Respon terhadap Pandangan Bourdieu

Respon terhadap Pandangan Bourdieu

Respon terhadap Pandangan Bourdieu
Respon terhadap Pandangan Bourdieu

Medan

Modal budaya tidak bekerja di ruang hampa, tetapi tenaga yang bermain dalam struktur sosial yang lebih luas. Konsep medan menjadi sentral dalam model masyarakat ala Bourdieu. Menurut Bourdieu, medan ini merupakan domain kehidupan sosial, seperti seni, industry, hukum, politik, pengobatan, dan selanjutnya. Di dalam medan tersebut, aktor berjuang memperoleh kuasa dan status. Untuk memuluskan perjuangan itu akan sangat terbantu oleh habitus dalam memperoleh bentuk-bentuk khusus modal budaya supaya berhasil dalam tiap area. Melalui medan tersebut aktor dapat mengubah prestise dan modal budaya menjadi upaya yang baru. Perjuangan terus berlanjut antara medan, sub medan, dan aktor di dalam medan.

Dalam bukunya Field of Cultural Production, Bourdieu mencatat bahwa terjadi kontes yang panjang antara budaya ‘tinggi’ dan budaya ‘rendah’ di antara berbagai genre(misal seni vs fotografi) serta antara individual artis bagi legitimasi dan dominasi. Perdebatan antara nilai produk budaya. Bourdieu menggaris-bawahi berbagai perjuangan yang terjadi dalam konteks medan ini:

  1. Perjuangan di antara individu untuk mengendalikan suatu medan (misal, perjuangan seorang profesor agar lembaganya diakui, dst);
  2. Perjuangan antara gaya bekerja atau pendekatan-pendekatan intelektual (misal, debat antara Roland Barthes dengan Raymond Picard pertengahan tahun 1960-an);
  3. Perjuangan antara disiplin dan fakultas (misal, ilmu sosial yang dimonopoli disiplin legal ‘pemikiran dan wacana dunia sosial’).

Evaluasi atas Bourdieu

Para pendukung Bourdieu menyarankan agar model budaya yang dia kembangkan menjadi model terbaik yang bisa diperoleh dalam riset sosial. Terdapat sejumlah tema kontemporer debat teoritikal terkait dengan riset tersebut:

  1. Gagasan mengenai modal budaya dan habitus menyediakan pemahaman yang baik mengenai bentuk dan struktur budaya;
  2. Peran otonomi budaya dan perjuangan budaya dalam menentukan baik individual maupun hasil kelembagaan;
  3. Teori Bourdieu memiliki kekuatan meneorikan hubungan antara budaya dan agensi.

Respon terhadap Pandangan Bourdieu

Selain adanya dukungan bagi Bourdieu terhadap pandangannya, maka ada pula yang mengeritik pandangannya. Mereka menyatakan bahwa Bourdieu gagal menjembatani masalah budaya dan agensi, antara individu dengan kelembagaan. Menurut mereka, Bourdieu terlalu banyak menekankan struktur dan reproduksi sistem, namun kurang penekanannya pada agensi dan kemungkinan perubahan. William Sewell misalnya, berkomentar bahwa teori Bourdieu menekankan pada kemampuan mengetahui si aktor; teorinya tidak mampu menjelaskan bagaimana perubahan dapat dihasilkan di dalam suatu sistem. Habitus bersifat homologis, demikian pula antara habitus dan struktur sosial, tidak memungkinkan kreativitas, kontradiksi, dan diskontinuitas. Oleh karena budaya dan tindakan menghasilkan reproduksi dan mencerminkan  struktur dan ketidakadilan sosial pula. Philip Smith menyatakan bahwa konsep habitus Bourdieu memerlukan analisis fenomenologis Husserl dan Ponty, untuk dapat menjelaskan secara kreatif potensi inovatif si pelaku/ agen.

Tony Bennet, Michael Emmision, dan John Frow mencoba mereplikasi riset empiris Bourdieu di Prancis di Australia dan menemukan variabel yang berbeda. Mereka memperoleh temuan riset bahwa citarasa lebih menentukan daripada kelas sosial dalam kaitan status budaya ‘tinggi’ dan budaya ‘rendah’. Masyarakat dengan status sosial yang tinggi citarasanya bersifat serba-rasa. Misalnya mereka menikmati musik klasik dan musik pop, yang menunjukkan perubahan etos masyarakat di Australia. Michele Lamont malah memperingatkan kita agar berhati-hati mengeneralisir temuan Bourdieu tahun 1960-an di Prancis, karena kriteria moral dan perbedaan bangsa mempengaruhi modal budaya dan modal sosial yang ada. Di Prancis, pengetahuan budaya bernilai tinggi, sedangkan di Amerika Serikat kesejahteraan ekonomis jauh lebih berharga. Bagaimanapun generalisasi studi empiris tidak bisa digeneralisir begitu saja, tanpa sikap kritis.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi

Modal budaya

Modal budaya

Modal budaya
Modal budaya

Apakah modal budaya itu (cultural capital)?

