Respon terhadap Pandangan Bourdieu

Respon terhadap Pandangan Bourdieu

Respon terhadap Pandangan Bourdieu

Respon terhadap Pandangan Bourdieu
Respon terhadap Pandangan Bourdieu

Medan

Modal budaya tidak bekerja di ruang hampa, tetapi tenaga yang bermain dalam struktur sosial yang lebih luas. Konsep medan menjadi sentral dalam model masyarakat ala Bourdieu. Menurut Bourdieu, medan ini merupakan domain kehidupan sosial, seperti seni, industry, hukum, politik, pengobatan, dan selanjutnya. Di dalam medan tersebut, aktor berjuang memperoleh kuasa dan status. Untuk memuluskan perjuangan itu akan sangat terbantu oleh habitus dalam memperoleh bentuk-bentuk khusus modal budaya supaya berhasil dalam tiap area. Melalui medan tersebut aktor dapat mengubah prestise dan modal budaya menjadi upaya yang baru. Perjuangan terus berlanjut antara medan, sub medan, dan aktor di dalam medan.

Dalam bukunya Field of Cultural Production, Bourdieu mencatat bahwa terjadi kontes yang panjang antara budaya ‘tinggi’ dan budaya ‘rendah’ di antara berbagai genre(misal seni vs fotografi) serta antara individual artis bagi legitimasi dan dominasi. Perdebatan antara nilai produk budaya. Bourdieu menggaris-bawahi berbagai perjuangan yang terjadi dalam konteks medan ini:

  1. Perjuangan di antara individu untuk mengendalikan suatu medan (misal, perjuangan seorang profesor agar lembaganya diakui, dst);
  2. Perjuangan antara gaya bekerja atau pendekatan-pendekatan intelektual (misal, debat antara Roland Barthes dengan Raymond Picard pertengahan tahun 1960-an);
  3. Perjuangan antara disiplin dan fakultas (misal, ilmu sosial yang dimonopoli disiplin legal ‘pemikiran dan wacana dunia sosial’).

Evaluasi atas Bourdieu

Para pendukung Bourdieu menyarankan agar model budaya yang dia kembangkan menjadi model terbaik yang bisa diperoleh dalam riset sosial. Terdapat sejumlah tema kontemporer debat teoritikal terkait dengan riset tersebut:

  1. Gagasan mengenai modal budaya dan habitus menyediakan pemahaman yang baik mengenai bentuk dan struktur budaya;
  2. Peran otonomi budaya dan perjuangan budaya dalam menentukan baik individual maupun hasil kelembagaan;
  3. Teori Bourdieu memiliki kekuatan meneorikan hubungan antara budaya dan agensi.

Respon terhadap Pandangan Bourdieu

Selain adanya dukungan bagi Bourdieu terhadap pandangannya, maka ada pula yang mengeritik pandangannya. Mereka menyatakan bahwa Bourdieu gagal menjembatani masalah budaya dan agensi, antara individu dengan kelembagaan. Menurut mereka, Bourdieu terlalu banyak menekankan struktur dan reproduksi sistem, namun kurang penekanannya pada agensi dan kemungkinan perubahan. William Sewell misalnya, berkomentar bahwa teori Bourdieu menekankan pada kemampuan mengetahui si aktor; teorinya tidak mampu menjelaskan bagaimana perubahan dapat dihasilkan di dalam suatu sistem. Habitus bersifat homologis, demikian pula antara habitus dan struktur sosial, tidak memungkinkan kreativitas, kontradiksi, dan diskontinuitas. Oleh karena budaya dan tindakan menghasilkan reproduksi dan mencerminkan  struktur dan ketidakadilan sosial pula. Philip Smith menyatakan bahwa konsep habitus Bourdieu memerlukan analisis fenomenologis Husserl dan Ponty, untuk dapat menjelaskan secara kreatif potensi inovatif si pelaku/ agen.

Tony Bennet, Michael Emmision, dan John Frow mencoba mereplikasi riset empiris Bourdieu di Prancis di Australia dan menemukan variabel yang berbeda. Mereka memperoleh temuan riset bahwa citarasa lebih menentukan daripada kelas sosial dalam kaitan status budaya ‘tinggi’ dan budaya ‘rendah’. Masyarakat dengan status sosial yang tinggi citarasanya bersifat serba-rasa. Misalnya mereka menikmati musik klasik dan musik pop, yang menunjukkan perubahan etos masyarakat di Australia. Michele Lamont malah memperingatkan kita agar berhati-hati mengeneralisir temuan Bourdieu tahun 1960-an di Prancis, karena kriteria moral dan perbedaan bangsa mempengaruhi modal budaya dan modal sosial yang ada. Di Prancis, pengetahuan budaya bernilai tinggi, sedangkan di Amerika Serikat kesejahteraan ekonomis jauh lebih berharga. Bagaimanapun generalisasi studi empiris tidak bisa digeneralisir begitu saja, tanpa sikap kritis.

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/jam-tangan-pengukur-tensi