Tak Mau Dicurhati, Warektor di India: Bunuh Saja Temanmu daripada Mengeluh ke Saya

Tak Mau Dicurhati, Warektor di India: Bunuh Saja Temanmu daripada Mengeluh ke Saya

Tak Mau Dicurhati, Warektor di India Bunuh Saja Temanmu daripada Mengeluh ke Saya
Tak Mau Dicurhati, Warektor di India Bunuh Saja Temanmu daripada Mengeluh ke Saya

Seorang pejabat tinggi universitas negeri di India menyarankan muridnya untuk “membunuh” teman-teman mereka jika diajak berkelahi, daripada datang dan mengeluhkan kepadanya. Perkataan itu diucapkannya di tengah gelombang kekerasan yang tengah marak terjadi di negara bagian tempat universitas tersebut berada.

“Kalau kamu murid di universitas ini, jangan pernah datang menangis menemui saya,” kata Raja Ram Yadav, Wakil Rektor Universitas Purvanchal, dalam sebuah video yang diperoleh Reuters.

Baca juga: Protes Menentang Aksi Perempuan Masuki Kuil Masih Berlangsung di

India

“Kalau kamu terlibat dalam perkelahian, hajar mereka, kalau bisa bunuh mereka, dan kami yang akan urus belakangan,” tambahnya.

Yadav berbicara pada sebuah acara kampus di Ghazipur, di negara bagian India yang berpenduduk paling padat, Uttar Pradesh pada hari Jumat 28 Desember 2018.

Baca juga: 3 Juta Perempuan India Unjuk Rasa Membentuk Rantai Manusia Sepanjang 620 Km

Di kota yang sama, seorang polisi dilempari batu sampai mati akibat unjuk rasa

yang penuh kekerasan pada hari Sabtu 29 Desember 2018, walaupun tidak ada bukti kuat yang mengaitkan pidatonya dengan kejadian tersebut.

Uttar Pradesh dikenal dengan tingkat kejahatan komunal yang tinggi. Belakangan banyak terjadi kekerasan massa di sini.

Baca juga: Ingin Beri Pelajaran, Wanita di India Serang dan Potong Penis Penguntitnya

Seorang petugas polisi dan seorang pria lainnya tewas dalam sebuah insiden

kekerasan pada awal bulan Desember setelah warga setempat melakukan demonstrasi. Menurut mereka, ada sekelompok orang yang menyembelih sapi, hewan yang dianggap suci oleh agama Hindu. Penyembelihan itu dilaporkan berlangsung di distrik Bulandshahr, Uttar Pradesh.

 

Baca Juga :

Telafest 2018, Ajang Unjuk Gigi Sekolah Dasar Berprestasi

Telafest 2018, Ajang Unjuk Gigi Sekolah Dasar Berprestasi

Telafest 2018, Ajang Unjuk Gigi Sekolah Dasar Berprestasi
Telafest 2018, Ajang Unjuk Gigi Sekolah Dasar Berprestasi

JAKARTA – SD Islam Tugasku menyelenggarakan lomba olahraga dan seni dalam Event Elementary Festival. Kegiatan ini menjadi menarik karena memperebutkan piala bergilir Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

Tugasku Elementary Festival (Telafest) yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Pada Telafest kedua ini tema yang diusung adalah “Dengan hidup sehat akan tumbuh kreativitas melalui peduli kebudayaan indonesia sebagai ciri generasi unggul.“

Kegiatan ini diselenggarakan selama 3 hari, 21-22 dan 24 Oktober 2018

berlangsung di GOR Ciracas Jakarta Timur dengan cakupan peserta sekolah dasar negeri dan swasta serta sekolah luar biasa se-DKI Jakarta.

Festival ini menyajikan format kompetisi cabang Futsal, Permainan Tradisional, Tari Kreasi Tradisional untuk umum, cabang atletik dan Bocce untuk ABK, serta cabang Sola vokal dan Kreasi daur ulang untuk keduanya.

Cabang futsal pun terdiri dari 3 kategori yaitu U8, U10 dan U12 di mana masing-masing kategori diikuti 32 tim. Pertandingan Futsal ini dilaksanakan lebih awal selama 2 hari pada tanggal 21-22 Oktober bertempat di Kirana Kelapa Gading dan lapangan SDI Tugasku, Pulomas.