Menurut Bourdieu, ada tiga jenis modal yang bermain di masyarakat yang menentukan kekuatan sosial dan ketidakadilan sosial. Jenis pertama ialah modal ekonomis yang melukiskan sumberdaya finansial. Jenis kedua ialah modal sosial yaitu segala ikatan sosial yang dapat digerakkan untuk kemajuan orang, misalnya jaringan kerja, jaringan bisnis, dll. Jenis ketiga ialah modal budaya.

Bagi Bourdieu, modal budaya memiliki dimensi berikut:

  1. Pengetahuan objektif seni dan budaya;
  2. Preferensi dan citarasa budaya;
  3. Kualifikasi formal (misal derajat akademis, ujian music, dll);
  4. Keterampilan budaya dan pengetahuan teknis (kemampuan memainkan alat musik);
  5. Kemampuan mendiskriminasi dan membuat pembedaan antara yang baik dan yang buruk.

Bourdieu menjelaskan modal budaya sebagai dimensi habitus

yang lebih luas, dengan demikian mencerminkan lokasi sosial pemiliknya. Dalam bukunya Distinction, Bourdieu menyerang gagasan filosofis bahwa pernilaian estetis dapat dibentuk atas dasar kriteria universal dan objektif tentang citarasa baik dan buruk. Menurutnya, citarasa ditentukan secara sosial. Riset empiriknya terhadap kelas sosial tertentu, seperti buruh, akademisi, teknisi, dalam kaitan citarasanya terhadap musik, seni, makanan, dan sebagainya, menunjukkan modal budaya yang dibentuk oleh lokasi sosial.

Bourdieu menegaskan bahwa elite kelompok sosial merumuskan apa yang dapat diterima atau modal budaya yang bernilai serta apa yang tak bernilai. Dengan merumuskan modal budaya yang legitim dan tidak legitim kelompok elite melestarikan hasil pengetahuan dan keterampilan yang setidaknya menunjukkan status yang dimiliki. Proses utama dengan mana modal budaya dan habitus membantu reproduksi sosial adalah kelembagaan, seperti sekolah-sekolah dan mekanisme ujian-ujian. Apa yang menarik dari penjelasan Bourdieu dengan modal budaya ini ialah bahwa masyarakat secara formal terbuka terhadap mobilitas. Modal budaya memerlukan waktu yang lama untuk memperolehnya dan menyatu di dalam pengertian diri kita. Modal sosial dan ekonomi dapat dipertukarkan satu sama lain, demikian pula modal budaya.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia

Perempuan, Pendidikan, dan Pernikahan (Dini)

Perempuan, Pendidikan, dan Pernikahan (Dini)

Perempuan, Pendidikan, dan Pernikahan (Dini)
Perempuan, Pendidikan, dan Pernikahan (Dini)

Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Demikianlah salah satu kutipan surat Kartini yang ditulis pada 4 Oktober 1901. Berawal dari dunia pendidikan yang menjadi fokus Kartini, kini aspek ekonomi dan politik berhasil ditapaki oleh kaum hawa dengan leluasa. Semakin terbukanya kesempatan bersekolah yang diikuti dengan penurunan angka buta huruf, mengantarkan perempuan Indonesia menuju pintu gerbang kebebasan. Namun, di sisi lain masih ada praktik pernikahan usia anak yang umumnya terjadi pada perempuan.

Lantas, sudah berhasilkah perjuangan Kartini?

Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi wanita, mengenalkan perempuan Indonesia ke dunia tanpa batas: baca dan tulis. Meskipun persentase perempuan usia 10 tahun ke atas yang buta aksara masih dua kali lipat dari laki-laki, angka tersebut semakin menurun setiap tahunnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan keberhasilan upaya pemerintah mengentaskan tuna aksara perempuan. Pada 1961, sedikitnya 70 dari 100 perempuan usia 10 tahun ke atas tidak bisa baca tulis. Angka tersebut menciut menjadi 6 per 100 perempuan pada 2017.

