Mengenal Tentang Candi Tikus

Mengenal Tentang Candi Tikus

Mengenal Tentang Candi Tikus

Mengenal Tentang Candi Tikus
Mengenal Tentang Candi Tikus

Salah satu peninggalan purbakala di Jawa Timur dari masa pemerintahan kerajaan Majapahit adalah Candi Tikus. Meskipun tidak ada satu sumber pun yang menyebutkan, kapan bangunan candi ini didirikan, tetapi menilik batu merah dan batu andhesit yang dipergunakan untuk membuat saluran air pada candi ini, yang nampak lebih dinamis sebagaimana ada pada masa jaman keemasan kerajaan Mojopahit, maka diperkirakan bangunan ini didirikan sekitar abad ke XIV, dan merupakan peninggalan termuda yang terdapat di Trowulan.

Lokasi

Candi Tikus terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Jaraknya tiga kilometer arah tenggara dari Balai Penyelamatan (Site Museum) atau delapan kilometer arah barat daya dari pusat kota Mojokerto. Sejak ditemukan pertama kali, candi ini telah mengalami pemugaran sekitar tahun 1983 – 1989 dan dibuka kembali tanggal 21 September 1989. 

Candi ini juga dikenal sebagai candi pemandian atau petirthaan, karena adanya struktur kolam pemandian (pertirthaan) dan pancuran yang dibangun menjadi satu dengan candinya. Candi ini memiliki keistimewaan antara lain dibangun di bawah permukaan tanah, pada kedalaman kurang lebih 3,5 meter dan tidak terdapat arca dewa maupun arca perwujudan, bahkan tidak ada petunjuk atau tanda adanya arca. Bila hendak masuk atau mencapai lantai candi harus menuruni tangga terlebih dulu.

Asal Mula Nama Candi Tikus

Konon, nama Candi Tikus diberikan lantaran ketika dilakukan penggalian pada tahun 1914, oleh Bupati Mojokerto R.A.A Kromojoyo Adinegoro, lokasi disekitar candi itu pernah menjadi sarang tikus, dan hama tikus ini telah menggelisahkan masyarakat setempat karena menyerang hasil pertanian di desa sekitarnya. Ketika dilakukan upaya pengejaran dan pembasmian, kawanan tikus itu selalu masuk ke suatu gundukan tanah,. Ketika dilakukan penggalian pada gundukan tanah tersebut, ditemukanlah bagian dari suatu bangunan yang terbuat dari batu merah.

Kromojoyo Adinegoro, kemudian memerintahkan penggalian lebih lanjut dan  mendapatkan adanya miniatur candi. Penemuan ini kemudian dilaporkan pada ahli sejarah dan sejak itulah banyak ahli sejarah kuno dan arkeolog mulai mengadakan penelitian mengenai candi ini untuk menentukan makna dan fungsi bangunan ini, baik dari segi arsitektur maupun ditinjau dari segi religious. 

Penggalian selanjutnya menemukan sebuah bangunan terbuat dari bahan bata merah dan denah persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m dan tinggi keseluruhan dari lantai sampai menara candi induk adalah 5,2 meter.

Batu bata yang dipergunakan pada bangunan candi ini memiliki dua ukuran, yang besar berukuran 8 x 21 x 36 cm, dan satu lagi berukuran lebih kecil. Candi ini memiliki jaladwara (pancuran air) yang terbuat dari batu andesit. Jaladwara yang terdapat di Candi Tikus ini berjumlah 46 dengan bentuk makara dan padma, selain itu juga terdapat saluran-saluran air baik saluran air masuk maupun saluran untuk pembuangan air.

Masa Pendirian Candi Tikus

Meskipun tidak ada sumber sejarah yang memberitakan tentang kapan candi ini didirikan, tetapi menilik batu merah dan batu andhesit yang dipergunakan untuk membuat saluran air pada candi ini, yang nampak lebih dinamis sebagaimana ada pada masa jaman keemasan kerajaan Mojopahit,dibawah pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1380), maka diperkirakan bangunan ini didirikan sekitar abad ke XIV.

Dalam kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 M (yang telah diakui oleh para pakar sebagai suatu sumber sejarah yang cukup lengkap memuat tentang kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk), juga tidak disebutkan tentang eksistensi candi ini.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa serangkaian penelitian yang ditujukan guna mencari dan menentukan saat dibangunnya candi Tikus ini lantas manjadi tidak bisa dilaksanakan. Setidaknya, berdasarkan kajian arsitektur, diperoleh gambaran perbedaan dalam hal penggunaan bahan baku candi, yaitu bata merah.

Adanya perbedaan penggunaan bata merah (baik perbedaan kualitas maupun kuantitasnya), memberikan indikasi tentang tahapan pembangunan candi Tikus. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog, terbukti bahwa bata merah yang berukuran lebih besar berusia lebih tua dibandingkan dengan bata merah yang berukuran lebih kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selama masa berdiri dan berfungsinya, candi Tikus pernah mengalami dua tahap pembangunan. 