Puncak acara pada tanggal 24 Oktober 2018 berlangsung di GOR Ciracas, dengan pembukaan yang meriah dan semangat layaknya para atlet berdefile siap untuk bertanding. Acara ini resmi dibuka oleh Didih Hartaya selaku Kepala Bidang Sekolah Dasar dan PKLK Provinsi DKI Jakarta. Beliau sangat senang dan mengapresiasi kegiatan Telafest ini.

Terlebih SDI Tugasku mengusung perlombaan untuk PKLK (Pendidikan Khusus

dan Layanan Khusus memberikan ajang kepada anak-anak berkebutuhan khusus untuk terus berkreasi dan mengembangkan diri mereka.

Pembukaan yang diawali oleh tim marching SDI Tugasku asuhan Beno, dan

Gambang Kromong SDN Pisangan Timur 11 di bawah asuhan Suhana selaku Kepala Sekolah, tari persembahan dari SDI Tugasku dan tak ketinggalan SMP Islam Tugasku juga memberikan penampilan yang luar biasa. Pengumuman pemenang futsal saat pembukaan menambah spirit tim lomba yang lain untuk segera bertanding pada hari itu. Pemenang futsal mendapatkan piala dan uang pembinaan untuk juara 1-3.

 

Sumber :

http://bengawan.uns.ac.id/akhlak-adalah/

Cerita 2 Mahasiswa Indonesia ketika Memutuskan Kuliah di New Zealand

Cerita 2 Mahasiswa Indonesia ketika Memutuskan Kuliah di New Zealand

Cerita 2 Mahasiswa Indonesia ketika Memutuskan Kuliah di New Zealand
Cerita 2 Mahasiswa Indonesia ketika Memutuskan Kuliah di New Zealand

Naskah kuno memiliki peran yang sangat penting bagi suatu negara. Naskah kuno mampu membangun nilai-nilai karakter bangsa, sehingga eksistensinya penting melalui dasar-dasar pendidikan.

“Dasar pendidikan yang pertama itu Pancasila, harus Pancasilais. Anak-anak kita

harus mengerti Pancasila, kedua Undang-Undang Dasar, ketiga kebudayaan dan keempat tantangan zaman,” ujar Prof Arief Rachman, dalam Seminar Nasional Festival Naskah Nasional, di Perpusnas, Jakarta, Senin (17/9/2018)

Pakar pendidikan ini menjelaskan, pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang mampu mengantarkan anak-anak menjadi seseorang yang bertaqwa, berkepribadian matang, berilmu mutakhir dan berprestasi, mempunyai rasa kebangsaan, dan berwawasan global.

“Dengan pendidikan yang sukses begitu pasti ada karakter yang bagus dimiliki anak-anak. Karakter adalah bawaan hati, jiwa kepribadian, budi pekerti, personalitas, dan sifat. Sebuah karakter itu merupakan sikap dan kebiasaan seseorang yang memungkinkan dan mempermudah tindakan moral,” jelasnya.

Kemudian dia juga memaparkan tentang pendidikan karakter yang dilakukan

dengan sengaja atau tidak sengaja untuk menolong manusia agar mengerti, peduli dan bertindak berdasarkan nilai-nilai dasar etika.

“Ya tentu semua pasti ada tujuannya, tujuannya agar mereka mengetahui apa yang benar dan baik serta patut juga sangat peduli terhadap apa yang benar dan yakin meskipun dalam keadaan tertekan dan dilema,” katanya.

Kendati demikian dengan adanya membangun karakter diri bangsa pasti ada

kompetensi andalan yang harus dimiliki anak-anak.

“Harus punya kompetensi manajemen diri sendiri, mengatur diri sendiri udah teratur belum? Terus keinginan untuk terus berprestasi dalam segala bidang, keterampilan hubungan antar manusia, kemampuan teknis yang profesionalisme, keterampilan melayani, kita itu lebih banyak melayani, diri sendiri, orang lain, kemudian keterampilan manajerial, dan wawasan berpikir global,” ujarnya

“Learning to know, learning to do, learning to be, learing to live together,” tambahnya

 

Sumber :

http://bengawan.uns.ac.id/contoh-teks-eksplanasi-gerhana-bulan/

Administrasi Pendidikan Dalam Profesi Keguruan

Administrasi Pendidikan Dalam Profesi Keguruan

 