Perempuan Kini

Perempuan dengan percaya diri kini melangkah ke dunia kerja. Berbekal pendidikan yang dimiliki, hampir semua pekerjaan dapat menerima peran perempuan. Besaran upah tidak lagi dilihat dari jenis kelamin yang mengerjakan, tetapi seberapa besar kinerjanya. Tolak ukur kinerja ini umumnya didasarkan pada tingkat pendidikan yang bersangkutan. Ketimpangan upah/gaji antartingkat pendidikan lebih nyata terlihat dibandingkan dengan perbedaan upah antarjenis kelamin.

Perbandingan rata-rata upah pekerja yang tidak pernah sekolah dengan upah pekerja lulusan S1/lebih tinggi adalah 1:5. Sedangkan tanpa melihat tingkat pendidikan, perbandingan rata-rata upah pekerja perempuan dan pekerja laki-laki adalah 4:5 (BPS, Indikator Kesejahteraan Rakyat 2017).

Dalam ranah politik, pada 1955 perempuan menempati 6% kursi legislatif. Meskipun dari segi persentase masih jauh di bawah laki-laki, kesempatan perempuan untuk duduk di kursi DPR kian meningkat. Data terakhir Komisi Pemilihan Umum menunjukkan sekitar 17% anggota DPR periode 2014-2019 adalah perempuan (BPS, Statistik Indonesia 2017). Tidak diragukan lagi bahwa partisipasi perempuan sudah menyentuh hampir semua ranah meski data masih mengunggulkan laki-laki.

Pernikahan Dini

Dewasa ini, isu pernikahan dini kembali menyeruak lantaran adanya

pernikahan dua bocah SMP di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Lemahnya payung hukum diyakini memuluskan praktik penikahan usia anak. Batasan usia minimal calon pengantin yang dimuat dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dirasa perlu ditinjau ulang. Akan tetapi, DPR bergeming dan tetap menilai batas minimal usia pernikahan di UU Perkawinan sudah tepat.

Pernikahan usia anak juga disinggung dalam forum global, antara lain agenda pembangunan berkelanjutan pasca MDGs atau Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu fokus SDGs adalah terwujudnya kesetaraan gender yang menekankan pada terpenuhinya hak-hak perempuan dan mengakhiri segala bentuk diskriminasi, kekerasan, dan semua praktik berbahaya seperti pernikahan dini yang kerap terjadi pada perempuan. Masih maraknya pernikahan usia anak mencerminkan belum terwujudnya kesetaraan gender.

Pernikahan dini menutup kesempatan anak perempuan meraih pendidikan.

Sebagaimana disampaikan dalam suratnya, Kartini menyadari bahwa fitrahnya seorang perempuan adalah di rumah: melayani suami, mengurus rumah tangga, dan membesarkan anak. Fitrah itulah yang dijadikan kedok untuk memingit kaum hawa. Padahal, jika perempuan dibekali pendidikan sebelum menjalani fitrahnya maka pengaruhnya akan terbawa sampai ke anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa ini.

Kartini mungkin belum berhasil mewujudkan kesetaraan gender versi SDGs, tapi

beliau sudah berhasil mengembalikan hak-hak perempuan yang sebelumnya dirampas. Kesetaraan gender yang ingin dicapai dalam target global mungkin masih perlu dikejar oleh pemerintah Indonesia. Namun kini pemerintah tak perlu berlari karena Kartini sudah menjadikannya selangkah lebih dekat.

Rini Sulistyowati Statistisi di Badan Pusat Statistik

 

Baca Juga :

Rasio Penduduk Usia Produktif Tangsel Capai 64%, Begini Cara Kelolanya

Rasio Penduduk Usia Produktif Tangsel Capai 64%, Begini Cara Kelolanya

Rasio Penduduk Usia Produktif Tangsel Capai 64%, Begini Cara Kelolanya
Rasio Penduduk Usia Produktif Tangsel Capai 64%, Begini Cara Kelolanya

Dari seluruh provinsi di Indonesia, ada 10 kota dan kabupatan, yang masuk kategori ‘Kota Layak Pemuda’. Kategori ini disematkan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI. Salah satu kota yang mendapat predikat ‘Kota Layak Pemuda’ adalah Tangerang Selatan (Tangsel).

Kota ini terus berbenah dan berlomba terus menjadi kota terbaik layak pemuda. Ketua Komisi II DPRD Kota Tangsel Periode 2018-2019 Bidang Kesejahteraan Rakyat, Ahmad Syawqi, mengatakan, pihaknya terus concern kepada generasi muda dan menjauhkan dari hal-hal negatif.

Ia memaparkan beberapa poin. Pertama, harus ada keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan manusia. Ia menyebut, pembangunan manusia secara nasional atau dunia, diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi tahun 2030.

