran hampir berjalan tatkala ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, golok, celurit saling berhadapan di Jalan Ampera Jaksel identik di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada awal Maret 2005 lalu. Saat itu sidang pembacaan tuntutan pada terdakwa pembunuhan Basri Sangaji. Beruntung 8 SSK Brimob Polda Metro Jaya bersenjata lengkap mampu menghindar terjadinya bentrokan itu.

Sebenarnya pembunuhan pada Basri ini bukan tanpa pangkal, konon pembunuhan ini bermula dari bentrokan pada grup Basri dan grup Jhon Key di sebuah Diskotik Stadium di kawasan Taman Sari Jakarta Barat pada 2 Maret 2004 lalu. Saat itu grup Basri mendapat ‘order’ untuk merawat diskotik itu. Namun mendadak diserbu puluhan anak buah Jhon Kei Dalam aksi penyerbuan itu, dua anak buah Basri yang jadi petugas security di diskotik tersebut tewas dan belasan terluka.

Polisi melakukan tindakan cepat, lebih dari satu pelaku pembunuhan ditangkap dan ditahan. Kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Namun pada 8 Juni di th. yang sama selagi sidang mendengarkan saksi – saksi yang dihadiri puluhan bagian grup Basri dan Jhon Kei meletus bentrokan. Seorang bagian Jhon Kei yang bernama Walterus Refra Kei dengan sebutan lain Semmy Kei terbunuh di area pengadilan PN Jakbar. Korban yang terbunuh itu justru kakak kandung Jhon Key, hal ini jadi tidak benar satu segi pembunuhan pada Basri, tak sekedar persaingan usaha termasuk ditunggangi dendam pribadi.

Pada Juni 2007 aparat Polsek Tebet Jaksel termasuk dulu meminta keterangan Jhon Key menyusul bentrokan yang berjalan di depan kantor DPD PDI Perjuangan Jalan Tebet Raya No.46 Jaksel. Kabarnya bentrokan itu perihal penagihan utang yang ditunaikan grup Jhon Key pada tidak benar seorang kader PDI Perjuangan di kantor itu. Bukan itu saja, di th. yang sama grup ini termasuk dulu mengamuk di depan Diskotik Hailai Jakut hingga memecahkan kaca – kaca di sana tanpa sebab yang jelas.

Sebuah sumber dari seseorang yang dulu berkecimpung di kalangan jasa penagihan utang menyebutkan, Jhon Kei dan kelompoknya meminta komisi 10 % hingga 80 persen. Persentase dicermati dari besaran tagihan dan lama selagi penunggakan. “Tapi tiap-tiap grup biasanya mengambil komisi dari ke-2 hal itu,” ujar sumber tersebut.

Dijelaskannya, jikalau grup John, Sangaji atau Hercules yang merupakan 3 Besar Debt Collector Ibukota biasanya baru melayani tagihan di atas Rp 500 juta. Menurutnya, jauh sebelum terlihat dan merajalelanya ketiga grup itu, jasa penagihan utang terbesar dan paling disegani adalah grup pimpinan mantan gembong perampok Johny Sembiring, kelompoknya bubar selagi Johny Sembiring dibunuh sekelompok orang di persimpangan Matraman Jakarta Timur th. 1996 lalu.

“Kalau grup tiga besar itu biasa main besar bersama dengan tagihan di atas Rp 500 juta’an, di bawah itu biasanya dialihkan ke grup yang lebih kecil. Persentase komisinya pun dicermati dari lamanya selagi nunggak, semakin lama utang tak terbayar maka semakin besar pula komisinya,” ungkap sumber itu lagi.
Dibeberkannya, jikalau utang yang ditagih itu masih di bawah satu th. maka komisinya paling banter 20 persen. Tapi jikalau utang yang ditagih telah raih 10 th. tak terbayar maka komisinya mampu raih 80 persen.

Bahkan menurut sumber tersebut, grup penagih mampu memasang lebih dari satu anggotanya secara menyamar hingga berhari – hari apalagi berminggu – minggu atau berbulan-bulan di dekat tempat tinggal orang yang ditagih. “Pokoknya perintahnya, dapatkan orang yang ditagih itu bersama dengan langkah apa pun,” ujarnya. Saat itulah kekerasan sering terlihat ketika orang yang dicari – carinya apalagi didalam selagi yang lama didapatkannya tetapi orang itu tak bersedia membayar utangnya bersama dengan beraneka dalih. “Dengan langkah apa pun orang itu dipaksa membayar, jikalau mesti culik bagian keluarganya dan mengambil semua hartanya,” lontarnya.