Administrasi Pendidikan Dalam Profesi Keguruan

Teori Belajar Dan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

  • Hakikat Belajar

Belajar adalah suatu proses berkesinambungan yang terjadi pada individu seumur hidupnya. Menurut Slameto (2010 ; 2), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memproleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengamalannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Perubahan tingkah laku yang dimaksud dalam pengertian belajar menurut Slameto mempunyai cirri-ciri yaitu: 1). Perubahan terjadi secara sadar, 2). Perubahan dalam belajar bersifat kontiniu dan fungsional, 3). Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif, 4). Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, 5). Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, 6). Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

Robins (dalam Trianto: 2010 : 16 ) mendefenisikan belajar adalah :

Proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu (pengetahuan) yang baru. Dalam defenisi tersebut dimensi belajar memuat beberapa unsur, yaitu: 1). Penciptaan hubungan, 2) sesuatu hal (pengetahuan) yang sudah dipahami dan 3). Sesuatu (pengetahuan) yang baru. Jadi dalam makna belajar, disini bukan berangkat dari sesuatu yang benar-benar belum diketahui (nol), tetapi merupakan keterkaitan dari dua pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru.

Hasil Belajar

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Jika dalam proses belajar tidak mendapatkan peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka dapat dikatakan seseorang itu gagal dalam proses belajar. Hasil belajar terjadi karena adanya evaluasi terhadap siswa oleh guru dalam proses pembelajaran.

Menurut Djamara (dalam Ekawarna, 2009 : 73) hasil belajar adalah :

Hasil yang diproleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dari dari dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas belajar yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau hufuf. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar juga dapat ditunjukkan dalam bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.

Mulyono (2003 : 37), mengemukakan bahwa hasil belajar adalah :

Kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan. Belajar itu sendiri ,merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional.

 

Artikel terkait :

Fungsi Administrasi Pendidikan

Fungsi Administrasi Pendidikan

 

Fungsi Administrasi Pendidikan

Paparan tentang fungsi administrasi pendidikan terutama dalam konteks sekolah perlu dimulai dari tinjauan tentang tujuan pendidikan. Hal ini disebabkan oleh adanya prinsip bahwa pada dasarnya kegiatan amdinistrasi pendidikan dimaksudkan untuk pencapaian tujuan pendidikan itu. Tujuan itu dicapai dengan melalui serangkaian usaha, mulai dari perencanaan sampai melaksanakan evaluasi terhadap usaha tersebut. Pada dasarnya fungsi administrasi merupakan proses pencapaian tujuan melalui serangkaian usaha itu (Longenecker, 1964). Oleh karena itu, fungsi administrasi pendidikan dibicarakan sebagai serangkaian proses kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan itu.

Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan perlu dibicarakan di sini karena alasan sebagai berikut: a). tujuan pendidikan merupakan jabaran dari tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, pemahaman tentang hubungan keduanya perlu dilakukan. b), tujuan pendidikan merupakan titik berangkat administrasi pendidikan pada jenjang sekolah, dan c), tujuan pendidikan itu juga merupakan tolak ukur keberhasilan kegiatan administrasi pendidikan di jenjang pendidikan itu.

Proses sebagai fungsi administrasi pendidikan

Agar kegiatan dalam komponen administrasi pendidikan dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan, kegiatan tersebut harus dikelola melalui sesuatu tahapan proses yang merupakan daur (siklus), mulai dari perencanaan, pengorganisassi, pengarahan, pengkoordinasian, pembiayaan, pemantauan, dan penilaian seperti telah disinggung secara garis besar pada bagian terdahulu. Di bawah ini akan diuraikan proses tersebut lebih rinci :

  • Perencanaan

Perencanaan adalah pemilihan dari sejumlah alternatif tentang penetapan prosedur pencapaian, serta perkiraan sumber yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan tersebut. Yang dimaksud dengan sumber meliputi sumber manusia, material, uang, dan waktu. Dalam perencanaan, kita mengenal beberapa tahap, yaitu tahap, a). identifikasi masalah, b) perumusan masalah, c). penetapan tujuan, d). identifikasi alternatif, e). pemilihan alternatif, dan f). elaborasi alternatif.

  • Pengorganisasian

Pengorganisasian di sekolah dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses untuk memilih dan memilah orang-orang (guru dan personal sekolah lainya) serta mengalokasikan prasarana dan saran untuk menunjang tugas orang-orang itu dalam rangka mencapai tujuan sekolah. Termasuk di dalam kegiatan pengorganisasian adalah penetapan tugas, tanggung jawab, dan wewenang orang-orang tersebut serta mekanisme kerjanya sehingga dapat menjadi tercapainya tujuan sekolah itu.

