SUMEDANG-Pemerintah melalui Kementerian Sosial RI (Kemensos) telah menetapkan Desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Kabupaten Sumedang sebagai Kampung Siaga Bencana (KSB) ke 628. Tujuannya agar dusun tersebut terhindar dari jatuhnya korban di kemudian hari. Tujuan KSB adalah untuk memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan risiko bencana, membentuk jejaring siaga bencana berbasis masyarakat dan memperkuat interaksi sosial anggota masyarakat, mengorganisasikan masyarakat terlatih untuk siaga bencana, serta mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang ada untuk penanggulangan bencana. "Kesiagaan warga Dusun Cimanintin sangat dibutuhkan untuk meminimalisir korban. Dusun ini sangat rawan bencana. Dusun ini merupakan KSB ke-5 di Kabupaten Sumedang," kata Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat kepada wartawan di Desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Kabupaten Sumedang, Minggu (4/11/2018). Harry menyebutkan Kemensos menargetkan berdirinya 100 KSB di sejumlah kabupaten dan kota pada tahun ini. Ia juga berharap KSB di Kabupaten Sumedang terus bertambah keberadaannya. Hal ini sebagai bagian dari upaya pemerintah mendorong kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Harry menegaskan tinggal di lokasi rawan bencana bukan berarti hidup dalam kekhawatiran. Bukan pula menunggu bencana datang lalu baru menggerakkan dan melatih warga kesiapsiagaan menghadapi bencana. "Tapi kita harus menyadari betul bahwa Indonesia adalah daerah dengan risiko rawan bencana sehingga harus selalu siaga. Dalam hal kewaspadaan ini, tentunya masyarakat yang lebih mengetahui kondisi wilayahnya masih-masing karena merupakan tempat tinggal mereka," tegasnya Harry berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang lebih memerhatikan lingkungan di wilayah mereka karena saat ini banyak fenomena bencana. Apalagi dalam sidang kabinet beberapa waktu lalu Presiden RI, Joko Widodo telah mengamanatkan agar seluruh elemen masyarakat lebih memperhatikan lingkungannya. "Dalam sidang kabinet pak Presiden berpesan agar seluruh elemen untuk mewaspadai potensi bencana di daerah masing-masing,"ujarnya KSB merupakan wadah penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang dijadikan kawasan atau tempat untuk program penanggulangan bencana. Untuk wilayah Sumedang keberadaan KSB berbasis Desa ditingkatkan menjadi berbasis kecamatan. Di kabupaten ini ada 26 kecamatan. Diharapan semua kecamatan bisa menjadi KSB. "Jika sudah terbentuk semua maka bisa ditingkatkan menjadi Kabupaten Siaga Bencana,"terangnya. Dirjen menjelaskan ada lima hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan KSB. Pertama, warga Kampung Siaga Bencana, harus memiliki mental yang tangguh. Kedua, solidaritas. Kekompakan harus menjadi ciri karakter warga Kampung Siaga Bencana sebab bencana tidak akan pernah bisa dihadapi secara perorangan. "Di sini kekompakan menjadi hal yang penting, semua komponen masyarakat mulai dari remaja, sampai manula harus siaga bahu membahu," ujarnya. Adapun hal ketiga, kepekaan. Warga Kampung Siaga Bencana harus punya kepekaan terutama dalam kemampuan mendeteksi awal dalam membaca gejala gejala alam sehingga lebih bisa mengantisipasi. Pengetahuan dan keterampilan menjadi hal keempat yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan KSB. "Warga juga harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang bisa meminimalisir dampak bencana," tambahnya. Sedangkan hal kelima, lanjut Harry, warga kampung siaga bencana harus rajin melakukan latihan kesiagaannya. Kemauan dan kesungguhan dalam memogram latihan penting menjadi agenda warga. “Selain kesiapan warga, peran aktif pemda sangat penting," pungkasnya. (Pun)

Pemerintah Jadikan Cimanintin Kampung Siaga Bencana ke 628

Pemerintah Jadikan Cimanintin Kampung Siaga Bencana ke 628

Pemerintah Jadikan Cimanintin Kampung Siaga Bencana ke 628
Pemerintah Jadikan Cimanintin Kampung Siaga Bencana ke 628

SUMEDANG-Pemerintah melalui Kementerian Sosial RI (Kemensos) telah menetapkan Desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Kabupaten Sumedang sebagai Kampung Siaga Bencana (KSB) ke 628. Tujuannya agar dusun tersebut terhindar dari jatuhnya korban di kemudian hari.