Dilanjutkannya, ketika penagihan sukses walaupun bersama dengan langkah diecer dengan sebutan lain dicicil, maka selagi itu termasuk komisi diperoleh grup penagih. “Misalnya keseluruhan tagihan Rp 1 miliar bersama dengan perjanjian komisi 50 persen, tetapi didalam pertemuan pertama si tertagih baru mampu membayar Rp 100 juta, maka grup penagih langsung mengambil komisinya Rp 50 juta dan sisanya baru diserahkan kepada pemberi kuasa. Begitu seterusnya hingga lunas. Akhirnya walaupun si tertagih tak mampu melunasi maka grup penagih telah memperoleh komisinya dari pembayaran – pembayaran sebelumnya,”

Dalam ‘dunia persilatan’ Ibukota, khususnya didalam usaha debt collector ini, kekerasan sering terlihat salah satu sesama grup penagih utang. Ia mencontohkan dulu berjalan bentrokan berdarah di kawasan Jalan Kemang IV Jaksel pada pertengahan Mei 2002 silam, di mana grup Basri Sangaji selagi itu tengah menagih seorang pebisnis di rumahnya di kawasan Kemang itu, mendadak sang pebisnis itu menghubungi Hercules yang biasa ‘dipakainya’ untuk menagih utang pula.

“Hercules sempat ditembak lebih dari satu kali, tetapi dia cuma luka – luka saja dan bibirnya terluka sebab terserempet peluru. Dia sempat merintis perawatan cukup lama di sebuah tempat tinggal sakit di kawasan Kebon Jeruk Jakbar. Beberapa anak buah Hercules termasuk terluka, tetapi dari grup Basri seorang anak buahnya terbunuh dan lebih dari satu termasuk terluka,” tutupnya.

Selain jasa penagihan utang, grup Jhon Kei termasuk bergerak di bidang jasa pengawalan lahan dan tempat. Kelompok Jhon Kei semakin memperoleh banyak ‘klien’ tatkala Basri Sangaji tewas terbunuh dan bagian keloompoknya tercerai berai. Padahal Basri Sangaji bersama dengan kelompoknya mempunyai nama besar pula di mana Basri CS dulu dipercaya terpidana persoalan pembobol Bank BNI, Adrian Waworunto untuk menarik aset – asetnya. Tersiar kabar, Jamal Sangaji yang masih adik sepupu Basri yang jari – jari tangannya tertebas senjata tajam didalam momen pembunuhan Basri menukar posisi Basri sebagai pimpinan bersama dengan dibantu adiknya Ongen Sangaji.

Kelompok Jhon Kei dulu mendapat ‘order’ untuk merawat lahan kosong di kawasan perumahan Permata Buana, Kembangan Jakarta Barat. Namun didalam mobilisasi ‘tugas’ grup ini dulu mendapat serbuan dari grup Pendekar Banten yang merupakan bagian dari Persatuan Pendekar Persilatan Seni Budaya Banten Indonesia ( PPPSBBI ).

Sekedar diketahui, markas dan wilayah kerja mereka sebenarnya di Serang dan areal Provinsi Banten. Kepergian ratusan pendekar Banten itu ke Jakarta untuk menyerbu grup Jhon Kei pada 29 Mei 2005 ternyata di luar pengetahuan induk organisasinya. Kelompok penyerbu itu pun belum mengenal seluk – beluk Ibukota.

Akibatnya, seorang bagian Pendekar Banten bernama Jauhari tewas terbunuh didalam bentrokan itu. Selain itu sembilan bagian Pendekar Banten terluka dan 13 mobil dirusak. 3 SSK Brimob PMJ dibantu aparat Polres Jakarta Barat sukses mengusir ke-2 grup yang bertikai dari areal lahan seluas 5.500 mtr. persegi di Perum Permata Buana Blok L/4, Kembangan Utara Jakbar. Namun buntut dari persoalan ini, Jhon Kei cuma dimintakan keterangannya saja.

Sebuah sumber dari kalangan ini menyatakan grup penjaga lahan layaknya grup Jhon Kei biasanya memasang anggotanya di lahan yang dipersengketakan. Besarnya honor sesuai bersama dengan luasnya lahan, siapa pemiliknya, dan siapa lawan yang akan dihadapinya

Semakin kuat lawan itu, semakin besar pula cost pengamanannya. Kisaran nominal upahnya, mampu raih milyaran rupiah. Perjanjian honor atau upah dibuat pada pemilik lahan atau pihak yang mengklaim lahan itu milikya bersama dengan pihak pengaman. Perjanjian itu mampu termasuk cost operasi sehari – hari mampu termasuk diluarnya, sekiranya untuk sebuah lahan sengketa diperlukan 50 orang penjaga maka untuk logistik diperlukan Rp 100 ribu per orang per hari, maka mesti disajikan Rp 5 juta / hari atau langsung Rp 150 juta untuk sebulan.

Selain pengamanan lahan sengketa, tersedia pula pengamanan asset yang diincar pihak lain maupun merawat wilayah hiburan malam dari ancaman pengunjung yang membikin onar maupun ancaman pemerasan bersama dengan dalih ‘jasa pengamanan’ oleh grup lain, walaupun begitu tetapi selalu saja mekanisme kerja dan pembayarannya sama bersama dengan pengamanan lahan sengketa.

Sumber : https://tutorialbahasainggris.co.id/

Baca Juga :