Potong Tunjangan Guru yang Tak Mengajar 40 Jam Seminggu

Potong Tunjangan Guru yang Tak Mengajar 40 Jam Seminggu

Potong Tunjangan Guru yang Tak Mengajar 40 Jam Seminggu

Potong Tunjangan Guru yang Tak Mengajar 40 Jam Seminggu
Potong Tunjangan Guru yang Tak Mengajar 40 Jam Seminggu

Pemerintah mengingatkan guru yang tidak memenuhi jam bekerja 8 jam sehari atau 40 jam seminggu bisa terkena pemotongan tunjangan profesi guru (TPG). Ketentuan tersebut sudah diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) beserta peraturan turunannya.

“Dalam aturannya, ASN harus bekerja minimal 8 jam. Sama seperti saya. Jadi, jam kerjanya kira-kira (mulai pukul) setengah 8 hingga setengah 5 (setiap hari),” kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud Ari Santoso kemarin (26/11).

Menurut dia, kewajiban mengajar selama 24 jam tatap muka telah digantikan dengan kewajiban bekerja selama 40 jam dalam sepekan. Perubahan itu diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan atas PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Kewajiban bekerja 40 jam dalam sepekan tersebut harus dilaksanakan agar guru bisa mendapatkan TPG setiap bulan.
Potong Tunjangan Guru yang Tak Mengajar 40 Jam Seminggu
Ilustrasi: Kini guru wajib mengajar 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Jika tidak, tunjangannya dipotong. (Zaki Jazai/Radar Tulungagung/Jawa Pos Group)

Ari memaparkan, pergantian kewajiban mengajar selama 24 jam tatap muka itu dilakukan karena hasil evaluasi menyebutkan bahwa banyak guru menyiasati ketentuan tersebut. Banyak guru “kejar tayang” untuk sekadar menggugurkan kewajibannya mengajar.

Beberapa guru bahkan mengambil kelas di sekolah lain hanya untuk cepat-cepat memenuhi kebutuhan 24 jam. “Karena 24 jam tatap muka, akibatnya guru orientasinya cuma ngajar. Tidak ada fungsi pendidikan. Setelah 24 jam selesai, gugur kewajiban,” kata Ari.

Menurut dia, dengan pemberlakuan 40 jam sepekan atau 8 jam sehari, guru bisa melakukan fungsi-fungsi pendidikan lainnya. Misalnya, merencanakan pembelajaran, lebih dekat berinteraksi dengan peserta didik, memotivasi, sampai mengetahui dan mempelajari karakter mereka.

“Bahkan, mengoreksi soal itu juga termasuk dalam bekerja yang diwajibkan ini. Jadi, tidak harus tatap muka. Mau berapa jam tatap muka silakan menyesuaikan dengan sekolah masing-masing,” jelas Ari.

Untuk sosialisasi dan penegakan aturan itu, lanjut dia, Kemendikbud bekerja

sama dengan pemerintah daerah (pemda). Ari menuturkan, secara struktural, yang berwenang terhadap guru sebagai ASN adalah pemda. Yakni, pemerintah kota/kabupaten untuk SD dan SMP. Serta, pemerintah provinsi untuk SMA/SMK.

Namun, tidak berarti Kemendikbud tak punya instrumen penegakan aturan. Ari mengingatkan, kewenangan pemberian TPG berada di Kemendikbud. Dengan demikian, jika mendapati laporan adanya guru yang tidak memenuhi kewajiban 40 jam bekerja dalam sepekan, TPG pasti akan dipotong. “Sesuai prinsip ASN saja. Kalau Anda tidak bekerja sesuai target, ya tunjangan pasti akan dipotong. Sama seperti saya juga,” jelasnya.

Ari menambahkan, Kemendikbud akan menjalin kerja sama dengan

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menegakkan aturan tersebut. Dalam beberapa pertemuan sebelumnya, Ari menyebut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani sudah berkomitmen untuk mengawasi dengan ketat penggunaan tunjangan-tunjangan yang diberikan pemerintah.

Terkait rencana penggunaan sistem fingerprint untuk presensi guru, Ari

mengatakan tidak akan diberlakukan secara merata. Sebab, tidak semua sekolah mampu membeli alat tersebut. “Dilihat kemampuan per sekolah,” katanya.

Meski demikian, Kepala Pusat Teknologi dan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom Kemendikbud) Gogot Suharwoto mengungkapkan, hingga sejauh ini belum ada program untuk pengadaan fingerprint untuk sekolah-sekolah.

 

Baca Juga :