“Di Provinsi Banten, khususnya Tangsel, dari usia produktif anak-anak muda, paling tinggi presentase BPS pusat tahun 2016, mencapai 64% dari total populasi 1 juta lebih di Tangsel. Maka itu, harus ada keberpihakan pemerintah dan ada regulasi. Dari regulasi itu, bagaimana membangun SDM agar anak-anak mudanya lebih terarah. Kadang kita sering dengar sustainable purpose, sementara dalam penerapannya masih dirasa kurang di sana-sini,” kata dia dalam keterangan tertulis Minggu (19/8/2018).

Baca juga: Ini 10 Kabupaten dan Kota Layak Pemuda

Syawqi, menegaskan, pemerintah harus memiliki regulasi hukum yang jelas. Bagaimana membangun dan mengarahkan generasi anak muda kedepan. Salah satunya untuk kategori usia 16-30 tahun sesuai undang-undang, sudah masuk usia produktif.

Regulasi hukum ini, kata Syawqi, adalah terjemahan dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2013 tentang Kepemudaan.

“Kalau di Tangsel, kami punya Perda (Peraturan Daerah) tentang penyelenggaraan kepemudaan. Salah satu parameter utama, ada enggak keberpihakan Pemkot terhadap anak muda. Karena didalamnya mengatur, salah satunya, menjauhkan dari hal-hal negatif,” jelas dia.

Kedua, mendorong kewirausahawan pemuda. Setelah regulasi, lanjutnya, anak-anak muda didorong, apakah ingin punya usaha, bentuk kepeloporan, kepemimpinan, dimana hal itu masuk program pemkot dan kabupaten.

Syawqi, mengakui, persoalan regulasi harus didorong dari sisi legislatif.

Sebelumnya, pihaknya sudah menginisiasi para anggota dari KNPI Tangsel. Di pertemuan bersama KNPI tersebut, ia ingin Tangsel harus dapat mendorong anak mudanya dan sinergi dengan Pemkot.

“Banyak yang mau menjadi entrepreneur tapi kesulitan bantuan modal.

Kedepan, kami nggak terlalu banyak mendorong dengan memberi ikan tapi kail. Paling tidak ada stimulan. Bukan bantuan terus-menerus tapi mereka didorong sebagai usahawan,” imbuhnya

 

Sumber :

https://cs.byu.edu/job-posting/school-fundraisers-tips-raising-funds-your-school

Darmin Sebut 20 Tahun Pendidikan RI Nggak Nyambung dengan Industri

Darmin Sebut 20 Tahun Pendidikan RI Nggak Nyambung dengan Industri

Darmin Sebut 20 Tahun Pendidikan RI Nggak Nyambung dengan Industri
Darmin Sebut 20 Tahun Pendidikan RI Nggak Nyambung dengan Industri

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan 20 tahun pendidikan di Indonesia tidak nyambung dengan Industri.

“Kita itu sudah lama sebenarnya mengotak atik maslah itu ada link and match. Bahkan 20 tahun lalu, padahal sudah 20 tahun tapi nggak ada link,” kata dia saat memberikan pemaparan soal kondisi ekonomi dalam Sekoalah Staf Pimpinan Luar Negeri Angkatan ke 59 di Economic Trend, Global Phenomenon and Its Implication to Indonesia di pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Selasa (24/7/2018).

Pemerintah menganggap ada persoalan dan permasalahan dalam kurikulum di SMK yang membuat lulusan SMK masih sulit diserap industri. Sehingga perlu adanya perbaikan kurikulum pendidikan.

“30% di kelas 30% praktek 30% magang. Kita lakukan perubahan di bidang vokasional. Kondisi peningkatan kualitas SDM melalui peningkatan kualitas lulusan SMK, impor ekpor invetasi itu yang sedang kita lakukan dan kita percaya bahwa itu bisa menjawab untuk menyiapkan langkah- langkah yang buat kita berkembang,” jelas dia.

Baca juga: Rupiah Loyo Baik atau Buruk? Ini Jawaban Darmin

Darmin menjelaskan, perbaikan struktur pendidikan di SMK yang dimaksudnya, dilakukan dengan cara memperbanyak praktik lapangan. Pemerintah bekerja sama dengan para pelaku industri agar siswa SMK dapat melakukan magang di industri.

Dengan lebih banyak bekerja di Industri dan memanfaatkan fasilitas yang ada di Industri, maka murid SMK mendapat kesempatan berlatih lebih banyak sehingga memiliki keterampilan diperlukan Industri.

Dengan demikian, diharapkan, lulusan SMK bisa lebih cepat diserap oleh

industri itu sendiri.