N.J. Krom dalam bukunya yang berjudul Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst II (Pengantar Kesenian Hindu Jawa), memberikan pandangan yang sama. Dengan memperhatikan bahan dan gaya seni dari saluran air yang ada, pakar sejarah kesenian Jawa kuno berkebangsaan Belanda itu berasumsi bahwa ada dua tahap pembangunan candi Tikus.

Pembangunan tahap pertama dilakukan dengan mempergunakan batu bata merah yang berukuran lebih besar sebagai bahan bakunya, sedangkan pembangunan tahap kedua dilakukan dengan menggunakan bata merah yang berukuran lebih kecil.

Tahap pertama, saluran airnya terbuat dari bata merah dan memperlihatkan bentuknya yang kaku. Sedangkan tahap kedua saluran airnya terbuat dari batu andesit dan memperlihatkan bentuknya yang lebih dinamis serta dibuat pada masa keemasan Majapahit. Atas dasar itulah, Krom sekali lagi menegaskan asumsinya bahwa candi Tikus telah berdiri, sebelum kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya, yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1380).

Ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1984/1985, sisi tenggara bangunan candi Tikus berhasil disingkap. Kaki bangunan yang terdapat di sisi tersebut, menunjukan perbedaan ukuran bata merah yang dipergunakan sebagai bahan bakunya. Hal ini semakin memperkuat dugaan mengenai dua tahap pembangunan candi tersebut. Kaki bangunan tahap pertama yang tersusun dari bata merah yang berukuran besar, tampak ditutup oleh kaki bangunan tahap kedua yang tersusun dari bata merah yang berukuran lebih kecil. Kapan secara pasti pembangunan tahap pertama dan kedua ini dilakukan, juga belum jelas benar.

Deskripsi

Dari sudut arsitektur, bangunan candi terbagi menjadi enam bagian, yaitu bangunan induk, kolam (dua buah), dinding teras (tiga tingkat), tangga utama, lantai dasar dan pagar.

Bangunan Induk

Bangunan candi dibuat dari bahan bata dengan ukuran 8 x 21 x 36 cm, sedangkan untuk jaladwara (pancuran air) dibuat dari batu andesit. Jaladwara yang terdapat di Candi Tikus ini berjumlah 46 dengan bentuk makara dan padma, selain itu juga terdapat saluran-saluran air baik saluran air masuk maupun saluran untuk pembuangan air.

Pada sisi selatan teras terbawah, terdapat sebuah bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m, dengan ketinggian 5,2 m. Bangunan ini dianggap sebagai bangunan utama dari candi Tikus. Pada dindingnya dilengkapi dengan 17 buah pancuran air yang berbentuk bunga padma dan makara. Pada bangunan induk tersebut, terdapat sebuah menara dan dikelilingi oleh 8 buah menara yang berukuran lebih kecil.

Bentuk bangunan ini makin ke atas makin kecil dan dikelilingi oleh delapan candi yang lebih kecil bagaikan puncak gunung yang dikelilingi delapan puncak yang lebih kecil.

Secara horizontal bangunan induk dibagi menjadi tiga bagian mencakup kaki, tubuh dan atap.

Kaki bangunan berbentuk segi empat, dengan profil kaki berpelipit. Pada lantai atas kaki bangunan terdapat saluran air dengan ukuran 17 cm dan tinggi 54 cm serta mengelilingi tubuh, sedangkan pada sisi luar terdapat jaladwara. Selain jaladwara terdapat pula menara-menara yang disebut menara kaki bangunan karena terdapat pada bagian kaki bangunan.

Ukuran menara 80 x 80 cm. Pada lantai atas kaki bangunan ini berdiri tubuh bangunan dengan denah segi empat, sedangkan di bawah susunan batanya terdapat pula kaki tubuh tempat berdiri menara yang disebut menara tubuh pada keempat sudut dan ukurannya sama dengan menara kaki.

Selain itu di bagian tengah setiap dinding tubuh terdapat bangunan menara yang lebih besar dan berukuran 100 x 140 cm, tinggi 2,78 meter. Salah satu dari menara itu ada yang menempel pada dinding tubuh.


Susunan menara yang demikian itu telah menarik perhatian arekeolog Belanda yang bernama A.J. Bernet Kempers yang mengaitkannya dengan konsepsi religi. Dalam bukunya yang berjudul Ancient Indonesia Art, ia yang telah banyak berjasa dalam menyingkap masa pengaruh agama Hindu – Budha di Indonesia lewat kajian candi-candi, mengatakan bahwa candi Tikus merupakan replika dari gunung Mahameru

Hal ini dikarenakan adanya empat buah minatur candi yang dianggap melambangkan gunung Mahameru, tempat para dewa bersemayam. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru juga merupakan tempat sumber air suci (Tirta Amerta) bagi segala makhluk hidup, yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran- pancuran / jaladwara, yang terdapat di sepanjang kaki candi. Air ini dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat dipergunakan untuk memberi kesejahteraan bagi umat manusia..


