Sang Naga Dan Saudaranya

Sang Naga Dan Saudaranya

Table of Contents

Sang Naga Dan Saudaranya

Sang Naga Dan Saudaranya
Sang Naga Dan Saudaranya

Wah tidak terasa sudah tiga minggu berlalu sejak postinganku yang pertama di blog ini. Mudah-mudahan sih belum bosan membaca tulisanku. Nah . . kalau yang lalu aku sudah ceritakan sebuah legenda yang berhubungan dengan Pantai Nepa di Madura, kali ini aku akan menceritakan sebuah legenda lain yang berhubungan dengan sebuah pulau yang namanya mirip, yaitu Pulau Nipa atau Nusa Nipa.

“Perasaan baru dengar ada nama Pulau Nipa :roll:. Apakah di pulau itu juga banyak tanaman nipah seperti di Pantai Nepa?”

Tidak heran sih kalau dikatakan nama ini agak asing karena nama Nusa Nipa tidak dipergunakan lagi untuk menyebut pulau yang aku maksud itu. Orang-orang Portugis yang tiba di ujung timur pulau ini pada abad ke XVI dan melihat banyaknya bunga-bunga indah di sana menyebut tempat mereka mendarat itu sebagai Tanjung Bunga atau Cabo de Flores; dan pada tahun 1636 Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menetapkan nama Flores untuk menyebut pulau tersebut. Nama itu bertahan sampai sekarang, sehingga perlahan-lahan nama Nusa Nipa dilupakan.

Mengenai arti ‘nipa‘ itu sendiri, ternyata bukan berarti tanaman nipah, melainkan berarti ular. Ya ‘nipa‘ dalam bahasa setempat artinya ular. Pulau Flores dahulu di sebut Nusa Nipa karena di pulau tersebut didapati banyak sekali ular.

“Ok, terus legenda apa yang berhubungan dengan Pulau Flores ini? Apakah mengenai asal usul ular-ular yang hidup di sana?”

Hmm . . . sebetulnya tidak berhubungan langsung dengan Pulau Flores-nya sih, tetapi berkaitan dengan binatang endemik yang menjadi maskot pulau tersebut, yaitu kadal raksasa atau ada juga yang menyebutnya naga yang disebut komodo (varanus komodoensis). Ya mengenai binatang purba yang masih hidup di jaman modern ini. Masyarakat setempat mempercayai kalau komodo-komodo yang hidup di Pulau-Pulau Rinca, Komodo, Padar dan juga pulau-pulau kecil di sekitarnya itu adalah saudara mereka sehingga masyarakat tidak akan melukai atau bahkan membunuh komodo, demikian pula sebaliknya. Bahkan sering kali dijumpai komodo-komodo tua yang sudah tidak mampu berburu lagi diberi makan oleh penduduk setempat.

“Wah . . . koq bisa begitu ya?” 😯

IMG_NAGA1

Baiklah, supaya gak penasaran, aku ceritakan saja legendanya sebagai berikut :

Pada jaman dahulu, dimasa dimana batas antara dunia manusia dengan dunia lain masih sangat tipis sehingga penghuni kedua dunia tersebut bisa saling berkunjung dan berinteraksi bahkan beberapa diantaranya menikah, tersebutlah kisah seorang puteri cantik di dunia kaum naga yang dikenal dengan nama Puteri Naga. Puteri Naga hidup berbahagia bersama kedua orang tuanya.

Pada suatu hari, Puteri Naga bermain-main bersama dengan kawan-kawannya sampai ke suatu tempat yang memungkinkannya untuk melihat keadaan alam manusia. Kebetulan pada waktu itu yang tampak adalah pemandangan di Nusa Nipa. Puteri Naga sangat terpesona melihat keindahan alam Nusa Nipa, sehingga timbullah keinginan untuk berkunjung dan melihatnya dari dekat. Tetapi karena takut kepada ayahnya, Puteri Naga berusaha memendam keinginannya tersebut.

Apa hendak dikata, semakin dipendam, ternyata keinginan Puteri Naga untuk berkunjung ke dunia manusia yang telah dilihatnya itu semakin kuat, sehingga akhirnya Puteri Naga pun memberanikan diri menemui ayahnya dan mengutarakan keinginannya itu.

Ketika mendengar keinginan puterinya, ayah Puteri Naga menjadi sangat sedih, selain karena berarti harus berpisah dengan puteri yang sangat disayanginya itu, ayah Puteri Naga juga khawatir kalau puterinya itu akan menderita di alam manusia. Maklum saja, tidak setiap makhluk bisa seenaknya berpindah-pindah dunia dari alam manusia ke alam yang lain dan sebaliknya. Bagi kebanyakan makhluk penghuni dunia lain, termasuk juga penghuni dunia kaum naga, berpindah ke alam manusia berarti harus merasakan semua penderitaan yang ada di alam fana, termasuk kematian. Barulah dengan kematian itu, makhluk yang bersangkutan bisa kembali lagi ke alamnya.

Tetapi rupanya keinginan Puteri Naga sudah sedemikian kuatnya sehingga semua jenis penderitaan, termasuk kematian, yang akan dideritanya di dunia manusia tidaklah menggoyahkan hatinya, sehingga akhirnya ayahnya meluluskan keinginan puterinya itu dengan berat hati; pesannya hanya satu, yaitu jika sudah sampai saatnya, Puteri Naga harus segera kembali lagi ke dunia kaum naga. Pesan ayahnya itupun disanggupi oleh Puteri Naga.

Pada waktu yang tepat, turunlah Puteri Naga ke dunia manusia dan menitis pada seorang gadis anak kepala adat bernama Umpu Najo yang tinggal di Kampung Marawangkan yang terletak di pantai barat Nusa Nipa.

Baca Juga :