  • Pengarahan

Pengarahan diartikan sebagai suatu usaha untuk menjaga agar apa yang telah direncanakan dapat berjalan seperti yang dikehendaki. Suharsimi Arikunto (1988) memberikan definisi pengarahan sebagai penjelasan, petunjuk, serta pertimbangan dan bimbingan terhadap pra petugas yang terlibat, baik secara struktural maupun fungsional agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan lancar.

  • Pengkoordinasia

Pengkoordinasian di sekolah diartikan sebagai usaha untuk menyatupadukan kegiatan dari berbagai individu atau unit di sekolah agar kegiatan mereka berjalan selaras dengan anggota atau unit lainnya dalam usaha mencapai tujuan sekolah.

  • Pembiayaan

Pembiayaan sekolah adalah kegiatan mendapatkan biaya serta mengelola anggaran pendapatan dan belanja pendidikan menengah. Kegiatan ini dimulai dari perencanaan biaya, usaha untuk mendapatkan dana yang mendukung rencana itu, penggunaan, serta pengawasan
penggunaan anggaran tersebut

  • Penilaian

Dalam waktu-waktu tertentu, sekolah, pada umumnya atau anggota organisasi seperti guru, kepala sekolah, dan murid pada khususnya harus melakukan penilaian tentang seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan tercapai, serta mengetahui kekuatan dan kelemahan program yang dilaksanakan. Secara lebih rinci maksud penilaian adalah untuk: a) memperoleh dasar bagi pertimbangan apakah pada akhir suatu periode kerja pekerjaan tersebut berhasil, b). menjamin cara bekerja yang efektif dan efisien, c). memperoleh fakta-fakta tentang kesurakan-kesukaran dan untuk menghidarkan situasi yang dapat merusak, serta d). memajukan kesanggupan para guru dan orang tua murid dalam mengembangkan organisasi sekolah.

 

Sumber : https://www.sekolahbahasainggris.co.id/

Lingkup Bidang Garapan Administrasi Pendidikan

Lingkup Bidang Garapan Administrasi Pendidikan

Lingkup Bidang Garapan Administrasi Pendidikan
Dari uraian di atas, tampak bahwa administrasi pendidikan pada pokoknya adalah semua bentuk usaha bersama untuk mencapai tujuan pendidikan dengan merancang, mengadakan, dan memanfaatkan sumber-sumber (manusia, uang, peralatan, dan waktu). Tujuan pendidikan memberikan arah kegaitan serta kriteria keberhasilan kegiatan itu.
  • Bidang administrasi material: kegiatan administrasi yang menyangkut bidang-bidang materi. Seperti: ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, alat-alat perlengkapan.
  • Bidang administrasi personal, yang mencakup di dalamnya persoalan guru dan pegawai sekolah dan sebagainya.
  • Bidang administrasi kurikulum, yang mencakup didalamnya pelaksanaan kurikulum, pembinaan kurikulum, penyusunan silabus, perisapan harian, dan sebagainya.

Peranan Guru dalam Administrasi Pendidikan

Tugas utama guru yaitu mengelola proses belajar-mengajar dalam suatu lingkungan tertentu, yaitu sekolah. Sekolah merupakan subsistem pendidikan nasional dan di samping sekolah, sistem pendidikan nasional itu juga mempunyai komponen-komponen lainnya. Guru harus memahami apa yang terjadi dilingkungan kerjanya.
Di sekolah guru berada dalam kegiatan administrasi sekolah, sekolah melaksanakan kegiatannya untuk menghasilkan lulusan yang jumlah serta mutunya telah ditetapkan. Dalam lingkup administrasi sekolah itu peranan guru amat penting. Dalam menetapkan kebijaksanaan dan melaksanakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pembiayaan dan penilaian kegiatan kurikulum, kesiswaan, sarana dan prasarana, personalia sekolah, keuangan dan hubungan sekolah-masyarakat, guru harus aktif memberikan sumbangan, baik pikiran maupun tenaganya. Administrasi sekolah adalah pekerjaan yang sifatnya kolaboratif, artinya pekerjaan yang didasarkan atas kerja sama, dan bukan bersifat individual. Oleh karena itu, semua personel sekolah termasuk guru harus terlibat.