Tujuan KSB adalah untuk memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan risiko bencana, membentuk jejaring siaga bencana berbasis masyarakat dan memperkuat interaksi sosial anggota masyarakat, mengorganisasikan masyarakat terlatih untuk siaga bencana, serta mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang ada untuk penanggulangan bencana.

“Kesiagaan warga Dusun Cimanintin sangat dibutuhkan untuk meminimalisir korban. Dusun ini sangat rawan bencana. Dusun ini merupakan KSB ke-5 di Kabupaten Sumedang,” kata Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat kepada wartawan di Desa Cimanintin, Kecamatan Jati Nunggal, Kabupaten Sumedang, Minggu (4/11/2018).

Harry menyebutkan Kemensos menargetkan berdirinya 100 KSB di sejumlah kabupaten dan kota pada tahun ini. Ia juga berharap KSB di Kabupaten Sumedang terus bertambah keberadaannya. Hal ini sebagai bagian dari upaya pemerintah mendorong kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Harry menegaskan tinggal di lokasi rawan bencana bukan berarti hidup dalam kekhawatiran. Bukan pula menunggu bencana datang lalu baru menggerakkan dan melatih warga kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Tapi kita harus menyadari betul bahwa Indonesia adalah daerah dengan risiko rawan bencana sehingga harus selalu siaga. Dalam hal kewaspadaan ini, tentunya masyarakat yang lebih mengetahui kondisi wilayahnya masih-masing karena merupakan tempat tinggal mereka,” tegasnya

Harry berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang lebih memerhatikan lingkungan di wilayah mereka karena saat ini banyak fenomena bencana. Apalagi dalam sidang kabinet beberapa waktu lalu Presiden RI, Joko Widodo telah mengamanatkan agar seluruh elemen masyarakat lebih memperhatikan lingkungannya.

“Dalam sidang kabinet pak Presiden berpesan agar seluruh elemen untuk mewaspadai potensi bencana di daerah masing-masing,”ujarnya

KSB merupakan wadah penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang dijadikan kawasan atau tempat untuk program penanggulangan bencana. Untuk wilayah Sumedang keberadaan KSB berbasis Desa ditingkatkan menjadi berbasis kecamatan. Di kabupaten ini ada 26 kecamatan. Diharapan semua kecamatan bisa menjadi KSB.

“Jika sudah terbentuk semua maka bisa ditingkatkan menjadi Kabupaten Siaga Bencana,”terangnya.

Dirjen menjelaskan ada lima hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya

dengan KSB. Pertama, warga Kampung Siaga Bencana, harus memiliki mental yang tangguh. Kedua, solidaritas. Kekompakan harus menjadi ciri karakter warga Kampung Siaga Bencana sebab bencana tidak akan pernah bisa dihadapi secara perorangan.

“Di sini kekompakan menjadi hal yang penting, semua komponen masyarakat mulai dari remaja, sampai manula harus siaga bahu membahu,” ujarnya.

Adapun hal ketiga, kepekaan. Warga Kampung Siaga Bencana harus punya

kepekaan terutama dalam kemampuan mendeteksi awal dalam membaca gejala gejala alam sehingga lebih bisa mengantisipasi. Pengetahuan dan keterampilan menjadi hal keempat yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan KSB.

“Warga juga harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang bisa meminimalisir dampak bencana,” tambahnya.

Sedangkan hal kelima, lanjut Harry, warga kampung siaga bencana harus rajin

melakukan latihan kesiagaannya. Kemauan dan kesungguhan dalam memogram

latihan penting menjadi agenda warga.

“Selain kesiapan warga, peran aktif pemda sangat penting,” pungkasnya. (Pun)

 

Sumber :

https://blog.dcc.ac.id/nama-latin-tumbuhan-paku/