“Ini paling cocok jika diaplikasikan pada anak anak SMK karena meskinya dia itu link and match tapi kalau yang namanya SMK kita ngelantur dikit. Bisa tukang kayunya bisa sedikit, nemboknya bisa sedikit harusnya lebih jelas. Jadi SMK itu akan diubah modulnya otomotif ya otomotif bikin rumah di tahun pertama dia harus bisa bikin pintu jendela bagus . Tahun kedua dia diberikan sertifikat kompetensi bikin pintu. Tahun ketiga dia bikin pondasi rumah bikin atap dan dia masing-masing punya sertifikat kompetensi,” jelas dia.

Sebagai informasi, saat ini sudah ada 31 program studi yang dijalankan pemerintah melalui koordinasi sejumlah kementerian mulai dari Kementerian Pendidikan, Kementerian Perhubungan, Tenaga Kerja, Menko Perekonomian, BUMN dan lainnya.

Baca juga: Rupiah Masih Loyo, Dolar AS Kembali Menguat ke Rp 14.550

 

Sehingga nantinya jika seluruh kementerian yang memiliki vokasi bekerja bersama dan menggunakan lulusan SMK. Diharapkan 600 ribu lulusan SMK dapat lapangan pekerjaan.

Kondisi saat ini lulusan SMK penerimaannya di dunia Industri masih rendah,

karena kompetensinya tidak didapat, oleh karena itu melalui pilot project Kementerian Perindustrian 100% lulusan SMK dapat diserap.

 

Sumber :

https://thriveglobal.com/stories/the-internet-is-the-place-where-we-can-get-everything-that-we-need/

Profesi di Bidang IT

Profesi di Bidang IT

Profesi di Bidang IT

1. IT Programmer

• Mengambil bagian dalam pengembangan dan integrasi perangkat lunak.
• Mengembangkan secara aktif kemampuan dalam pengembangan perangkat lunak.
• Menerima permintaan user untuk masalah-masalah yang harus diselesaikan.
• Menyediaakan dukungan dan penyelesaian masalah konsumen baik untuk konsumen internal maupun  eksternal.
• Bertanggung jawab atas kepuasan terkini pelanggan.
• Melakukan tugas-tugas yang berkaitan dan tanggung jawab yang diminta, seperti dalam sertifikat dan menuruti rencana dasar perusahaan untuk membangun kecakapan dalam portofolio produk.
• Mengerjakan macam-macam tugas terkait seperti yang diberikan.
• Membentuk kekompakan maksimum dalam perusahaan bersama dengan rekan-rekan dalam perusahaan.

2. System Analyst

• Mengumpulkan informasi untuk penganalisaan dan evaluasi sistem yang sudah ada maupun untuk rancangan suatu sistem.
• Riset, perencanaan, instalasi, konfigurasi, troubleshoot, pemeliharaan, dan upgrade sistem pengoperasian.
• Riset, perencanaan, instalasi, konfigurasi, troubleshoot, pemeliharaan, dan upgrade perangkat keras, perangkat lunak, serta sistem pengoperasiannya.
• Melakukan analisis dan evaluasi terhadap prosedur bisnis yang ada maupun yang sedang diajukan atau terhadap kendala yang ada untuk memenuhi keperluan data processing.
• Mempersiapkan flowchart dan diagram yang menggambarkan kemampuan dan proses dari sistem yang digunakan.
• Melakukan riset dan rekomendasi untuk pembelian, penggunaan, dan pembangunan hardware dan software.
• Memperbaiki berbagai masalah seputar hardware, software, dan konektivitas, termasuk di dalamnya akses pengguna dan konfigurasi komponen.
• Memilih prosedur yang tepat dan mencari support ketika terjadi kesalahan, dan panduan yang ada tidak mencukupi, atau timbul permasalahan besar yang tidak terduga.
• Mencatat dan memelihara laporan tentang perlengkapan perangkat keras dan lunak, lisensi situs dan/ atau server, serta akses dan security pengguna.
• Mencari alternatif untuk mengoptimalkan penggunaan komputer.
• Mampu bekerja sebagai bagian dari team, misalnya dalam hal jaringan, guna menjamin konektivitas dan keserasian proses di antara sistem yang ada.
• Mencatat dan menyimpan dokumentasi atas sistem.
• Melakukan riset yang bersifat teknis atas system upgrade untuk menentukan feasibility, biaya dan waktu, serta kesesuaian dengan sistem yang ada.
• Menjaga confidentiality atas informasi yang diproses dan disimpan dalam jaringan
• Mendokumentasikan kekurangan serta solusi terhadap sistem yang ada sebagai catatan untuk masa yang akan datang.