Admnistrasi pendidikan

Admnistrasi pendidikan bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan, pengertian administrasi pendidikan dapat dirumuskan dari berbagai sudut pandang kerja sama, proses kerja sama itu, sistem dan mekanismenya, manajemen, kepemimpinan, proses pengambilan keputusan, komunikasi dan ketatausahaan. Guru sangat berperan dalam administrasi pendidikan, tugas utama guru yang sebagai pengelola dalam proses belajar mengajar di lingkungan tertentu, yaitu sekolah.

Mahasiswa Surabaya Buat Alat Pengeringan Krupuk dan Produk Makanan Olahan

Mahasiswa Surabaya Buat Alat Pengeringan Krupuk dan Produk Makanan Olahan

Mahasiswa Surabaya Buat Alat Pengeringan Krupuk dan Produk Makanan Olahan
Mahasiswa Surabaya Buat Alat Pengeringan Krupuk dan Produk Makanan Olahan

Cuaca tidak menentu akhir-akhir ini menyebabkan usaha pembuatan produk makanan olahan menjadi terganggu. Termasuk usaha kecil masyarakat dalam pembuatan krupuk, ikan asin, hingga usaha pencucian dan pengeringan baju yang merasakan dampaknya ketika matahari tidak bersinar dengan terik.
SURABAYA —

Seorang mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Fandri Christanto, merancang sebuah alat pengering krupuk yang mampu mempercepat waktu pengeringan dan menampung cukup banyak jumlah produksi krupuk yang akan dikeringkan. Fandri mengatakan, ide pembuatan alat pengering krupuk ini didasari usaha orang tuanya di Mojokerto yang memproduksi aneka produk krupuk. Namun karena cuaca yang tidak menentu dan matahari yang tidak bersinar secara maksimal, seringkali produksi krupuk terkendala proses pengeringan yang cukup lama.

“Saya melihat orang tua saya itu kalau musin hujan susah untuk mengeringkan krupuk, dan lagian kalau kita pakai energi konvensional, matahari, itu pasti akan membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang luas. Nah maka dari Karena itu, saya dan beberapa dosen pendamping berinovasi untuk membuat alat pengering ini,” ungkapnya.

Alat pengeringan krupuk itu berukuran 120 x 260 cm, dengan tinggi sekitar 240 cm. Alat ini dirancang untuk mampu menampung sekitar 50 kilogram bahan krupuk basah, untuk satu kali pengeringan. Penggunaan alat ini bisa menggantikan panas matahari, dengan waktu pengeringan yang cukup singkat dan tidak memerlukan lahan luas seperti saat menjemur di bawah sinar matahari.

“Pengeringan ini dilakukan menggunakan bahan bakar LPG untuk pemanasnya,

sedangkan listrik digunakan untuk menyalakan sebuah blower dan sistem otomasinya saja. Listrik ini memakan daya sebesar 72 watt saja. Mengeringkan krupuk 50 kilogram dengan jangka waktu hanya 90 menit saja. sehingga cepat. Untuk LPG asumsi 3 kilogram, kita bisa pakai selama untuk tiga 3 kali pengeringan, 1 tabung LPG kurang lebih menghasilkan (memanaskan) 150 kilogram krupuk,” tambahnya.

Dosen pembimbing dari Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala

Surabaya, Andrew Joewono mengatakan, metode pengeringan memanfaatkan angin panas dipastikan tidak memakan energi yang besar, baik listrik maupun bahan bakar LPG.

“Mesin ini ada tiga bagian, ada rak pengeringan, ada rak pengarahnya, ada angin

panasnya. Jadi metode yang kita pakai itu, metode pengeringan dengan menggunakan angin panas, nah angin panasnya itu yang diputarkan kembali untuk dimasukkan kembali mengeringkan, sehingga tidak ada angin panas yang terbuang, sehingga bisa diputar lagi, sehingga sistem ini menjadi lebih hemat,” ulasnya.

