Matematika Itu Bukan Berhitung

Matematika Itu Bukan Berhitung

Pernahkah menjumpai anak dengan kekuatan hebat didalam perkalian dan pembagian, namun kelimpungan sementara menghadapi soal matematika didalam wujud cerita? Mari kami ulik “tipis-tipis” fakta tersebut!

Sebagian besar dari kita, tumbuh dengan perasaan benci pada matematika. Bagi anda yang menyukai matematika, pasti dapat menolak asumsi tersebut. Tapi ingat, mampu jadi anda adalah minoritas dari jutaan murid yang lain. Kalaupun kata “benci” tidak memadai mewakili, kemungkinan kata “takut” mampu mewakili. Dan, saking meluasnya rasa kuatir ini, generasi kami mengenal arti “matematika sebagai momok”.

Dalam kurikulum sekolah, matematika seolah-olah sudah jadi induk atau ibunya kurikulum. Logika berpikirnya yang rumit dan bertingkat-tingkat, kemudian simbol-simbol yang abstrak, seolah-olah menuntut bakat besar untuk menguasainya. Sayangnya, matematika kemudian jadi “ibu tiri yang jahat dan dibenci”.

Inilah alasannya. Jika anda tidak menguasainya dan tidak mampu memahami dengan baik, anda dapat dianggap kurang pintar. Anak pandai dan cerdas hampir tetap disematkan bagi anak yang jago matematika.

Penelitian terakhir dari Research on Improvement of System Education (RISE) tahun 2018 kemudian mengukuhkan fakta ini. Penelitian selanjutnya mengungkap bahwa kekuatan matematika siswa kami tetap rendah, mulai dari tingkat SD sampai SMA.

Faktor terbesar adalah cara mengajar. Ada di antara kami yang tumbuh naik turun pada matematika. Pada kelas tertentu, misalnya, pernah menyukai matematika sebab guru matematikanya mengasyikkan dan menempelkan kesan mudah pada matematika. Di kelas atau level yang lain, matematika jadi sangat misterius, rumit, dan sulit. Faktor seterusnya adalah otak, bakat, dan kecenderungan didalam belajar.

Dalam kajian yang lebih luas, Barbara Oakley, Ph.D. didalam bukunya yang berjudul a Mind for Numbers; How to Excel at math and Science mengungkap bahwa salah satu kesalahan terbesar sementara murid belajar matematika dan sains adalah menghendaki murid melompat ke air sebelum akan mengajarkan cara berenang kepada mereka.

Penulis buku selanjutnya termasuk tumbuh dengan membenci matematika lebih-lebih sampai tingkat perguruan tinggi. Persepsinya berubah sementara dia mempelajari ‘learn how to learn’. Dia menyimpulkan, matematika mampu jadi mudah dan mengasyikkan kecuali kami mengajarkannya dengan cara yang tepat.

Di kelas, matematika berubah jadi berhitung. Ya, berhitung penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Matematika lebih luas dari sekadar berhitung. Matematika itu, memperkirakan, melacak struktur, meneliti jumlah, menganalisis, membaca kemungkinan, menciptakan peluang, menyelesaikan masalah, dan lain sebagainya. Berhitung merupakan baut kecil di antara puluhan baut yang lain.

Galileo Galilei, didalam The Assayer menulsikan, Mathematics is the language in which God has written the universe. Matematika adalah bahasa. Memahami bahasa matematika adalah pintu masuk.

Akibat dari reduksi tersebut, maka matematika hanya berkutat pada kecepatan berhitung. Inilah salah satu alasan kenapa kala soal UN dengan model Higher Order Thinking Skills (HOTS) dimunculkan memicu geger dunia persekolahan kita.

Mari kami ubah. Jangan lagi mengajarkan 2+2=4 sebelum akan anak memahami benda konkrit yang berjumlah dua, kemudian sistem konkrit menambahkan, sampai mengkalkulasi kuantitas akhir. Praktikkan terutama dahulu kemudian kenalkan lambang atau bahasa matematikanya.

Kita mudah sekali terpengaruh untuk tiba-tiba menghendaki anak menghafalkan perkalian dan bagian sehingga punyai kecepatan. Tunjukkan dahulu sistem bahasa perkalian dan bagian didalam kehidupan sehari-hari, kemudian kenalkan lambang atau bahasa matematikanya. Setelah itu terlewati, barulah berlatih kecepatan. Toh, perkalian cepat mampu ditunaikan oleh kalkulator.

Please, matematika bukan itu.

Pembahasan ini hanya memandang salah satu sudut saja. Masih banyak yang lain. Seperti memahami dua mode berpikir, yakni focused mode dan diffuse mode seperti didalam buku Barbara Oakley. Juga, tersedia pembelajaran yang menantang dan menyenangkan, serta aspek-aspek yang lain.

Terakhir. Jika anda tidak mampu menjawab hasil dari 3765 x 234 kurang dari tiga detik, maka bermakna matematika bukan berhitung saja. Mengetahui cara menyelesaikan soal selanjutnya jadi perihal yang jauh lebih penting.

Sumber : https://www.ruangguru.co.id/download-contoh-surat-penawaran-harga-yang-benar/