Bagaimana Kita Bisa Mendengar Bunyi?

Bagaimana Kita Bisa Mendengar Bunyi?

Sebelum membaca tulisan ini, coba pejamkan mata kamu. Fokus dan dengarkan suara yang ada di kurang lebih kamu. Apa yang kamu dengarkan? Suara air yang mengucur berasal dari selang. Derap langkah kaki. Panggilan Ayahmu. Bunyi notifikasi handphone. Sirine ambulans. Bunyi kompor yang dinyalakan berasal dari dapur. Ketukan kayu tukang bakso di depan rumah.

Walaupun seutuhnya terkesan random dan terlihat berasal dari beraneka macam hal, sebenarnya, suara yang kamu dengar berasal berasal dari satu hal yang sama: getaran.

Ya, sebenarnya, bunyi yang kami dengar adalah gelombang longitudinal yang mempunyai energi yang dihasilkan oleh suatu getaran.

Tiang yang dipukul gunakan palu, misalnya. Ketika kami memukulkan palu ke sebuah besi, besi itu akan menghasilkan getaran yang terlalu cepat. Saking cepatnya, mata kami tidak dapat melihatnya. Getaran ini pada akhirnya beralih menjadi gelombang yang mengalir lewat hawa (medium) dan, pada akhirnya, hingga ke gendang telinga kita. Baru deh, berasal dari sana, otak terima rangsangan dan mengenalnya sebagai bunyi.

Sekarang kamu sudah tahu, kan, bagaimana bunyi yang ada di kurang lebih kami dapat hingga diterjemahkan oleh otak. Tetapi, tidak seluruh makhluk hidup kayak gini ya. Ada lebih dari satu hewan yang merasakan getaran itu bukan lewat daun telinga. Ular dan semut, misalnya.

Lalu bagaimana sih bunyi itu dapat muncul? Bagaimana, dalam ilmu fisika, segala sesuatu itu disebut sebagai bunyi? Untuk menjawabnya, kami mempunyai 3 syarat terjadinya bunyi:

Sumber Bunyi

Tentu, layaknya dikala kamu memejamkan mata tadi, bunyi yang kamu dengar pasti bersumber berasal dari suatu hal. Bisa berasal dari ketukan kayu, pita suara orang lain, dentingan bel, langkah kaki, dan banyak lagi. Semua benda tadi bergetar, makanya menghasilkan bunyi. Jadi, terkecuali dipikir-pikir, pepatah yang menjelaskan “Tong kosong nyaring bunyinya” itu aneh ya?

Kok aneh?

Berlandaskan syarat terjadinya bunyi ini, selayaknya tong itu nggak berbunyi dong.

Ya, dia kan hanya tong kosong aja. Dia tong. Dan dia… kosong. Salahnya di mana? Kok dapat nyaring bunyinya? Kecuali, terkecuali tong itu dipukul. Baru deh menghasilkan getaran dan bunyinya terdengar nyaring. Apalagi terkecuali mukulnya di dekat gendang telinga teman kita. Nyaring banget pasti.

Medium Perantara

Seperti yang sudah ditulis di awal, gelombang ini butuh medium untuk dapat merambat hingga ke telinga kita. Bisa bersama udara, air, maupun gas. Makanya, di luar angkasa kami tidak dapat mendengarkan apa-apa. Soalnya, kan, di luar angkasa hampa udara.

Penerima Bunyi

Ini memahami dong. Untuk dapat “merasakan” bunyi, harus ada objek yang menjadi penerima. Maksudnya gimana tuh? Ya, maksudnya, harus ada orang di kurang lebih bunyi itu. Begini contohnya. Kamu tengah membaca tulisan ini, lalu di tengah-tengah membaca, kamu teriak, ‘AKU GANTENG ABIS!’

Di dalam ilmu fisika, bunyi yang kamu keluarkan baru dapat dianggap ada, andaikata ada orang lain yang mendengarkan suara teriakan kamu. Kalau kamu di rumah sendirian, berkenan teriak kayak apa juga orang lain tidak beranggap kamu mengeluarkan bunyi. Maka, suara kamu, tidak dianggap berbunyi.

Contoh lain, deh. Misalnya, kamu memirsa acara lawak di televisi. Di sebuah adegan, Sule memanggil Pak Haji Bolot.

‘Pak Haji, bantuin saya membuat kopi dong!’

‘Apa?’

‘Bantuin membuat kopi!’

‘Ha?’

‘BIKIN KOPI!’

‘Gimana?’

‘KOPI!’

‘Le… Ane berkenan membuat kopi nih. Ikut gak?’

‘AUK AH!’

Pada masalah di atas, ucapan Sule yang tidak terdengar oleh Pak Haji Bolot itu tidak dianggap ada sebab Pak Haji Bolot tidak mendengarnya.

Nah, itu dia penyebab bagaimana kami dapat mendengar bunyi. Jangan lupa ya, syarat terjadinya bunyi ada 3 hal.

Selengkapnya : https://www.biologi.co.id/