 

Baca Juga :

Tim Robotika Putri Afghanistan Terkesan dengan ‘AS yang Bersahabat’

Tim Robotika Putri Afghanistan Terkesan dengan ‘AS yang Bersahabat’

Tim Robotika Putri Afghanistan Terkesan dengan 'AS yang Bersahabat'
Tim Robotika Putri Afghanistan Terkesan dengan ‘AS yang Bersahabat’

Perlu intervensi dari Presiden AS Donald Trump dan pejabat lainnya untuk mengizinkan para pelajar putri tim robotika Afghanistan bisa memperoleh visa setelah dua kali sebelumnya ditolak. Pihak berwenang AS akhirnya mengizinkan mereka melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk mengikuti kompetisi robotika internasional.

Salah satu kejutan terbesar bagi mereka setelah tiba di Washington? Keamanan yang ketat.

“Keamanan yang kami lihat di sini, bukan di Herat, Afghanistan,” kata Kawsar

Roshan, seorang anggota tim yang berusia 13 tahun, kepada VOA pada hari terakhir kompetisi FIRST Global Challenge, di mana para remaja dari seluruh dunia menunjukkan keahlian mereka dalam mendesain, membuat dan memrogram perangkat robot.

“Ini adalah kota yang damai. Orang tidak saling berperang, dan ini adalah lingkungan yang ramah,” kata anggota tim Afghanistan lainnya, Fatima Qaderian.
Tim robotika pelajar putri Afghanistan berlatih di Herat sebelum berangkat ke Washington DC (foto: dok).
Tim robotika pelajar putri Afghanistan berlatih di Herat sebelum berangkat ke Washington DC (foto: dok).

Tanah air mereka telah terjebak dalam siklus perang dan kekerasan yang

hampir tiada henti selama lebih dari 35 tahun. PBB melaporkan Senin bahwa lebih dari 1.660 warga sipil, banyak di antaranya adalah wanita dan anak-anak, tewas dalam perang antara Januari dan Juni 2017.

Tim robotika putri Afghanistan ini berhasil sampai di kota Washington hanya sehari sebelum pertandingan dilangsungkan. Permohonan visa awal mereka ditolak oleh Kedutaan Amerika di Kabul, namun mereka kemudian diberikan izin masuk ke AS setelah ada permintaan dari Presiden Trump, kata para pejabat AS.

Pada hari Selasa (18/7), anak perempuan Trump dan penasihat senior Gedung

Putih, Ivanka Trump, memberikan kunjungan khusus ke tim dan sponsor mereka. Ivanka sebelumnya menuliskan cuitan di akun Twitternya bahwa dia berharap bisa menyambut mereka.

 

Sumber :

https://www.viki.com/users/danuaji88/about

Mahasiwa Jawab Tantangan Permasalahan Pertahanan AS yang Rumit

Mahasiwa Jawab Tantangan Permasalahan Pertahanan AS yang Rumit

Mahasiwa Jawab Tantangan Permasalahan Pertahanan AS yang Rumit
Mahasiwa Jawab Tantangan Permasalahan Pertahanan AS yang Rumit

Mahasiswa Stanford University belajar untuk memecahkan permasalahan di dunia nyata dalam kelas yang dinamai “Hacking the Defense.”
STANFORD, CALIFORNIA —

Ada lebih dari 100 mata kuliah kewirausahaan di Stanford University. Namun hanya satu yang melibatkan mahasiswa dengan berlari menuju samudra dengan berpakaian penuh atau berpakaian seragam dengan membawa alat peledak.

Dalam sebuah kelas yang disebut Hacking for Defense, mahasiswa menjawab permasalahan yang dihadapi pasukan dan lembaga pertahanan. Mereka diharapkan untuk turun ke lapangan untuk memahami bagaimana rasanya menjadi seorang prajurit yang berjuang dengan teknologi pemetaan atau seorang veteran yang kembali dari medan tempur yang menyandang berbagai cedera tubuh.

“Mereka berusaha memecahkan beberapa dari permasalahan nyata paling sulit di dunia yang akan pernah mereka temui,” ujar Steve Blank, satu dari beberapa pengajar di kelas itu.

“Dengan segala hormat kepada Google dan Dropbox serta Facebook dan Twitter, dimana mereka memiliki semua peluang di lembah ini untuk mengerjakan apa yang dilakukan oleh para mahasiswa di sini, ini adalah beberapa permasalahan yang membuat permasalahan yang mereka kerjakan terlihat remeh temeh bila dibandingkan,” ujarnya.

Badan-badan yang menjadi bagian Departemen Pertahanan memberikan permasalahan kepada kelas tersebut. Para mahasiswa dapat tertantang untuk menemukan cara-cara untuk membantu para veteran yang menyandang beragam cedera atau berusaha untuk menciptakan teknologi sehingga para penyelam Navy Seal tidak harus berulang kali muncul ke permukaan air.