3. IT Project Manager

• Mengembangkan dan mengelola work breakdown structure (WBS) proyek teknologi informasi.
• Mengembangkan atau memperbarui rencana proyek untuk proyek-proyek teknologi informasi termasuk informasi seperti tujuan proyek, teknologi, sistem, spesifikasi informasi, jadwal, dana, dan staf.
• Mengelola pelaksanaan proyek untuk memastikan kepatuhan terhadap anggaran, jadwal, dan ruang lingkup.
• Menyiapkan laporan status proyek dengan mengumpulkan, menganalisis, dan meringkas informasi dan tren.
• Menetapkan tugas, tanggung jawab, dan rentang kewenangan kepada personil proyek.
• Mengkoordinasikan rekrutmen atau pemilihan personil proyek.
• Mengembangkan dan mengelola anggaran tahunan untuk proyek-proyek teknologi informasi.
• Mengembangkan rencana pelaksanaan yang mencakup analisis seperti biaya-manfaat atau laba atas investasi.
• Secara langsung atau mengkoordinasikan kegiatan personil proyek.
• Menetapkan dan melaksanakan rencana komunikasi proyek.

Sumber : https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/4VWj/what-is-geography-concept

Model – model struktur organisasi :

Model – model struktur organisasi

Model – model struktur organisasi
Model – model struktur organisasi

1. Model tradisional

• Dirancang terutama untuk lingkungan yang stabil dan pengubahan yang terjadi di dalamnya dapat diperkirakan.
• Cenderung tidak efisien dalam lingkungan yang sangat bergejolak.
Pada model ini terdapat beberapa tingkatan yaitu :
• Manajemen Puncak, pelaksananya adalah Direktur Pelaksana dan Manajer Umum
• Manajemen Menengah, pelaksananya adalah Manajer Departemen Fungsional / Divisi dan Kepala Bagian.
• Manajemen Lini pertama, pelaksananya adalah penyelia / Supervisor / Mandor / Kepala Tukang dan Pengawas Tingkat pertama.
• Karyawan Operasional.

2. Model hubungan manusiawi

Dalam model ini juga diterima konsep speialisasi, rutinitas, dan pemisahan perencanaan dari pelaksanaan sebagai ciri utama organisasi yang efektif. Model ini secara eksplisit mengakui bahwa orang tidaklah selalu bertindak persis segaris dengan posisi menurut struktur formalnya. Hal ini mengandung perhatian manajemen akan adanya ”struktur informal” yang ada di seluruh elemen-elemen organisasi. Model hubungan manusiawi lebih mengusulkan bermacam – macam penyesuaian, teknik – teknik, dan perilaku – perilaku struktur offline.
• Kepemimpinannya dapat mengurangi friksi – friksi di antara orang – oarang dan jabatan – jabatan mereka dalam organisasi, serta menghubungkan kerja sama yang baik antar para anggota organisasi.
• Menyarankan manajer memanfaatkan organisasi informal dalam departemennya.
• Ditunjukkan sejumlah teknik atau program yang biasanya di bawah yurisdiksi kewenangan departemen personalia.

3. Model sumber daya manusia

Implikasi model sumber daya manusia pada struktur organisasi, walaupun abstrak adalah jelas. Model ini berpendapat bahwa pada hakekatnya manusia mempunyai kemampuan untuk mempelajari pengarahan dan pengendalian diri lebih kreatif dari pada pekerjaannya sekarang, dan bahwa tugas manajer adalah menciptakan suatu lingkungan di mana mereka dapat meningkatkan sumbangan kapasitasnya pada organisasi.
Konsep model sumber daya manusia mencoba memaksimumkan fleksibilitas baik di dalam maupun di antara posisi – posisi yang berinteraksi. Hal tersebut mengharuskan anggota – anggota organisasi mempunyai hal – hal sebagai berikut :
• Suatu tujuan tingkat operasional yang telah disetujui bersama
• Jalur untuk memperoleh sumber informasi vertikal dan horisontal yang relevan
• Kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap informasi dengan keputusan dan perilaku yang mengarahkan pencapaian tujuan dengan efisien.
Adapun mengenai tujuan organisasi model sumber daya manusia ditetapkan bersama oleh manajer dan bawahannya, sehingga tujuan bersama tersebut jelas merubah hubungan atasan dan bawahan yang diatur oleh model tradisional dan hubungan manusiawi.