Gunung Mahameru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan adanya suatu keserasian antara dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). 

Menurut konsepsi Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa, dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan yang kesemuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahit, bukan sebagai tempat pemujaan seperti candi-candi pada umumnya..

Selain berfungsi sebagai pengatur debit air di kota, letaknya yang diluar kota itu memberi kesan bahwa sebelum masuk kota, air harus disucikan terlebih dahulu di candi Tikus. Dalam hal ini, jika bentuk bangunan candi Tikus dianggap sebagai manifestasi dari gunung Mahameru, maka setiap air yang keluar dari bangunan induk ini dipercaya sebagai air suci (amerta). Tak heran, bila kemudian air yang keluar dari candi Tikus juga dipercaya memiliki kekuatan magis untuk memenuhi harapan rakyat agar hasil pertanian mereka berlipat ganda dan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang merugikan.

Kolam


Di sebelah timur laut dan barat laut bangunan induk, terdapat dua buah kolam yang disebut kolam barat dan kolam timur. Kolam ini terletak di kanan dan kiri, mengapit tangga masuk. Masing-masing kolam berukuran panjang 3,50 meter, lebar 2 meter, kedalaman 1,50 meter dan tebal dinding 0,80 meter. Masing-masing kolam juga dilengkapi dengan tiga buah pancuran air yang berbentuk bunga padma (teratai) dan terbuat dari bahan batu andesit.

Pada sisi utara dinding kolam bagian dalam terdapat tiga jaladwara dengan ketinggian kurang lebih 80 cm dari lantai kolam. Bagian luar kolam sisi selatan terdapat tangga masuk ke bilik kolam, lebar 1,20 meter, sedangkan bagian dalamnya terdapat semacam pelipit setebal 3,50 cm. Di atas dan bawah tangga masuk sisi timur ada dua saluran air.

Dinding Teras

Bangunan dinding ini terdiri atas tiga teras yang mengelilingi bangunan induk dan kolam. Fungsi teras sebagai penahan desakan air dari sekitarnya karena bangunan ada di bawah permukaan tanah, juga sebagai penahan longsor.

Dinding teras pertama berukuran 13,50 x 15,50 meter, sedangkan lebar lantai teras 1,89 meter. Kaki teras ini berpelipit dan di bagian atas susunan batanya, terdapat pancuran air berbentuk padma dan makara, sedangkan di bawah lantai teras terdapat saluran air berukuran 0,20 meter dan tinggi 0,46 meter. Saluran ini berhubungan dengan saluran yang ada pada bangunan induk dan diperkirakan bahwa saluran tersebut dipergunakan untuk mengalirkan air yang berasal dari bangunan induk tersebut, keluar melalui pancuran yang terdapat di bagian dalam dinding kolam sisi utara.

Dinding teras tingkat dua berukuran 17,75 x 19,50 meter. Lebar lantai 1,50 meter dan tingginya 1,42 meter serta tebal dinding teras tersebut sebanyak 17 lapis bata.

Dinding teras tingkat tiga mempunyai ukuran 21,25 x 22,75 meter dengan lebar lantai 1,30 meter, tinggi dinding 1,24 meter, sedangkan tebal tinding 10 lapis bata.

Tangga utama

Adanya tangga yang menurun di sebelah utara, memberi kesan bahwa bangunan candi Tikus ini memang sengaja dibangun dibawah permukaan tanah. Tangga menurun disebelah utara itu, sekaligus merupakan petunjuk bahwa bangunan candi ini menghadap ke utara, dengan Tangga utama ini merupakan tangga menuju ke bangunan induk dan bilik kolam. Panjang tangga 9,50 meter, lebar 3,50 meter dan tinggi 3,50 meter.

Pada sisi timur dan barat tangga teras satu dan teras dua terdapat pipi tangga yang menutupi jalan masuk ke teras satu dan dua.

Lantai dasar

Lantai dasar terdiri dari susunan bata yang mempunyai permukaan atau bidang datar di bagian atasnya, tersusun dari dua lapis bata dengan luas kurang lebih 100 meter persegi. Lantai ini tempat berdiri bangunan induk, kolam, dinding teras dan tangga utama.

Pagar tembok luar

Tembok ini ditemukan di sisi utara dan berjarak kurang lebih 0,80 meter dari dinding teras tiga dan menjadi satu dengan pintu gerbang yang terdapat di tangga masuk.

Pelestarian

Untuk kelestarian warisan budaya bangsa yang berupa bangunan candi, perlu adanya penanganan secara berkesinambungan. Salah satu caranya ialah mengadakan pemugaran. Pemugaran ini sangat berguna selain untuk objek pariwisata juga bermanfaat bagi pengembangan kebudayaan. Selain itu Candi Tikus ini dapat berfungsi sebagai barometer air guna mengetahui debit air di saluran-saluran atau waduuk dan dipakai sebagai perbandingan besarnya air yang mengalir.

(Sumber: https://pengajar.co.id/)