Mahasiswa mewawancara banyak orang sebagai bagian dari metodologi untuk mengubah gagasan secara cepat menjadi solusi, yang dikenal sebagai “produk dengan kelayakan minimum.” Mereka terus menerus menguji hipotesanya untuk mendapatkan sebuah jalan keluar dan dari wawancara yang mereka lakukan sering kali mereka belajar bahwa mereka harus mengulang kembali dari awal. Metodologi yang disebut “Peluncur Ramping,: digunakan oleh program National Science Foundation’s Innovation Core untuk mengkomersialisasikan ilmu pengetahuan.

Mahasiswa Stanford juga harus belajar bagaimana keputusan dalam sebuah organisasi diambil.

“Penyebarluasan maknanya, darimana kita mendapatkan pendanaan?” ujar Blank. “Siapa yang harus anda yakinkan? Apakah seorang jendral, manajer program? Apakah sekumpulan orang? Siapa yang akan memproduksinya?”

Menguggah kesadaran

Mata kuliah yang tidak biasa ini yang berlangsung selama 10 pekan mengguggah

para mahasiswa yang belajar dari dekat tentang beragam tantangan yang dihadapi keamanan nasional. Selain di Stanford, mata kuliah yang sama juga diajarkan di delapan universitas lainnya.

Benji Nguyen, seorang mahasiswa jurusan kebijakan publik dari Austin, Texas, sedang menangani tugas terkait keamanan siber di pelabuhan-pelabuhan di AS sebagai bagian dari USTRANSCOM, yang mengelola transportasi di Amerika Serikat.

Ia telah mendiskusikan tentang mata kuliah ini bersama kedua orang tuanya.

“Ketika saya sampaikan kepada mereka bahwa saya sedang bekerja bersama pihak militer untuk membantu memecahkan permasalahan, mereka sangat terlihat sangat tertarik,” ujarnya.

Untuk mahasiswa AS, kelas Hacking the Defense memberi mereka peluang unik

untuk mengabdi kepada negaranya; namun juga kelas tersebut ternyata telah menarik mahasiswa asing dalam jumlah yang mengejutkan, ujar Blank.

“Saya terkejut dengan jumlah mahasiswa asing asal Singapura, China, dan India yang sama tertariknya untuk belajar metodologi yang sama dan membawa pengetahuan tersebut kembali ke negaranya,” ujarnya.

Beberapa mahasiswa melanjutkan dengan membangun perusahaan dari proyek yang mereka kerjakan selama belajar dari kelas ini.

Ketika ia ikut kelas Hacking for Defense tahun lalu di Stanford, Payam

Banazadeh, direktur utama Capella Space, mengatakan timnya mewawancarai lebih dari 150 orang, dengan bertanya, “Apakah yang menjadi permasalahan anda? Apa yang membuat anda tidak dapat tidur? Apabila anda memiliki uang untuk dibelanjakan, kemana anda akan belanjakan uang itu?” Tim tersebut sedang merancang satelit yang dapat mengumpulkan data bahkan ketika tertutup awan atau dalam kondisi gelap.

“Apabila jawaban kita sesuai dengan teknologi yang kami miliki, maka anda telah bertemu dengan pelanggan yang sesungguhnya,” ujar wiraswata kelahiran Iran.

Baru-baru ini, Capella berhasil menggalang dana sebesar $12 juta. Di antara pelanggannya adalah Departemen Pertahanan.

 

Sumber :

https://worldcosplay.net/member/799880

Proses Pemberadaban dalam Konteks Global

Proses Pemberadaban dalam Konteks Global

Proses Pemberadaban dalam Konteks Global
Proses Pemberadaban dalam Konteks Global

 