Baca : 

DESAIN ORGANISASI FORMAL DAN INFORMAL

DESAIN ORGANISASI FORMAL DAN INFORMAL

DESAIN ORGANISASI FORMAL DAN INFORMAL
DESAIN ORGANISASI FORMAL DAN INFORMAL

A. Organisasi Formal

Organisasi formal ialah suatu organisasi yang memiliki struktur yang jelas, pembagian tugas yang jelas, serta tujuan yang ditetapkan secara jelas. Atau organisasi yang memiliki struktur (bagan yang menggambarkan hubungan-hubungan kerja, kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab antara pejabat dalam suatu organisasi). Atau organisasi yang dengan sengaja direncanakan dan strukturnya secara jelas disusun. Organisasi formal harus memiliki tujuan atau sasaran. Tujuan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi struktur organisasi yang akan dibuat.

Struktur organisasi (desain organisasi)

dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal dengan mana organisasi dikelola. Struktur organisasi menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, atau pun orang-orang yang menunjukan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam organisasi. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialis kerja, standarisasi, koordinasi, sentralisasi atau desentralisasi dalam pembuatan keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja.

Ada pun faktor-faktor utama yang menentukan perancangan struktur organisasi adalah sebagai berikut :

1. Strategi organisasi untuk mencapai tujuannya
Strategi menjelaskan bagaimana aliran wewenang dan saluran komunikasi dapat disusun diantara para pimpinan dan bawahan. Menurut Chandler, pengubahan strategi mengakibatkan perubahan desain organisasional. Peningkatan kompleksitas menyebabkan struktur tersentralisasi menjadi tidak efisien. Perusahaan-perusahaan harus mengubah strukturnya menjadi struktur yang desentralisasi.
2. Lingkungan yang melingkupinya
Dalam hal ini perlu dibedakan tiga tipe lingkungan sebagai berikut :
• Lingkungan stabil, yaitu lingkungan dengan sedikit atau tanpa perubahan yang tidak diperkirakan atau secara tiba-tiba.
• Lingkungan berubah (changing environment), yaitu lingkungan di mana inovasi (perubahan) mungkin terjadi dalam setiap atau seluruh bidang.
• Lingkungan bergejolak (turbulent environment), yaitu lingkungan di mana sering terjadi perubahan secara drastis.

Teknologi yang digunakan

Perbedaan teknologi yang digunakan untuk memproduksi barang- barang atau jasa akan membedakan struktur organisasi. Semakin kompleks teknologi, semakin besar jumlah manajer dan tingkatan manajemen. Perusahaan yang ingin sukses harus memiliki struktur yang sesuai dengan tingkat teknologinya.
4. Anggota (pegawai/karyawan) dan orang-orang yang terlibat dalam organisasi
Kemampuan dan cara berpikir para anggota, serta kebutuhan mereka untuk bekerja sama harus diperhatikan dalam merancang struktur organisasi. Kebutuhan manajer dalam pembuatan keputusan juga akan mempengaruhi saluran komunikasi, wewenang dan hubungan diantara satuan kerja pada rancangan struktur organisasi. Para manajer organisasi, terutama para manajer puncak, akan mempengaruhi pemilihan strategi, dan pemilihan strategi ini akan mempengaruhi tipe struktur yang digunakan dalam organisasi.
5. Ukuran organisasi.
Besarnya organisasi secara keseluruhan maupun satuan kerjanya yang sangat mempengaruhi struktur organisasi.Semakin besar ukuran organisasi, struktur organisasi akan semakin kompleks dan harus dipilih struktur yang tepat

Sumber : https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/POdz/how-to-prevent-air-and-soil-pollution

SEJARAH ORGANISASI

SEJARAH ORGANISASI

SEJARAH ORGANISASI
SEJARAH ORGANISASI

Manusia merupakan makhluk sosial

makhluk bermasyarakat (homo socius, social animal, zoon politicon), tidak mungkin dapat hidup sendiri, cenderung bermasyarakat atau berkelompok (gregariousness). Manusia memiliki beberapa keperluan. Menurut Abraham Maslow, keperluan-keperluan itu adalah :
1. Keperluan fisik (physical need);
2. Keperluan rasa aman dan selamat (safety need);
3. Keperluan social (social needs);
4. Keperluan akan harga diri (esteem needs);
5. Keperluan aktualisasi diri (self realization needs).
Keperluan-keperluan tersebut mendorong seseorang untuk bekerja. Namun selain keperluan-keperluan tersebut,

ada hal lain yang mendorong seseorang untuk bekerja, yaitu :

1. Dorongan primer (Kelangsungan hidup organis)
2. Motif Dasar (Psikologis dan sosial)
Dan berikut adalah hal-hal yang memotivasi orang bekerja
1. Kepastian (masa depan-kelangsungan kerja);
2. Kesempatan (naik pangkat/dipromosikan);
3. Peran serta (saran-saran/masukan dalam pengambilan keputusan);
4. Pengakuan/penghargaan (prestasi kerja);
5. Ekonomi (upah/gaji yang layak untuk hidup);
6. Pencapaian (keberhasilan dalam pekerjaan);
7. Komunikasi (mengetahui apa yang terjadi dalam organisasi);
8. Kekuasaan (kewibawaan, dan mempengaruhi orang lain);
9. Keterpaduan (bagian dari organisasi secara keseluruhan);

Kebebasan (pribadi dan pendapat).

