Cara Pelajar Indonesia di Yaman Bela Palestina

Cara Pelajar Indonesia di Yaman Bela Palestina

Cara Pelajar Indonesia di Yaman Bela Palestina

Cara Pelajar Indonesia di Yaman Bela Palestina
Cara Pelajar Indonesia di Yaman Bela Palestina

Seiring ramainya berita tentang pengakuan Presiden Amerika Donald Trump tentang Yerusalem sebagai ibu kota Israel, umat Islam di seluruh dunia melakukan berbagai macam bentuk protes atas ketidaksetujuan terhadap hal tersebut.

Merespon hal itu, PPI Hadhramaut, Yaman, pada Sabtu (16/12) bekerja sama dengan PPI Yaman, PCI NU Yaman, FMI Yaman dan AMI Al-Ahgaff menggelar seminar ilmiah bertajuk Madza Na’Mal Lil Aqsha (Apa yang Harus Kita Perbuat untuk Al-Aqsha).

Acara yang diselenggarakan di ruang auditorium Universitas Al Ahgaff Tarim ini sukses menghadirkan dua narasumber yang mumpuni, yakni Dr Mohammad Abdul Qadir Alaydrus, direktur Institut Hadits Darul Ghuraba dan Dr Ahmad Sholeh Bafadhol, salah seorang dosen senior Universitas Al-Ahgaff Tarim.

Sebagai narasumber pertama, Dr. Mohammad Abdul Qadir Alaydrus menyampaikan pemaparan materi yang luar biasa hingga hampir satu jam penuh.

Dalam ulasannya itu, Dr Mohammad menekankan bahwa musuh sebenarnya

umat Islam bukanlah dari kalangan saudara mereka sendiri, bukan dari kelompok Wahabi, Syiah ataupun kaum Sufi.

Tapi kelompok yang paling bengis dan keras permusuhannya terhadap umat Islam adalah kaum Yahudi seperti yang dinyatakan langsung dalam Alquran surah Almaedah ayat 82.

Usai paparan materi Dr. Mohammad, lalu dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber kedua, yakni Dr. Ahmad Sholeh Bafadhol. Meski dengan gaya bicara yang lebih santai dan kalem, penyampaian pemikiran beliau tak kalah dengan pemaparan narasumber pertama.

’’Bela Palestina wajib bagi semua orang Arab karena persaudaraan sesama Arab,

wajib bagi umat Islam karena persaudaraan Islam, dan wajib juga bagi semua umat manusia atas dasar kemanusiaan”, ujar Dr. Ahmad, seorang doktor yang beberapa tahun lalu sukses menerima penghargaan karya ilmiah terbaik se-Timur Tengah itu.

Sikap seorang muslim terhadap tragedi Al Aqsa ini, lanjut beliau, bersifat relatif

dan sesuai dengan situasi, kondisi dan posisi orang tersebut. Dia harus berbuat realistis apapun yang bisa ia perbuat dengan posisi, kedudukan dan jabatan yang ia miliki. Jika dia pejabat negara misalnya, maka dia harus bersikap tegas dengan cara apapun yang dia mampu dengan memanfaatkan jabatannya itu. (*)

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/penggunaan-huruf-kapital/