Salah satu teoritisi ilmu Hubungan Internasional (HI)

yang melihat adanya relevansi yang besar dari teori proses pemberadaban Elias di dalam ilmu HI adalah Andrew Linklater.[20] Menurut Linklater, relevansi teori proses pemberadaban Elias terhadap munculnya kosmopolitanisme di tingkat global didasarkan pada klaim yang menyatakan bahwa terbentuknya masyarakat internasional harus dilihat sebagai bagian transformasi kehidupan sosial dan politik yang terjadi di Eropa dan menyebar luas ke seluruh dunia melalui berbagai peristiwa sejalan dengan babakan sejarah seperti kolonialisasi, perdagangan dan di era dewasa ini melalui globalisasi.[21] Bagi Linklater, kelebihan Elias dibanding banyak pendekatan historis sosiologis lainnya yang dikenal dalam dunia HI[22] adalah bahwa transformasi itu terdefinisikan sebagai transformasi manusia sebagai aktor penggerak Hubungan Internasional dalam interaksinya dengan perkembangan struktur baik di dalam suatu negara maupun antar negara.[23] Melalui proses didesaknya individu sampai pada ambang batas rasa malu dan antipati (threshold of shame and repugnance) yang dimilikinya dalam hidupnya bermasyarakat, Elias memiliki kelebihan mengedepankan faktor aktor dan struktur secara seimbang dan saling mempengaruhi. Hal ini berbeda dengan para ahli historis sosiologis lainnya yang menurut Linklater lebih menjelaskan perkembangan sejarah HI dari segi struktur.

Dengan membandingkan masyarakat dua negara

utama di daratan Eropa Barat, yaitu Jerman, Perancis, Elias menilai bahwa jantung proses pemberadaban di Eropa terjadi di Perancis. Elias melihat bahwa batas yang tipis antara kelas menengah atas di Perancis dengan kelas di bawahnya memungkinkan transformasi perilaku yang terjadi pada masyarakat kelas menengah atas (court society) di Perancis dapat dengan mudah menyebar ke kelas-kelas masyarakat lainnya.[24] Melalui proses didesaknya individu ke ambang batas rasa malu masyarakat Perancis secara keseluruhan akhirnya mengalami transformasi perilaku bersama-sama dan transformasi itu juga mempengaruhi perilaku mereka ketika berinteraksi dengan masyarakat lainnya di Eropa maupun dalam hubungannya dengan masyarakat di luar Eropa, baik melalui perdagangan, hubungan diplomatik,[25] maupun kolonialisasi. Pemberadaban yang bermula di masyarakat kelas menengah ke atas itu kemudian menyebar dan menjadi transformasi sosial budaya masyarakat Eropa menjadi lebih manusia karena semakin besarnya peran pengendalian diri (self restraint) hidup sehari-hari, baik ketika berinteraksi dengan orang lain maupun ketika sendiri. Pengendalian diri menjadi sebuah nilai yang terinternalisasi dalam masyarakat dan menjadi habitus dengan dukungan adanya mekanisme monopoli kekuasaaan.

Menurut Linklater

selain upayanya untuk mengangkat aktor dan struktur secara seimbang, Elias juga menekankan bahwa proses itu tidak hanya terjadi di Eropa. Dalam The Civilizing Process, proses pemberadaban ini juga terjadi di tempat lain seperti di Tiongkok, bahkan terjadi lebih awal daripada di Eropa.[26] Dengan membandingkan beberapa proses pemberadaban di berbagai kawasan di dunia ini sebenarnya Elias menyampaikan bahwa Eropa bukanlah akar dari proses pemberadaban, melainkan proses pemberadaban itu sendiri berlangsung hampir di setiap masyarakat.

Adanya fakta yang memperlihatkan berlangsungnya proses

pemberadaban di berbagai kawasan dengan sendirinya menunjukkan adanya shared values yang dimiliki manusia secara umum walaupun berasal dari budaya yang berbeda. Nilai yang dimiliki bersama ini adalah pentingnya pengendalian diri sehingga dapat berperilaku lebih beradab. Linklater menyatakan bahwa Elias berhasil menunjukkan bahwa transformasi perilaku dan emosi yang bersifat gradual dan penyebaran adanya ambang batas dari antipati terhadap perilaku yang tidak beradab itu sebenarnya terjadi di hampir setiap masyarakat dan setiap budaya di dunia. Sejarah memang menunjukkan bahwa “apa yang dulunya diijinkan sekarang sudah dilarang” (things that were once permitted are now forbidden).[27] Nilai yang dimiliki bersama ini menunjukkan bahwa masing-masing individu menghargai dirinya dan sesamanya manusia sama sehingga individu itu meninggalkan perilaku yang dianggap dapat menjadi ancaman bagi sesamanya. Hal ini sebenarnya sangat bersesuaian dengan apa yang dimaksud sebagai kosmopolitanisme

Baca Juga :