Proses Pemberadaban dalam Konteks Global

Proses Pemberadaban dalam Konteks Global

Proses Pemberadaban dalam Konteks Global

Proses Pemberadaban dalam Konteks Global
Proses Pemberadaban dalam Konteks Global

 

Salah satu teoritisi ilmu Hubungan Internasional (HI)

yang melihat adanya relevansi yang besar dari teori proses pemberadaban Elias di dalam ilmu HI adalah Andrew Linklater.[20] Menurut Linklater, relevansi teori proses pemberadaban Elias terhadap munculnya kosmopolitanisme di tingkat global didasarkan pada klaim yang menyatakan bahwa terbentuknya masyarakat internasional harus dilihat sebagai bagian transformasi kehidupan sosial dan politik yang terjadi di Eropa dan menyebar luas ke seluruh dunia melalui berbagai peristiwa sejalan dengan babakan sejarah seperti kolonialisasi, perdagangan dan di era dewasa ini melalui globalisasi.[21] Bagi Linklater, kelebihan Elias dibanding banyak pendekatan historis sosiologis lainnya yang dikenal dalam dunia HI[22] adalah bahwa transformasi itu terdefinisikan sebagai transformasi manusia sebagai aktor penggerak Hubungan Internasional dalam interaksinya dengan perkembangan struktur baik di dalam suatu negara maupun antar negara.[23] Melalui proses didesaknya individu sampai pada ambang batas rasa malu dan antipati (threshold of shame and repugnance) yang dimilikinya dalam hidupnya bermasyarakat, Elias memiliki kelebihan mengedepankan faktor aktor dan struktur secara seimbang dan saling mempengaruhi. Hal ini berbeda dengan para ahli historis sosiologis lainnya yang menurut Linklater lebih menjelaskan perkembangan sejarah HI dari segi struktur.

Dengan membandingkan masyarakat dua negara

utama di daratan Eropa Barat, yaitu Jerman, Perancis, Elias menilai bahwa jantung proses pemberadaban di Eropa terjadi di Perancis. Elias melihat bahwa batas yang tipis antara kelas menengah atas di Perancis dengan kelas di bawahnya memungkinkan transformasi perilaku yang terjadi pada masyarakat kelas menengah atas (court society) di Perancis dapat dengan mudah menyebar ke kelas-kelas masyarakat lainnya.[24] Melalui proses didesaknya individu ke ambang batas rasa malu masyarakat Perancis secara keseluruhan akhirnya mengalami transformasi perilaku bersama-sama dan transformasi itu juga mempengaruhi perilaku mereka ketika berinteraksi dengan masyarakat lainnya di Eropa maupun dalam hubungannya dengan masyarakat di luar Eropa, baik melalui perdagangan, hubungan diplomatik,[25] maupun kolonialisasi. Pemberadaban yang bermula di masyarakat kelas menengah ke atas itu kemudian menyebar dan menjadi transformasi sosial budaya masyarakat Eropa menjadi lebih manusia karena semakin besarnya peran pengendalian diri (self restraint) hidup sehari-hari, baik ketika berinteraksi dengan orang lain maupun ketika sendiri. Pengendalian diri menjadi sebuah nilai yang terinternalisasi dalam masyarakat dan menjadi habitus dengan dukungan adanya mekanisme monopoli kekuasaaan.

Menurut Linklater

selain upayanya untuk mengangkat aktor dan struktur secara seimbang, Elias juga menekankan bahwa proses itu tidak hanya terjadi di Eropa. Dalam The Civilizing Process, proses pemberadaban ini juga terjadi di tempat lain seperti di Tiongkok, bahkan terjadi lebih awal daripada di Eropa.[26] Dengan membandingkan beberapa proses pemberadaban di berbagai kawasan di dunia ini sebenarnya Elias menyampaikan bahwa Eropa bukanlah akar dari proses pemberadaban, melainkan proses pemberadaban itu sendiri berlangsung hampir di setiap masyarakat.

Adanya fakta yang memperlihatkan berlangsungnya proses

pemberadaban di berbagai kawasan dengan sendirinya menunjukkan adanya shared values yang dimiliki manusia secara umum walaupun berasal dari budaya yang berbeda. Nilai yang dimiliki bersama ini adalah pentingnya pengendalian diri sehingga dapat berperilaku lebih beradab. Linklater menyatakan bahwa Elias berhasil menunjukkan bahwa transformasi perilaku dan emosi yang bersifat gradual dan penyebaran adanya ambang batas dari antipati terhadap perilaku yang tidak beradab itu sebenarnya terjadi di hampir setiap masyarakat dan setiap budaya di dunia. Sejarah memang menunjukkan bahwa “apa yang dulunya diijinkan sekarang sudah dilarang” (things that were once permitted are now forbidden).[27] Nilai yang dimiliki bersama ini menunjukkan bahwa masing-masing individu menghargai dirinya dan sesamanya manusia sama sehingga individu itu meninggalkan perilaku yang dianggap dapat menjadi ancaman bagi sesamanya. Hal ini sebenarnya sangat bersesuaian dengan apa yang dimaksud sebagai kosmopolitanisme

Baca Juga :