Adanya keperluan akan menimbulkan keinginan untuk memenuhi keperluan pada diri seseorang. Dan untuk memenuhi keperluan-keperluan tersebut,seseorang akan melakukan tindakan yang akan membantunya dalam mencapai tujuannya. Karena tidak semua keperluan dapat dipenuhi seorang diri, maka diperlukan organisasi atau kegiatan berorganisasi untuk membantu seseorang dalam mencapai tujuannya (yaitu memenuhi keperluan / kebutuhan dan keinginannya).
Dalam perkembangannya, organisasi memiliki beberapa teori yang diperoleh dari para ahli. Teori ini terus berkembang dari teori klasik hingga muncunya teori modern di tahun 1950. Teori ini menunjukkan tiga kegiatan proses hubungan universal yang selalu muncul pada

system manusia dalam perilakunya berorganisasi, yaitu :

1. Komunikasi
2. Konsep keseimbangan
3. Proses pengambilan keputusan
Pembahasan mengenai teori – teori organisasi akan dibahas pada bab selanjutnya.

Sumber : https://linda134.student.unidar.ac.id/2019/07/contoh-teks-eksplanasi-tentang-sampah.html

Kasus Bullying Terjadi Lagi! Pelakunya Siswa SMP di Lorong Mal Thamcit

Kasus Bullying Terjadi Lagi! Pelakunya Siswa SMP di Lorong Mal Thamcit

Kasus Bullying Terjadi Lagi! Pelakunya Siswa SMP di Lorong Mal Thamcit
Kasus Bullying Terjadi Lagi! Pelakunya Siswa SMP di Lorong Mal Thamcit

Aksi bully yang dilakukan pelajar tidak hanya terjadi di kampus Gunadarma, Depok, Jawa Barat. Di DKI Jakarta, ada aksi serupa yang direkam di sebuah lorong pusat perbelanjaan. Diduga, aksi itu dilakukan oleh siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan dilakukan mal Thamrin City.

Menanggapi viralnya video itu, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta

memastikan kasus dugaan bullying dilakukan di luar proses Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dugaan awal, kejadian tersebut memang diduga ada unsur kesengajaan.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Sopan Adrianto menjelaskan, informasi yang dia peroleh kejadian tersebut merupakan murid sekolah SMPN 273 yang berlokasi di Tanah Abang. Kejadian itu terjadi pada Jumat (14/7), dan mendadak viral pada Minggu (16/7).
Kasus Bullying Terjadi Lagi! Pelakunya Siswa SMP di Lorong Mal Thamcit
Cuplikan aksi bullying yang diduga dilakukan siswa SMPN 273 (Istimewa)

“Kejadian itu Jumat, dan saya memperolehnya (video) semalam pada 20.30 WIB. Dan itu di luar MPLS,” tegas Sopan kepada JawaPos.com di kantornya, Senin (17/7).

Sopan memastikan kejadian viral tersebut bukan rangkaian dari MPLS. Pasalnya,

kasus bully itu terjadi di luar tanggal 10-12 Juli 2017. “MPLS itu hanya tiga hari di hari pertama, kedua, dan ketiga masuk sekolah. Jadi saya jamin itu di luar MPLS. Dan MPLS di DKI Jakarta aman terkendali,” katanya.

Sopan menegaskan, hasil sementara itu adalah siswa SMPN 273 namun ada yang di luar SMPN itu. Artinya, bisa saja mereka bergabung dengan kelompok siswa yang memiliki latar belakang dari sekolah yang sama.

“Bukan alumni juga. Jadi misalnya, Saya lulus satu SDnya bareng, tiba-tiba

sekarang saya ke 273, lalu kamu ke tempat lain. Nah sekarang ketemu, sama-sama membully. Dulu gengnya SD ketemu sekarang meskipun sekolahnya sudah berpisah,” papar Sopan.

Video tersebut mendadak viral setelah ramai diperbincangkan di akun Lambe Turah. Di video itu terlihat korban diminta mencium tangan pelaku di lorong perbelanjaan yang tertulis bahwa itu berlokasi di Thamrin City. Korban dipaksa juga untuk menyembah pelaku. Aksi itu dilakukan oleh pelaku sambil tertawa.

 

Baca Juga :